“...Banyak cara untuk berbagi namun
tak banyak orang mampu melakukannya dengan ikhlas. Berbagi memang bukan hal
yang mudah apalagi ketika kita juga merasakan kesusahan. Makna memberi dan
berbagi kadang bisa dikatakan sama, namun untuk beberapa orang mereka
membedakan kedua kata tersebut. Dan dalam suatu perjalanan istimewa, aku
menyadari makna memberi dan berbagi yang sebenarnya...”
***
(pekik)...
“Ayo dong, buruan jalan. Sudah sore
niihhh !” teriak penumpang bis dari arah kursi paling belakang. “Iya keburu
magrib, ntar ujung-ujungnya buka di jalan !” sahut ibu-ibu muda dari arah kursi
kanan yang juga terlihat sedikit kesal. Tak mau sampai kalah, satu demi satu
penumpang lain ikut berkoar dan membuat suasana dalam bis semakin tak karuan.
Ya. Saat ini kami tengah berada
dalam bis umum arah Semarang – Kudus dan seluruh penumpang tentunya mempunyai
tujuan yang sama sepertiku yakni ingin cepat-cepat sampai ke rumah sebelum
waktu berbuka tiba. Namun karena jumlah penumpang yang bisa dikatakan belum
memenuhi 1/2 N+1 dari kuota kursi yang ada, sang sopir masih dengan santainya
memarkirkan bis di pojok kiri terminal Demak ketika sampai disana. Awalnya
mungkin seisi bis masih dapat dikontrol namun setelah kurang lebih 45 menit
lamanya kami menunggu hampa, alhasil satu demi satu penumpang bis mulai
mengeluarkan orasinya. Tak bisa dipungkiri, akupun merasakan hal yang sama.
Menunggu sepi didalam bis rasanya bukan sesuatu yang menyenangkan. Terbesit
dalam benakku untuk turun dan melanjutkan perjalanan sendiri, namun itu hal
yang mustahil mengingat jarak Demak – Kudus yang masih terbilang jauh.
Panggil saja aku Imran, salah satu
mahasiswa Universitas Diponegoro yang juga sebagai pendatang di Semarang. Sudah
dua bulan lamanya aku tak pulang ke rumah dan rasa ingin kembali bertemu
keluarga sudah pasti ada. Meskipun lokasi antara Kudus dan Semarang tak sejauh
teman-temanku di luar Jawa, namun karena berbagai kesibukan kuliah dan
organisasi membuatku harus lebih berlama-lama berada di kampus. Saat ini sudah
7 hari Ramadhan berjalan dan kebetulan jadwal akademik tengah berada pada
minggu tenang menjelang UAS sehingga memberikanku kesempatan beberapa hari
untuk bisa menginjakkan kaki di kampung halaman.
Sebenarnya lokasi antara Kudus dan
Semarang dapat ditempuh kurang lebih selama 3 jam perjalanan bis, namun
entahlah sepertinya sore ini bisa dibilang waktu tempuh perjalanan paling lama
yang pernah aku rasakan. Sialnya, aku pamit dari kontrakan sudah terlalu sore
sehingga diperkirakan aku akan menjumpai magrib ditengah perjalanan. Kondisi
puasa menjadikan suasana sekitar semakin kurang mendukung, apalagi ditambah
sopir bis yang dari 45 menit yang lalu tak kunjung memutar gas mesinnya
sehingga membuat kami para penumpang semakin kesal. Padahal kalau boleh jujur,
selama berhenti di terminal ini kami hanya mendapati dua penumpang baru dan itu
belum membuat sang sopir puas.
Jam sudah menunjukkan pukul 16.48
dan waktu tempuh dari terminal Demak ke Kudus kurang lebih 1 jam sehingga bisa
dipastikan kami mendapati magrib di jalan. Aku melirik dari balik kaca bis dan
tampak sopir bersama keneknya dengan semangat sepertinya tengah asik
membicarakan sesuatu yang menyenangkan, terbukti dari wajah mereka yang
terlihat bergembira. Namun kegembiraan itu tak kami dapatkan. Yang ada, aku
harus mendengarkan ocehan-ocehan dari ibu-ibu dari arah kursi belakang. Paduan
suara dari dalam bis terdengar begitu nyaring sampai-sampai memaksaku untuk
membuka tas dan mengambil headset kecilku untuk dipasang sebagai penutup
telinga. Sedikit menyebalkan memang namun paling tidak bisa memberikanku
sedikit kenyamanan. Perlahan aku merasa semakin nyaman dan semua tampak semakin
hening.
Entah sudah berapa lama aku hilang
kesadaran, ternyata kudapati bis tengah berjalan. Oh, ternyata tadi aku
tertidur dan tak menyadari bahwa kami sudah hampir sampai. Aku menoleh kearah
kanan dan tampak seorang bapak-bapak berusia sekitar 40 tahunan berjaket hitam
sedang duduk di sampingku. Ia tampak terdiam tenang sehingga akupun tak banyak
berbicara.
***
Benar dugaanku. Pukul 17.40 kami
sampai di terminal Kudus dan roda bis yang kami tumpangi memperlambat
putarannya. Pintu bis terbuka dan gerombolan kaki manusia mulai berebut keluar
tanpa aba-aba. Di tempat ini, manusia semakin banyak saja dan aku melangkahkan
kaki menuju dekat lampu merah dengan niat ingin kembali melanjutkan perjalanan
menggunakan taksi. Aku mengubah posisi tas punggungku untuk aku pakai di depan.
Tangan kananku membuka resleting bagian depan tas dan berencana mengambil
dompetku. Ternyata tak kutemukan keberadaannya. Awalnya aku biasa saja dan
kembali mencarinya di bagian tas yang lain. Semua bagian tas sudah aku telusuri
dan tampaknya memang dompet itu tidak ada. Aku mulai resah dan menurunkan tas
itu kemudian mencoba untuk mencarinya dengan perlahan.
“Astagfirullah... dompetku
hilang” bisikku dalam hati sambil mataku melirik kearah sekitar. Seingatku
setelah tadi bayar ongkos tumpangan bis aku menaruh kembali dibagian tas paling
depan dan saat ini sudah tidak ada. Meskipun isinya hanya KTP dan selembar uang
seratus ribu dan beberapa lembar lima ribuan, namun itu satu-satunya modal
untukku naik transportasi ke rumah. Sempat terbesit dalam pikiranku bahwa
laki-laki di sampingku ketika di dalam bis tadi adalah pelakunya, namun aku
hilangkan pikiran itu untuk tidak seudzon kepada orang.
“Allahu Akbar.. Allahu Akbar...”
“Allahu Akbar.. Allahu Akbar...”
Adzan magrib sudah berkumandang dan
aku menjadi semakin bingung. Dalam kondisi seperti ini akupun tak punya bekal
untuk berbuka sehingga aku hanya diam memandang lalu-lalang orang sekitar. Aku
hanya berdiri ditepi jalan tak jauh dari lampu merah dan tak tahu ingin berbuat
apa. Tiba-tiba seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun memegang tangan
kananku sehingga mambuatku kaget.
“Kak, kakak ngapain disini ? kakak
belum buka puasa ya? Ayo kak ikut Adam, kita buka puasa sama-sama” sapa bocah
polos tengah memandangku mengajakku untuk berbuka bersamanya. Kondisi fisiknya
begitu memprihatinkan dengan kaos lusuh yang aku yakin awalnya berwarna putih.
Pikirku, apakah anak ini yakin hendak mengajakku berbuka bersama.
“Ha? Aku gak punya uang dek, nanti
saja kakak berbuka di rumah” jawabku menolak karena mau bagaimana karena memang
aku saat ini tak punya apa-apa”
“Ikut Adam dulu, ayo !” anak itu
tetap mengajakku bersamanya. Ternyata tak jauh dari tempat itu, ia mengajakku
parkir di sebuah teras toko elektronik yang tengah tutup beralaskan kardus
bekas. Terlihat seorang wanita yang juga tampak duduk disana. Sempat kaget
dengan kondisi wanita tersebut dimana secara fisik ia tidak memiliki kedua
tangan dan hanya menatap kedatangan kami kearahnya.
“Kamu sepertinya tampak bingung
ketika kami amati dari sini, rumahmu dimana?” sapa wanita itu dengan senyum
ramah.
“rumah saya di gang sari deket pasar
bu” jawabku sedikit canggung.
“Oh, lumayan jauh ya. Yasudah mari
berbuka dulu bersama kami. Dari adzan tadi kamu terlihat belum membatalkan
puasamu” kembali ia menawarkan dengan senyum. Bocah tadi tampak dengan semangat
mengambil air dalam botol kemasan milikknya dan berkomat kamit baca doa sontak
ia segera menuangkan dalam mulutnya. Setelah itu, disusul oleh wanita itu yang
aku yakini adalah ibunya juga segera membatalkan puasanya. Aku terdiam dan tak
tahu harus berbuat apa. Terlihat mereka hanya memiliki dua kemasan botol, satu
bungkus nasi dan dua buah kerupuk dalam plastik.
“Mari minum, kamu ambi air di botol
yang satunya” perlahan si anak mengambilkan botol kemasan yang dari awal belum
mereka buka kemudian memaksaku untuk tidak menolak. Dengan bismillah aku
meminum air itu dan lega sudah tenggorokanku yang sudah kering seharian tadi.
Aku masih belum yakin bagaimana aku tega ikut berbuka puasa bersama mereka yang
terlihat hanya mempunyai minim makanan berbuka.
Aku memang lebih banyak diam dan mengamati
aktivitas mereka. Sempat wanita itu menawarkanku untuk ikut makan bersama dalam
satu bungkus nasi berisikan satu buah telur didalamnya namun aku menolak dan
mempersilahkan mereka untuk makan berdua. Aku kembali diam mengamati perilaku
mereka. Apalagi yang paling membuatku terharu adalah perilaku anak itu yang
ketika makan rela menyuapkan segenggam nasi untuk ibunya. Aku sempat merunduk
mendongak ke atas menahan air mataku terjatuh karena benar-benar tak mampu
menahan rasa haru dan sedih. Dalam kondisi mereka yang tengah dalam kesulitan
ekonomi, bahkan makanan berbukapun mereka gunakan berdua namun masih sempat ada
niat untuk berbagi dengan orang lain sepertiku. Disela makan, mereka masih
sempat bercanda mengenai suatu hal dan sesekali membuatku ikut tertawa dan
kadang kembali meneteskan air mata. Subhanallah baru kali ini aku jumpai
suasana seperti ini.
Setelah semakin akrab, aku mencoba
berbincang-bincang dengan mereka mengenai kehidupan mereka dan aktivitas
sehari-hari mereka. Begitupun mereka bertanya demikian kepadaku.
“Kami ini bukan pengemis. Ibu
mencari rizki dengan berjualan koran disekitar lampu merah disini. Meskipun
tanpa lengan, ibu masih bisa kok. Para pembeli koran juga belum pernah ada yang
berbuat jahat ataupun yang lainnya. Kalau ini anak ibu, namanya Adam.
Sebenarnya ibu tak ingin melibatkan dia dijalan, namun dia sendiri yang memaksa
untuk ikut kesini dan menjadi tukang semir sepatu. Suami ibu sudah meninggal
ketika Adam berusia 6 tahun sehingga memaksa kami untuk berjuang mencari nafkah
sendiri” wanita itu mulai menceritakan kehidupannya tanpa ada rasa sungkan
ataupun malu terhadapku. Anak itu dipanggil Adam, sama seperti ketika ia
menyebutkan namanya saat pertama menyapaku kala tadi. Aku menatap Adam tengah
terdiam sambil menunduk dan mengorek-orek tanah dibawahnya dengan potongan
ranting yang ada.
“Kami memang orang miskin, tapi kami
tak mau orang lain kasihan kepada kami sehingga kami diberikan uang sebagai
pengemis. Kami menolak untuk itu dengan alasan kami ingin mencari uang dengan
bekerja semampunya, meskipun hanya sebagai penjual koran dan tukang semir
sepatu. Meskipun hasilnya tidak seberapa tapi kami senang menjalani hidup ini
karena kami yakin Allah masih ada bersama hamba-hambaNya yang mau berusaha.”
Lanjutnya. Aku ikut menunduk dan membandingkan dengan kehidupanku yang sekarang
dimana bisa dibilang aku jarang bersyukur atas apa yang aku punya.
“Lalu, mengapa tadi ibu masih nekad
berbagi makanan denganku? Padahal untuk kalianpun makanan itu masih kurang.”
Tanyaku dengan berani. Aku memandang wajah wanita itu dan dengan sabar menunggu
jawabannya.
“Kami juga ingin berbagi rejeki.
Meskipun banyak orang-orang yang lebih punya, namun kami tak tega jika melihat
orang lain juga susah. Tadi ibu melihat sepertinya kamu belum punya makanan
untuk berbuka. Meskipun seadanya namun paling tidak kami bisa ikut berbagi.
Kami tahu bagaimana rasanya ketika kita tidak punya dan tak ada orang lain yang
peduli. Tidak apa-apa nak kami senang bisa berbagi.” Jawabnya dengan serius dan
sempat membuatku kembali mendongak menahan tumpahan air mata yang dari tadi
memaksa untuk keluar.
Dia menanyakan kondisiku tadi ketika
aku hanya berdiri dipinggir jalan tatkala keluar dari bis dan mendapati dompet
milikku telah dicopet. Meskipun sempat menawarkanku beberapa lembar uang lima
ribuan dan seribuan yang sepertinya dari hasil menjual koran dan semir sepatu
untuk aku gunakan naik transportasi menuju rumah, aku otomatis menolak. Mana
mungkin dengan tega aku mengambil rejeki orang yang jelas-jelas bukan didapat
dari cara yang mudah. Setelah cukup lama berbincang dan puas bertanya tentang
kehidupan masing-masing, aku berencana untuk pamit pulang meskipun aku masih
belum tahu dengan cara apa.
Jam menunjukkan pukul 18.25 dan aku
segera pamit meninggalkan mereka tanpa lupa mengucapkan terimakasih
sebesar-besarnya, lalu aku berjalan kembali menuju pinggir jalan. Aku kembali
menoleh kearah mereka dan ternyata mereka masih mengamatiku dengan senyum. Aku
kembali diam karena bingung mau berbuat apa. Mustahil rasanya aku pulang dari
terminal dengan jalan kaki. Hahaha mungkin bakal berjam-jam baru sampai rumah,
belum lagi pasti lelahnya minta ampun. Tak lama, seorang bapak-bapak memakai
topi merah dan berjaket hitam tengah mengendarai sepeda motor menuju kearahku.
“Ojek mas?” sapanya yang ternyata
adalah tukang jasa ojek.
“Duh pak, saya gak ada uang. Dompet
saya kena copet pas di bis tadi” jawabku dengan santai dan menceritakan apa
yang saya alami.
“Rumahmu dimana?” tanyanya kembali
“Gang sari pak, deket pasar Kliwon”
jawabku singkat.
“yasudah, mari ikut. Gapapa gak usah
bayar. Kebetulan ini rumah saya lewat pasar dan ini saya juga sudah mau pulang.
Sudah mau isya’ juga kan, nanti keburu telat tarawih. Mari mas !” ajak bapak
itu untuk menawarkanku ikut menumpang bersamanya sampai gang rumahku.
“Tapi pak, kan bapak tukang ojek.
Masa gratisan? Tanyaku kembali
“Haha gak papa lah mas, sekali kali
amal. Itung-itung berbagi” jawabnya jelas.
Lagi-lagi alasan ingin berbagi ia
ungkapkan. Sedih rasanya hari ini sudah ada tiga orang yang kasihan denganku.
Konyol memang. Aku sebenarnya bukan dari keluarga susah, tapi dalam kondisi ini
aku memang perlu dikasihani. Karena sudah tidak tahu apa yang akan aku lakukan,
aku tak mampu menolak bapak ini untuk ikut pulang sampai gang rumah. Tak lupa
aku kembali melirik kearah Adam dan ibunya kemudian melambaikan tangan kepada
mereka. Dan tak lama kami pun bergegas meninggalkan lokasi terminal.
Dalam perjalanan pulang aku terus
memikirkan Adam dan ibunya. Terbesit harapan bahwa suatu saat aku ingin kembali
bertemu dengan mereka dan ingin kembali berbagi kisah inspiratif dengannya.
Ramadhan kali ini ternyata memberikanku sesuatu yang berbeda dan aku bersyukur
Allah mempertemukanku dengan orang bijak seperti mereka. Bismillah, aku akan
menjadi lebih baik kedepannya. Amiin.
***
“...Sadarlah
akan apa yang ada disekelilingmu. Kadang apa yang kau pikirkan tentang mereka,
ternyata berbeda dengan apa yang mereka pikirkan tentang kita. Dan disitulah
kamu belajar arti makna yang sebenarnya...” – Imran.
***
“Barangsiapa
meringankan kesusahan seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan
kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang
dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat.
Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia
dan akhirat.Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut
menolong saudaranya.” (HR. Muslim)




1 komentar:
Nice storu :) trims sudah berbagi
Posting Komentar