Magrib
telah mengambil alih senja. Lembayung yang beberapa saat lalu mewarnai semesta di
Barat, kini perlahan membiru petang. Aku yang sebelumnya tengah sibuk
membersihkan diri, kini telah rapi dengan sarung dan sajadah favoritku. Ya,
sebentar lagi adzan magrib dan aku harus bergegas menuju masjid untuk
mengumandangkan adzan, memanggil saudara-saudara muslim lainnya untuk segera
melaksanakan ibadah bersama.
Aku
Insan, pemuda desa yang kini sedang mencoba menggeluti dunia dakwah. Bukan
langsung metamorfosis menjadi ustadz ataupun kyai, namun baru berusaha aktif di
kegiatan Ikatan Remaja Masjid (IRMAS) untuk kepentingan kegiatan Islam di
Kampung ini. Kondisi Iman dan kepercayaan para warga yang sebelumnya masih antah-berantah
adalah alasan mengapa kini aku hobi melaksanakan kegiatan dakwah.
Berbicara
masa lalu ketika umurku masih belasan tahun, iman warga kami sangatlah kacau.
Kepercayaan tentang dukun dan roh-roh penolong masing sangatlah kental dan
bahkan sudah dianggap kebutuhan wajib. Bagaimana tidak, sebagian besar warga
lebih suka mengandalkan ramalan dukun untuk mengetahui rezeki dan jodoh maupun
kesembuhan penyakit dibandingkan dengan ibadah. Hal ini seringkali menimbulkan
konflik antar warga yang berujung kerusakan. Namun, para aktivis dakwah yang
bekerja sama dengan tokoh agama sekitar tampaknya begitu kuat dalam menyebarkan
syari’ah islam dan memperbaiki pemikiran-pemikiran warga yang telah rusak
sehingga kini kondisi masyrarakat desa kami semakin membaik bahkan hilang dari
kegiatan yang menimbulkan syirik.
Aku
melangkah perlahan beriringan dengan beberapa warga lainnya menuju masjid
sederhana dengan luas tak lebih dari 500 meter persegi yang berjarak sekitar
100 meter dari tempat tinggalku. Seperti biasa, terlebih dahulu kami harus
melewati satu rumah yang terkesan gelap dan sunyi ketika magrib datang. Rumah
kayu dengan tumbuhan beringin tua milik dukun terkenal desa kami itu seperti
tak memiliki lampu untuk penerangan luar rumah. Terlebih lagi teriakan beberapa
burung gagak yang sering berkeliaran terbang di sekitar rumah itu menambah
kesan menakutkan. Ya, rumah itu adalah milik Mbok Parmi, dukun tua yang dulunya
menjadi tempat favorit para warga. Namun semenjak dakwah islam semakin diterima
di desa ini, Mbok Parmi beserta keluarganya telah dikucilkan dari pergaulan
sekitar. Bahkan ketika kabar meninggalnya suami Mbok Parmi yang dikenal
memiliki tubuh kebal itu sama sekali tidak mendapatkan perhatian dari warga dan
semenjak dihentikannya aktivitas praktek perdukunan, hingga kini kondisi
keluarga itu sepertinya tidak ada yang ingin mengetahuinya.
Adzan
ku kumandangkan cukup keras dan sesaat beberapa warga lainnya mulai hadir
memasuki masjid. Kaki-kaki suci itu satu persatu mulai bersila dan sejajar shaff untuk menunggu dimulainya ibadah
bersama. Alhamdulillah, iman mereka
semakin tinggi dan masjid tak pernah sepi dari keramaian warga yang antusias
datang sholat berjama’ah.
Seperti
biasa, selepas sholat magrib berjama’ah kami selalu membiasakan untuk
mengadakan tadarus Al-qur’an bersama sembari menunggu tiba waktu Isya’.
Tilawah-tilawah merdu selalu dilantunkan fasih untuk meningkatkan ketenangan
spiritual dari hati para warga. Tak jarang jika anak-anak yang baru belajar
mengeja ayatpun ikut sekaligus mengajarkan kepada mereka tentang pentingnya
mengaji Al-qur’an.
***
Fajar
memang sering dikenal dengan waktu dingin. Sholat subuh menjadi tantangan
terbesar sebagian besar umat muslim untuk melawan bisikan malas dan tak
tanggung-tanggung mereka yang mengabaikan kewajiban di waktu ini meninggalkan
ibadah wajib mereka dengan mudah. Tampaknya hal ini tidak berlaku untuk warga
kami. Meskipun tampak rasa ngantuk di raut wajah mereka, namun para fii sabilillah ini tak pernah absen
mengunjungi masjid kami.
Selepas
sholat subuh, dilanjutkan dengan kajian rohani rutin yang dihadiri pengurus
IRMAS dan beberapa warga yang bersedia. Setelah kajian usai disambung oleh
ketua IRMAS untuk memimpin jalannya diskusi membahas kegiatan dakwah terdekat.
Di tengah jalannya diskusi, Ustadz Rahmat memanggilku untuk menanyakan sesuatu.
“Insan,
kesini sebentar..” panggil beliau.
“Na’am ustadz, ada yang bisa saya bantu?”
jawabku segera sembari mendekat ke arah beliau berdiri.
“Begini,
tadi saya kembali memeriksa Al-qur’an yang ditata di rak depan dan jumlahnya
kembali berkurang, kira-kira kenapa selalu begitu?” beliau bertanya dengan
wajah sedikit bingung.
“Afwan ustadz, saya juga kurang tahu.
Tadi malam kami hanya tadarus seperti biasa dan setelah selesai saya kembali
menata rapi dengan jumlah yang masih sama. Tapi memang aneh, sudah tiga hari
ini Al-qur’an di masjid kita semakin berkurang padahal sudah saya hitung dengan
benar.” Jawabku yang juga menunjukkan ekspresi bingung.
“Ya
sudah tidak apa-apa, mungkin ada warga yang belum memiliki Al-qur’an dan hendak
memilikinya di rumah mereka. Kita do’akan saja semoga Al-qur’an – Al-qur’an
yang diambil itu bermanfaat dan dipergunakan dengan semestinya. Ya sudah,
silahkan dilanjutkan diskusinya, syukron ya..” sahut Ustadz Rahmat memaklumi
dan kembali mempersilahkan diriku ikut bergabung melanjutkan pembahasan
diskusi.
“Afwan ustadz” Aku kembali duduk
bergabung dengan teman-teman pengurus namun sejujurnya aku masih menyimpan
perasaan bingung dan penasaran.
Memang
beberapa hari terakhir ini, Al-qur’an di masjid sering berkurang. Jika
dihitung, dalam tiga hari ini sudah ada tiga buah Al-qur’an yang hilang dari
dua puluh lima jumlah Al-qur’an yang ada padahal sudah aku tata rapi dan ku
hitung dengan benar seusai tadarus dan mengaji untuk memastikan kitab-kitab itu
kembali tersusun dengan baik. Namun, tanpa disadari ketika subuh aku kembali
cek, jumlahnya selalu berkurang satu. Hal ini menjadi pikiranku dan Ustadz
Rahmat yang mencoba untuk mencari tahu masalah ini.
***
Selepas
sholat magrib berikutnya, kami tilawah bersama warga seperti biasa. Ustadz
Rahmat yang ketika itu mengikuti kegiatan mengaji kami menyela sebentar untuk
memberitahuan sesuatu kepada warga yang ada. Beliau memberikan informasi
mengenai kejadian akhir-akhir ini tentang masjid yang sering kehilangan
Al-qur’an dan menghimbau warga untuk menjaga dengan baik Al-qur’an yang ada
serta kembali menata dengan rapi seusai mengaji. Sempat terjadi kebingungan
pula oleh beberapa warga yang heran tentang berita kehilangan kitab ini.
Pasalnya, bukankah biasanya orang lebih suka mencuri uang dan harta daripada
mengambil Al-qur’an. Namun siapa sangka, ketika subuh aku kembali menghitung
jumlah Al-qur’an di rak dan kali ini dua diantaranya hilang.
“Assalamu’alaikum ustadz..” aku menyapa
ustadz Rahmat dan bersalaman dengan beliau ketika tampak beliau hendak pulang
seusai kajian.
“Wa’alaikumsalam Insan, bagaimana? Sudah
kamu hitung kembali Al-qur’annya?” ustadz Rahmat menanyakan hal yang ingin aku
sampaikan hingga timbul rasa takut pada diriku untuk mengatakan hal yang
sebenarnya.
“Emmm..Anu..Afwan ustadz, lagi-lagi berkurang dan
kali ini kita kembali kehilangan dua Al-qur’an” jawabku ragu dan menunduk
karena merasa bersalah tak bisa menjaga kitab-kitab itu dengan baik.
“Owalah,
kok saya heran ya soalnya tadi malam pas kita sampaikan kabar ini ke warga yang
ikut tadarus, mereka mengaku tidak ada yang mengambil Al-qur’an itu. Lalu
siapa?” timbul pertanyaan dari beliau yang juga belum mampu aku jawab.
“Saya
juga bingung ustadz. Atau begini saja, biar nanti malam saya tidur di masjid
siapa tahu bisa ketemu siapa yang sebenarnya sering mengambil Al-qur’an itu
ketika malam hari. Apa ustadz Rahmat mengizinkan?” pintaku.
“Lhaahh,
apa ndak apa-apa kamu menginap di masjid?” Tanya beliau memastikan.
“Ndak
apa-apa ustadz. Lagian saya juga kan tinggal sendiri di rumah, jadi ndak ada
yang cari, hehe..” jawabku mengiyakan keinginanku.
“Ya
sudah kalau begitu” ustadz Rahmat mengizinkan.
“Jazakallah ustadz, semoga segera
diketahui pelakunya” ucapku dan segera kami melangkah keluar masjid untuk
menuju rumah kami.
Aku
melangkah perlahan sambil bersolawat. Setibaku di rumah Mbok Parmi, aku
memperlambat langkahku. Suasana rumah itu masih sangat sepi meskipun hari sudah
menjelang pagi. Apa yang sebenarnya terjadi pada keluarga itu? Semenjak praktek
perdukunan dihilangkan dari desa, semua orang serasa tak mau tahu tentang
keadaan maupun kabar yang dialami keluarga mereka. Sempat aku melihat ketika
putra Mbok Parmi, Sumantra atau yang biasa disapa Maman meminta bantuan kepada
warga tentang kondisi keluarganya yang semakin susah. Namun, warga yang sengaja
mengucilkan keluarga tersebut sama sekali tidak peduli dan tidak ada niat
menolong permintaan Maman.
Maman
adalah satu-satunya anak Mbok Parmi. Bocah yang berusia sekitar 7 tahun itu
masih tampak polos meskipun memiliki orang tua seorang dukun. Jika dilihat dari
perilakunya, tidak ada tanda-tanda ia meniru orang tuanya. Bahkan sempat ia
meminta izin untuk ikut belajar mengaji namun banyak warga yang menolak dan
mengancam akan melukainya kalau ia nekad bergabung dengan aktivitas mengaji
kami. Meskipun iba, namun sejujurnya aku juga menyimpan rasa dendam pada
keluarganya. Bagaimana tidak, kedua orang tuaku juga meninggal akibat praktek
perdukunan Mbok Parmi. Namun, ustadz Rahmat menguatkan diriku bahwa semua
adalah kehendak Allah yang sudah menetapkan umur hamba-Nya.
Ketika
hendak membuka pintu rumah, Pak Kalim salah satu tetangga rumah memanggil dan
menghampiriku.
“Insan,
tentang kabar hilangnya Al-qur’an di masjid juga dialami beberapa warga disini.
Bapak dan beberapa tetangga lain juga kehilangan Al-qur’an di rumah ketika kami
hendak mengaji tadi subuh. Bagaimana ini, ternyata ini tidak bisa dibiarkan
begitu saja. Kita harus mencari siapa pelakunya” beliau mengabarkan padaku
dengan tampak emosi.
“Apa
benar pak?” tanyaku heran sambil kembali menutup pintu. Sepertinya kabar
kehilangan Al-qur’an ini semakin meluas. Tidak hanya di masjid, namun beberapa
warga juga merasa kehilangan kitabnya dari rumah mereka. Aku meminta izin pak
Kalim untuk memasuki rumah dan memberi tahu beliau tentang rencanaku untuk
menginap di masjid malam ini.
***
Malam
semakin larut, aku yang sedari tadi membaca Al-qur’an di masjid sudah merasa
semakin dingin. Aku menutup Al-qur’an yang kupegang dan kembali menatanya di
rak seperti biasa. Aku kembali menghitung, jumlahnya tepat dua puluh kitab. Aku
menghela nafas dan sontak menutup kepalaku dengan sarung karena dingin. Aku
duduk menghadap kiblat dengan kepala yang terkadang menunduk paksa karena
menahan ngantuk hingga akhirnya aku merebahkan tubuhku di lantai beralaskan
karpet biru dan sajadah untuk tempatku tidur.
Pukul
02.15 dini hari. Aku terbangun dan menuju tempat wudhu untuk melaksanakan
sholat tahajjud. Sepertiga malam itu terasa lebih dingin dari biasanya. Seusai
dari tempat wudhu menuju dalam masjid, aku melihat ada seseorang di dalamnya.
“Sepertinya…”
Aku berbisik dalam hati dan berjalan mengendap-endap ke dalam masjid. Tampak
seorang bocah disana yang tengah sibuk memegang Al-qur’an yang tersusun di rak
depan.
“Hey…”
panggilku yang kemudian membuatnya kaget dan menolah ke arahku. Ternyata Maman,
anak Mbok Parmi. Wajahnya mulai ketakutan melihatku dan hendak berlari
menghindariku. Aku mendekat ke arahnya untuk menanyakan sesuatu, namun ia
langsung berlari keluar hingga menjatuhkan beberapa Al-qur’an di lantai. Aku
hendak mengejarnya namun karena larinya yang begitu cepat sehingga aku kembali
ke dalam untuk menata kembali kitab-kitab yang sempat terjatuh itu.
Aku
beranggapan bahwa anak itulah yang selama ini mengambil Al-qur’an – Al-qur’an
di masjid ini dan ketika subuh, aku menceritakan kejadian ini kepada ustadz
Rahmat dan beberapa warga yang tak sengaja mendengar kabar ini tampak emosi dan
langsung yakin dengan tuduhanku.
“Ternyata
kecurigaan kami selama ini benar, keluarga dukun itulah yang mencuri Al-qur’an
itu. Mereka tidak suka dengan Islam yang sudah berkembang di desa kita” ucap
keras emosi salah satu warga.
“Kalau
begitu, pagi nanti kita serbu rumah mereka dan kita usir keluarga dukun itu
dari desa kita” sahut warga lainnya. Aku yang saat itu ingin meredakan emosi
warga merasa kesulitan dan akhirnya rencana merekapun tidak dapat aku cegah.
***
Langit
masih pucat membiru, dingin masih terasa menari pada semesta pagi. Aku
merasakan kekhawatiran mendalam tentang rencana warga pagi ini. Kemungkinan
sebentar lagi mereka akan berbondong-bondong mendatangi rumah kayu berjarak
sekitar 50 meter dari gubukku. Ya, rumah Mbok Parmi itu akan dihujani emosi
para warga karena ulah anaknya. Apa benar dugaan bahwa mereka tidak menyukai
Islam yang telah berkembang baik di kampung ini?
Benar
dugaanku, kekhawatiran itu terjawab pada tepat pukul 07:00. Begitu ramai warga
yang mendatangi rumah itu. Dengan koar-koar emosi warga, pagi ini terasa suram.
Aku bergegas memakai ulang sarung yang masih bergantung di tubuhku dan segera
ikut mendatangi kerumunan manusia itu. Tampak ustadz Rahmat disana, beliau
terkesan hanya ingin mendampingi.
Aku
mencoba masuk dalam kemununan warga dan menuju pada baris depan. Terlihat Maman
yang sebelumnya memang tengah asyik main di luar, kini tak mampu untuk kabur ke
dalam rumah. Dia tampak diam ketakutan, namun tak terlihat Mbok Parmi disana.
“Maman,
apa benar kamu yang mengambil beberapa Al-qur’an yang belakangan ini hilang
dari masjid? Untuk apa kamu melakukan itu?” ustadz Rahmat memulai percakapan.
“Alaahhh,
paling emaknya yang suruh. Dia pengen kita kayak dulu lagi yang percaya dengan
dukun dan meninggalkan Islam. Sudah usir saja !” sahut Pak Kunto, salah satu
warga yang sepertinya menjadi provokator dalam aksi ini. Keinginan mengusir
keluarga Maman mendapat dukungan dari semua warga yang hadir dalam keramain
pagi itu. Maman hanya diam, sesekali ia berguman tak jelas, sesekali mengusap
air mata.
“Maman,
tolong jawablah” paksaku pada anak itu. Aku yang sebenarnya merasa prihatin
dengan kondisinya yang masih anak-anak namun ia harus mendapatkan hujatan dari
warga karena orang tuanya, terlebih karena ulahnya mengambil kitab itu menambah
kebencian orang-orang terhadapnya.
“Aku,
sebenarnya…” Maman mulai menjawab.
“Bukan
maksudku untuk mencuri Al-qur’an – Al-qur’an itu. Bukan maksudku untuk
menghilangkan Islam di desa ini, Tapi…” Kembali ia terdiam karena teriakan
warga yang menolaknya beralasan. Ustadz Rahmat mencoba untuk menenangkan warga
dan memberikan kesempatan Maman untuk memberikan keterangan.
“Aku
tidak tahu lagi bagaimana harus menolong Emak. Sudah seminggu Emak sakit aneh,
aku takut. Tubuhnya bergetar dan nafasnya tidak beraturan. Sepertinya Emak mau
meninggal tapi mendapatkan kesulitan. Aku sering meminta warga untuk menolong
tapi tidak ada yang peduli denganku. Aku takut.” Ia mulai bercerita. Hal ini
membuat kami penasaran dan kami masuk untuk melihat kondisi Mbok Parmi.
Aku
kaget dengan ruangan dimana Mbok Parmi berbaring. Gelap dan masih sedikit
tercium bau kemenyan yang dibakar. Namun, kondisi Mbok Parmi sangat
memperihatinkan. Ia menjerit dengan kehadiran kami. Tubuhnya bergetar hebat dan
tanganya sesekali menghantam tempat tidurnya. Tampak banyak sekali Al-qur’an
yang ditata rapi mengelilingi tempat berbaringnya. Aku heran dengan hal itu.
“Aku
pernah mendengar bahwa bacaan Al-qur’an bisa menenangkan hati dan mencegah
keburukan. Sebenarnya aku ingin meminta kalian untuk menolong Emak dengan
membacakan do’a Islam, siapa tahu Emak bisa sembuh. Tapi tidak ada satupun dari
kalian yang mau menolongku. Aku bingung bagaimana cara menolong Emak sedangkan
aku sendiri tidak bisa membaca Al-qur’an karena aku ditolak untuk ikut belajar
mengaji bersama anak-anak lainnya.” Lanjutnya. Maman terlihat menangis dan
menunduk karena masih merasa ketakutan, kemudian ia melanjutnya ceritanya.
“Aku
mencari cara supaya kalian mau mendatangi rumahku dan aku terpaksa mencuri
Al-qur’an itu dari masjid dan menatanya disekeliling Emak, siapa tahu Emak bisa
lebih baik tapi ternyata tidak. Aku mengambil lebih banyak Al-qur’an supaya
kalian sadar tentang kehilangan kitab-kitab itu. Setelah kak Insan mengetahui
akulah pelakunya, aku sedikit senang karena sebentar lagi kalian akan datang ke
rumah meskipun dengan marah-marah. Sekarang kalian sudah tahu kebenarannya dan
aku mohon kalian untuk menolong Emak. Pak Ustadz aku mohon tolong Emak, aku
bersedia untuk dihukum asalnya Emak bisa ditolong, aku mohon Pak Ustadz !”
Maman terlihat memohon sembari berjongkok dihadapan ustadz Rahmat dan semua warga
terdiam, ada pula yang ikut menangis. Ustadz Rahmat mengiyakan.
Ustadz
Rahmat menginstruksikan kami untuk mengambil Al-qur’an – Al-qur’an itu dan
membacakan Q.S Yaasiin bersama-sama, Maman terlihat diam di pojok kanan. Tubuh
Mbok Parmi semakin bergetar kuat dan sontak membuat Maman menjerit ketakutan.
Selagi kami membacakan surat Yaasiin, ustadz Rahmat dengan khusyu’ membacakan
do’a. Setelah 30 menit berlalu akhirnya Mbok Parmi menemui sakaratul maut.
Tubuhnya terbujur kaku dan warga menutupinya dengan kain yang ada. Maman tampak
sedih, namun ia berterimakasih kepada kami karena bersedia membantunya. Kini ia
merasa tenang, meskipun akhirnya Emaknya meninggal tapi setidaknya Mbok Parmi
tidak tersiksa lagi dalam menemui sakaratul maut.
Kesepakatan
menghukum Maman telah dibatalkan. Bagaimanapun juga ia masih anak-anak,
terlebih ia ternyata melakukan hal itu untuk menolong Emaknya. Wargapun ikut
merasa bersalah karena selama ini terkesan tidak mau peduli dengan kondisi
keluarga itu, hingga hal semacam ini terjadi. Kami sepakat untuk ikut merawat
Maman karena kini ia sudah yatim piatu dan kami berjanji untuk membantunya
menjadi anak yang lebih baik dengan mengajarinya Islam dan membaca kitab
Al-qur’an.
***
Dari Mu'awiyah bin Hakam
As-Sulamiy, ia berkata : Aku berkata, "Ya Rasulullah, ada beberapa hal
yang biasa kami lakukan pada masa jahiliyah dahulu, yaitu kami biasa datang
kepada dukun". Rasulullah SAW bersabda, "Jangan lagi kamu datang
kepada dukun". Mu'awiyah berkata lagi : Aku berkata, "Kami juga biasa
menganggap tanda-tanda kesialan". Rasulullah SAW bersabda, "Itu
sesuatu yang tidak disukai oleh seseorang diantaramu pada dirinya, maka hal itu
jangan sampai menghalangi kamu". [HR. Muslim]




0 komentar:
Posting Komentar