Selasa, 19 Juli 2016

(sang) Pencuri Al-qur'an



 Magrib telah mengambil alih senja. Lembayung yang beberapa saat lalu mewarnai semesta di Barat, kini perlahan membiru petang. Aku yang sebelumnya tengah sibuk membersihkan diri, kini telah rapi dengan sarung dan sajadah favoritku. Ya, sebentar lagi adzan magrib dan aku harus bergegas menuju masjid untuk mengumandangkan adzan, memanggil saudara-saudara muslim lainnya untuk segera melaksanakan ibadah bersama.
Aku Insan, pemuda desa yang kini sedang mencoba menggeluti dunia dakwah. Bukan langsung metamorfosis menjadi ustadz ataupun kyai, namun baru berusaha aktif di kegiatan Ikatan Remaja Masjid (IRMAS) untuk kepentingan kegiatan Islam di Kampung ini. Kondisi Iman dan kepercayaan para warga yang sebelumnya masih antah-berantah adalah alasan mengapa kini aku hobi melaksanakan kegiatan dakwah.
Berbicara masa lalu ketika umurku masih belasan tahun, iman warga kami sangatlah kacau. Kepercayaan tentang dukun dan roh-roh penolong masing sangatlah kental dan bahkan sudah dianggap kebutuhan wajib. Bagaimana tidak, sebagian besar warga lebih suka mengandalkan ramalan dukun untuk mengetahui rezeki dan jodoh maupun kesembuhan penyakit dibandingkan dengan ibadah. Hal ini seringkali menimbulkan konflik antar warga yang berujung kerusakan. Namun, para aktivis dakwah yang bekerja sama dengan tokoh agama sekitar tampaknya begitu kuat dalam menyebarkan syari’ah islam dan memperbaiki pemikiran-pemikiran warga yang telah rusak sehingga kini kondisi masyrarakat desa kami semakin membaik bahkan hilang dari kegiatan yang menimbulkan syirik.
Aku melangkah perlahan beriringan dengan beberapa warga lainnya menuju masjid sederhana dengan luas tak lebih dari 500 meter persegi yang berjarak sekitar 100 meter dari tempat tinggalku. Seperti biasa, terlebih dahulu kami harus melewati satu rumah yang terkesan gelap dan sunyi ketika magrib datang. Rumah kayu dengan tumbuhan beringin tua milik dukun terkenal desa kami itu seperti tak memiliki lampu untuk penerangan luar rumah. Terlebih lagi teriakan beberapa burung gagak yang sering berkeliaran terbang di sekitar rumah itu menambah kesan menakutkan. Ya, rumah itu adalah milik Mbok Parmi, dukun tua yang dulunya menjadi tempat favorit para warga. Namun semenjak dakwah islam semakin diterima di desa ini, Mbok Parmi beserta keluarganya telah dikucilkan dari pergaulan sekitar. Bahkan ketika kabar meninggalnya suami Mbok Parmi yang dikenal memiliki tubuh kebal itu sama sekali tidak mendapatkan perhatian dari warga dan semenjak dihentikannya aktivitas praktek perdukunan, hingga kini kondisi keluarga itu sepertinya tidak ada yang ingin mengetahuinya.
Adzan ku kumandangkan cukup keras dan sesaat beberapa warga lainnya mulai hadir memasuki masjid. Kaki-kaki suci itu satu persatu mulai bersila dan sejajar shaff untuk menunggu dimulainya ibadah bersama. Alhamdulillah, iman mereka semakin tinggi dan masjid tak pernah sepi dari keramaian warga yang antusias datang sholat berjama’ah.
Seperti biasa, selepas sholat magrib berjama’ah kami selalu membiasakan untuk mengadakan tadarus Al-qur’an bersama sembari menunggu tiba waktu Isya’. Tilawah-tilawah merdu selalu dilantunkan fasih untuk meningkatkan ketenangan spiritual dari hati para warga. Tak jarang jika anak-anak yang baru belajar mengeja ayatpun ikut sekaligus mengajarkan kepada mereka tentang pentingnya mengaji Al-qur’an.
***
Fajar memang sering dikenal dengan waktu dingin. Sholat subuh menjadi tantangan terbesar sebagian besar umat muslim untuk melawan bisikan malas dan tak tanggung-tanggung mereka yang mengabaikan kewajiban di waktu ini meninggalkan ibadah wajib mereka dengan mudah. Tampaknya hal ini tidak berlaku untuk warga kami. Meskipun tampak rasa ngantuk di raut wajah mereka, namun para fii sabilillah ini tak pernah absen mengunjungi masjid kami.
Selepas sholat subuh, dilanjutkan dengan kajian rohani rutin yang dihadiri pengurus IRMAS dan beberapa warga yang bersedia. Setelah kajian usai disambung oleh ketua IRMAS untuk memimpin jalannya diskusi membahas kegiatan dakwah terdekat. Di tengah jalannya diskusi, Ustadz Rahmat memanggilku untuk menanyakan sesuatu.
“Insan, kesini sebentar..” panggil beliau.
“Na’am ustadz, ada yang bisa saya bantu?” jawabku segera sembari mendekat ke arah beliau berdiri.
“Begini, tadi saya kembali memeriksa Al-qur’an yang ditata di rak depan dan jumlahnya kembali berkurang, kira-kira kenapa selalu begitu?” beliau bertanya dengan wajah sedikit bingung.
“Afwan ustadz, saya juga kurang tahu. Tadi malam kami hanya tadarus seperti biasa dan setelah selesai saya kembali menata rapi dengan jumlah yang masih sama. Tapi memang aneh, sudah tiga hari ini Al-qur’an di masjid kita semakin berkurang padahal sudah saya hitung dengan benar.” Jawabku yang juga menunjukkan ekspresi bingung.
“Ya sudah tidak apa-apa, mungkin ada warga yang belum memiliki Al-qur’an dan hendak memilikinya di rumah mereka. Kita do’akan saja semoga Al-qur’an – Al-qur’an yang diambil itu bermanfaat dan dipergunakan dengan semestinya. Ya sudah, silahkan dilanjutkan diskusinya, syukron ya..” sahut Ustadz Rahmat memaklumi dan kembali mempersilahkan diriku ikut bergabung melanjutkan pembahasan diskusi.
“Afwan ustadz” Aku kembali duduk bergabung dengan teman-teman pengurus namun sejujurnya aku masih menyimpan perasaan bingung dan penasaran.
Memang beberapa hari terakhir ini, Al-qur’an di masjid sering berkurang. Jika dihitung, dalam tiga hari ini sudah ada tiga buah Al-qur’an yang hilang dari dua puluh lima jumlah Al-qur’an yang ada padahal sudah aku tata rapi dan ku hitung dengan benar seusai tadarus dan mengaji untuk memastikan kitab-kitab itu kembali tersusun dengan baik. Namun, tanpa disadari ketika subuh aku kembali cek, jumlahnya selalu berkurang satu. Hal ini menjadi pikiranku dan Ustadz Rahmat yang mencoba untuk mencari tahu masalah ini.
***
Selepas sholat magrib berikutnya, kami tilawah bersama warga seperti biasa. Ustadz Rahmat yang ketika itu mengikuti kegiatan mengaji kami menyela sebentar untuk memberitahuan sesuatu kepada warga yang ada. Beliau memberikan informasi mengenai kejadian akhir-akhir ini tentang masjid yang sering kehilangan Al-qur’an dan menghimbau warga untuk menjaga dengan baik Al-qur’an yang ada serta kembali menata dengan rapi seusai mengaji. Sempat terjadi kebingungan pula oleh beberapa warga yang heran tentang berita kehilangan kitab ini. Pasalnya, bukankah biasanya orang lebih suka mencuri uang dan harta daripada mengambil Al-qur’an. Namun siapa sangka, ketika subuh aku kembali menghitung jumlah Al-qur’an di rak dan kali ini dua diantaranya hilang.
“Assalamu’alaikum ustadz..” aku menyapa ustadz Rahmat dan bersalaman dengan beliau ketika tampak beliau hendak pulang seusai kajian.
“Wa’alaikumsalam Insan, bagaimana? Sudah kamu hitung kembali Al-qur’annya?” ustadz Rahmat menanyakan hal yang ingin aku sampaikan hingga timbul rasa takut pada diriku untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
“Emmm..Anu..Afwan ustadz, lagi-lagi berkurang dan kali ini kita kembali kehilangan dua Al-qur’an” jawabku ragu dan menunduk karena merasa bersalah tak bisa menjaga kitab-kitab itu dengan baik.
“Owalah, kok saya heran ya soalnya tadi malam pas kita sampaikan kabar ini ke warga yang ikut tadarus, mereka mengaku tidak ada yang mengambil Al-qur’an itu. Lalu siapa?” timbul pertanyaan dari beliau yang juga belum mampu aku jawab.
“Saya juga bingung ustadz. Atau begini saja, biar nanti malam saya tidur di masjid siapa tahu bisa ketemu siapa yang sebenarnya sering mengambil Al-qur’an itu ketika malam hari. Apa ustadz Rahmat mengizinkan?” pintaku.
“Lhaahh, apa ndak apa-apa kamu menginap di masjid?” Tanya beliau memastikan.
“Ndak apa-apa ustadz. Lagian saya juga kan tinggal sendiri di rumah, jadi ndak ada yang cari, hehe..” jawabku mengiyakan keinginanku.
“Ya sudah kalau begitu” ustadz Rahmat mengizinkan.
“Jazakallah ustadz, semoga segera diketahui pelakunya” ucapku dan segera kami melangkah keluar masjid untuk menuju rumah kami.
Aku melangkah perlahan sambil bersolawat. Setibaku di rumah Mbok Parmi, aku memperlambat langkahku. Suasana rumah itu masih sangat sepi meskipun hari sudah menjelang pagi. Apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga itu? Semenjak praktek perdukunan dihilangkan dari desa, semua orang serasa tak mau tahu tentang keadaan maupun kabar yang dialami keluarga mereka. Sempat aku melihat ketika putra Mbok Parmi, Sumantra atau yang biasa disapa Maman meminta bantuan kepada warga tentang kondisi keluarganya yang semakin susah. Namun, warga yang sengaja mengucilkan keluarga tersebut sama sekali tidak peduli dan tidak ada niat menolong permintaan Maman.
Maman adalah satu-satunya anak Mbok Parmi. Bocah yang berusia sekitar 7 tahun itu masih tampak polos meskipun memiliki orang tua seorang dukun. Jika dilihat dari perilakunya, tidak ada tanda-tanda ia meniru orang tuanya. Bahkan sempat ia meminta izin untuk ikut belajar mengaji namun banyak warga yang menolak dan mengancam akan melukainya kalau ia nekad bergabung dengan aktivitas mengaji kami. Meskipun iba, namun sejujurnya aku juga menyimpan rasa dendam pada keluarganya. Bagaimana tidak, kedua orang tuaku juga meninggal akibat praktek perdukunan Mbok Parmi. Namun, ustadz Rahmat menguatkan diriku bahwa semua adalah kehendak Allah yang sudah menetapkan umur hamba-Nya.
Ketika hendak membuka pintu rumah, Pak Kalim salah satu tetangga rumah memanggil dan menghampiriku.
“Insan, tentang kabar hilangnya Al-qur’an di masjid juga dialami beberapa warga disini. Bapak dan beberapa tetangga lain juga kehilangan Al-qur’an di rumah ketika kami hendak mengaji tadi subuh. Bagaimana ini, ternyata ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kita harus mencari siapa pelakunya” beliau mengabarkan padaku dengan tampak emosi.
“Apa benar pak?” tanyaku heran sambil kembali menutup pintu. Sepertinya kabar kehilangan Al-qur’an ini semakin meluas. Tidak hanya di masjid, namun beberapa warga juga merasa kehilangan kitabnya dari rumah mereka. Aku meminta izin pak Kalim untuk memasuki rumah dan memberi tahu beliau tentang rencanaku untuk menginap di masjid malam ini.
***
Malam semakin larut, aku yang sedari tadi membaca Al-qur’an di masjid sudah merasa semakin dingin. Aku menutup Al-qur’an yang kupegang dan kembali menatanya di rak seperti biasa. Aku kembali menghitung, jumlahnya tepat dua puluh kitab. Aku menghela nafas dan sontak menutup kepalaku dengan sarung karena dingin. Aku duduk menghadap kiblat dengan kepala yang terkadang menunduk paksa karena menahan ngantuk hingga akhirnya aku merebahkan tubuhku di lantai beralaskan karpet biru dan sajadah untuk tempatku tidur.
Pukul 02.15 dini hari. Aku terbangun dan menuju tempat wudhu untuk melaksanakan sholat tahajjud. Sepertiga malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Seusai dari tempat wudhu menuju dalam masjid, aku melihat ada seseorang di dalamnya.
“Sepertinya…” Aku berbisik dalam hati dan berjalan mengendap-endap ke dalam masjid. Tampak seorang bocah disana yang tengah sibuk memegang Al-qur’an yang tersusun di rak depan.
“Hey…” panggilku yang kemudian membuatnya kaget dan menolah ke arahku. Ternyata Maman, anak Mbok Parmi. Wajahnya mulai ketakutan melihatku dan hendak berlari menghindariku. Aku mendekat ke arahnya untuk menanyakan sesuatu, namun ia langsung berlari keluar hingga menjatuhkan beberapa Al-qur’an di lantai. Aku hendak mengejarnya namun karena larinya yang begitu cepat sehingga aku kembali ke dalam untuk menata kembali kitab-kitab yang sempat terjatuh itu.
Aku beranggapan bahwa anak itulah yang selama ini mengambil Al-qur’an – Al-qur’an di masjid ini dan ketika subuh, aku menceritakan kejadian ini kepada ustadz Rahmat dan beberapa warga yang tak sengaja mendengar kabar ini tampak emosi dan langsung yakin dengan tuduhanku.
“Ternyata kecurigaan kami selama ini benar, keluarga dukun itulah yang mencuri Al-qur’an itu. Mereka tidak suka dengan Islam yang sudah berkembang di desa kita” ucap keras emosi salah satu warga.
“Kalau begitu, pagi nanti kita serbu rumah mereka dan kita usir keluarga dukun itu dari desa kita” sahut warga lainnya. Aku yang saat itu ingin meredakan emosi warga merasa kesulitan dan akhirnya rencana merekapun tidak dapat aku cegah.
***
Langit masih pucat membiru, dingin masih terasa menari pada semesta pagi. Aku merasakan kekhawatiran mendalam tentang rencana warga pagi ini. Kemungkinan sebentar lagi mereka akan berbondong-bondong mendatangi rumah kayu berjarak sekitar 50 meter dari gubukku. Ya, rumah Mbok Parmi itu akan dihujani emosi para warga karena ulah anaknya. Apa benar dugaan bahwa mereka tidak menyukai Islam yang telah berkembang baik di kampung ini?
Benar dugaanku, kekhawatiran itu terjawab pada tepat pukul 07:00. Begitu ramai warga yang mendatangi rumah itu. Dengan koar-koar emosi warga, pagi ini terasa suram. Aku bergegas memakai ulang sarung yang masih bergantung di tubuhku dan segera ikut mendatangi kerumunan manusia itu. Tampak ustadz Rahmat disana, beliau terkesan hanya ingin mendampingi.
Aku mencoba masuk dalam kemununan warga dan menuju pada baris depan. Terlihat Maman yang sebelumnya memang tengah asyik main di luar, kini tak mampu untuk kabur ke dalam rumah. Dia tampak diam ketakutan, namun tak terlihat Mbok Parmi disana.
“Maman, apa benar kamu yang mengambil beberapa Al-qur’an yang belakangan ini hilang dari masjid? Untuk apa kamu melakukan itu?” ustadz Rahmat memulai percakapan.
“Alaahhh, paling emaknya yang suruh. Dia pengen kita kayak dulu lagi yang percaya dengan dukun dan meninggalkan Islam. Sudah usir saja !” sahut Pak Kunto, salah satu warga yang sepertinya menjadi provokator dalam aksi ini. Keinginan mengusir keluarga Maman mendapat dukungan dari semua warga yang hadir dalam keramain pagi itu. Maman hanya diam, sesekali ia berguman tak jelas, sesekali mengusap air mata.
“Maman, tolong jawablah” paksaku pada anak itu. Aku yang sebenarnya merasa prihatin dengan kondisinya yang masih anak-anak namun ia harus mendapatkan hujatan dari warga karena orang tuanya, terlebih karena ulahnya mengambil kitab itu menambah kebencian orang-orang terhadapnya.
“Aku, sebenarnya…” Maman mulai menjawab.
“Bukan maksudku untuk mencuri Al-qur’an – Al-qur’an itu. Bukan maksudku untuk menghilangkan Islam di desa ini, Tapi…” Kembali ia terdiam karena teriakan warga yang menolaknya beralasan. Ustadz Rahmat mencoba untuk menenangkan warga dan memberikan kesempatan Maman untuk memberikan keterangan.
“Aku tidak tahu lagi bagaimana harus menolong Emak. Sudah seminggu Emak sakit aneh, aku takut. Tubuhnya bergetar dan nafasnya tidak beraturan. Sepertinya Emak mau meninggal tapi mendapatkan kesulitan. Aku sering meminta warga untuk menolong tapi tidak ada yang peduli denganku. Aku takut.” Ia mulai bercerita. Hal ini membuat kami penasaran dan kami masuk untuk melihat kondisi Mbok Parmi.
Aku kaget dengan ruangan dimana Mbok Parmi berbaring. Gelap dan masih sedikit tercium bau kemenyan yang dibakar. Namun, kondisi Mbok Parmi sangat memperihatinkan. Ia menjerit dengan kehadiran kami. Tubuhnya bergetar hebat dan tanganya sesekali menghantam tempat tidurnya. Tampak banyak sekali Al-qur’an yang ditata rapi mengelilingi tempat berbaringnya. Aku heran dengan hal itu.
“Aku pernah mendengar bahwa bacaan Al-qur’an bisa menenangkan hati dan mencegah keburukan. Sebenarnya aku ingin meminta kalian untuk menolong Emak dengan membacakan do’a Islam, siapa tahu Emak bisa sembuh. Tapi tidak ada satupun dari kalian yang mau menolongku. Aku bingung bagaimana cara menolong Emak sedangkan aku sendiri tidak bisa membaca Al-qur’an karena aku ditolak untuk ikut belajar mengaji bersama anak-anak lainnya.” Lanjutnya. Maman terlihat menangis dan menunduk karena masih merasa ketakutan, kemudian ia melanjutnya ceritanya.
“Aku mencari cara supaya kalian mau mendatangi rumahku dan aku terpaksa mencuri Al-qur’an itu dari masjid dan menatanya disekeliling Emak, siapa tahu Emak bisa lebih baik tapi ternyata tidak. Aku mengambil lebih banyak Al-qur’an supaya kalian sadar tentang kehilangan kitab-kitab itu. Setelah kak Insan mengetahui akulah pelakunya, aku sedikit senang karena sebentar lagi kalian akan datang ke rumah meskipun dengan marah-marah. Sekarang kalian sudah tahu kebenarannya dan aku mohon kalian untuk menolong Emak. Pak Ustadz aku mohon tolong Emak, aku bersedia untuk dihukum asalnya Emak bisa ditolong, aku mohon Pak Ustadz !” Maman terlihat memohon sembari berjongkok dihadapan ustadz Rahmat dan semua warga terdiam, ada pula yang ikut menangis. Ustadz Rahmat mengiyakan.
Ustadz Rahmat menginstruksikan kami untuk mengambil Al-qur’an – Al-qur’an itu dan membacakan Q.S Yaasiin bersama-sama, Maman terlihat diam di pojok kanan. Tubuh Mbok Parmi semakin bergetar kuat dan sontak membuat Maman menjerit ketakutan. Selagi kami membacakan surat Yaasiin, ustadz Rahmat dengan khusyu’ membacakan do’a. Setelah 30 menit berlalu akhirnya Mbok Parmi menemui sakaratul maut. Tubuhnya terbujur kaku dan warga menutupinya dengan kain yang ada. Maman tampak sedih, namun ia berterimakasih kepada kami karena bersedia membantunya. Kini ia merasa tenang, meskipun akhirnya Emaknya meninggal tapi setidaknya Mbok Parmi tidak tersiksa lagi dalam menemui sakaratul maut.
Kesepakatan menghukum Maman telah dibatalkan. Bagaimanapun juga ia masih anak-anak, terlebih ia ternyata melakukan hal itu untuk menolong Emaknya. Wargapun ikut merasa bersalah karena selama ini terkesan tidak mau peduli dengan kondisi keluarga itu, hingga hal semacam ini terjadi. Kami sepakat untuk ikut merawat Maman karena kini ia sudah yatim piatu dan kami berjanji untuk membantunya menjadi anak yang lebih baik dengan mengajarinya Islam dan membaca kitab Al-qur’an.
*** 

Dari Mu'awiyah bin Hakam As-Sulamiy, ia berkata : Aku berkata, "Ya Rasulullah, ada beberapa hal yang biasa kami lakukan pada masa jahiliyah dahulu, yaitu kami biasa datang kepada dukun". Rasulullah SAW bersabda, "Jangan lagi kamu datang kepada dukun". Mu'awiyah berkata lagi : Aku berkata, "Kami juga biasa menganggap tanda-tanda kesialan". Rasulullah SAW bersabda, "Itu sesuatu yang tidak disukai oleh seseorang diantaramu pada dirinya, maka hal itu jangan sampai menghalangi kamu". [HR. Muslim]




0 komentar:

Posting Komentar