Minggu, 19 Juli 2015

"NOTES" - Sang Pembawa Mimpi



“...Semua manusia memiliki keinginan masing-masing untuk menentukan jalan hidupnya. Sebagian besar manusia sering bingung menentukan cita-cita untuk diri mereka. Pandangan yang menurutnya benar terkadang berbeda dengan harapan yang diinginkan orang terdekatnya bahkan ternyata pilihannya belum tentu tentang cita-cita yang sesungguhnya benar-benar diinginkan. Entah itu cita-cita berdasarkan harapan masa depan, cita-cita berdasarkan keinginan atau bahkan cita-cita karena melanjutkan mimpi orang yang dicinta...”
***
(Pekik..)
“Nak...! Nak, tadi ibu tidak sengaja menemukan kartu pengumuman penerimaan kuliah. Ibu rasa ada yang salah dengan data yang dimasukkan sekolahmu” tanya seorang wanita paruh baya berwajah bingung yang baru saja keluar dari balik pintu rumah membawa selembar kartu daftar pilihan jurusan pendaftaran mahasiswa baru.

“Tidak ada yang salah bu, itu memang kartu pendaftaran milikku” sahut remaja laki-laki yang tengah sibuk memainkan handphone miliknya sambil duduk pada bangku kayu dari depan teras rumah.
“Disini dituliskan kamu diterima di Fakultas sastra padahal seharusnya Fakultas Pertanian, terlebih kenapa kampusnya diluar kota? Apakah sekolahmu salah memasukkan pilihan jurusanmu?” sahut kembali wanita tersebut dengan wajah yang makin kebingunan sambil menuju teras rumah.
“Sam memang sengaja tidak mendaftar Fakultas Pertanian. Sam lebih suka masuk jurusan sastra di kampus luar kota, jadi sama sekali tidak ada kesalahan. Sam ingin memilih jalan yang Sam inginkan sendiri” jelas remaja tersebut yang sontak berdiri menghadap wanita yang tengah bertanya kepadanya.
“Tapi...bukankah kamu harusnya mendaftar Fakultas Pertanian. Kelak kamu akan melanjutkan usaha perkebunan dan mengelola tanah milik mendiam bapakmu. Kamu harapan keluarga satu-satunya, Sam. Lalu kalau kamu tidak masuk ke jurusan pertanian, lalu siapa yang akan mewarisi perkebunan dan tanah milik bapakmu. Apakah hal ini tidak kamu pikirkan kembali?” pintanya sambil mendekat membujuk keputusan anaknya tersebut.
“Bu, Sam ingin menentukan jalan hidup sam sendiri. Selama ini Sam selalu menuruti apa yang ibu inginkan, tapi apakah masa depan Sam harus ibu paksa juga? Sam tidak menginginkan untuk masuk ke Fakultas Pertanian, kenapa harus dipaksa? Mengenai perkebunan dan tanah milik ayah terserah ibu kalau mau mengurusnya, toh biasanya Wak Man sering bantu ibu. Jadi untuk masalah ini, biarlah Sam menentukan jalan Sam sendiri!” tegasnya yang ketika itu bersikeras menolak permintaan ibunya dan sontak masuk kedalam rumah meninggalkan ibunya yang tengah berdiri diteras.
Sam memang anak yang kreatif dan sering mengikuti kegiatan sastra dan seni yang diadakan disekolah. Tak heran jika ia menginginkan untuk belajar lebih mengenai sastra pasca lulus dari SMA. Keluarga Sam bukan keluarga konglomerat, namun almarhum ayahnya memiliki perkebunan dan tanah yang cukup luas yang dulunya sebagai tonggak penghasil nafkah dikeluarganya. Tak heran setelah ayahnya meninggal, ibu Sam selalu berharap anaknya itu akan mampu melanjutkan perkebunan yang selama ini dirawat semampunya oleh dirinya. Namun apa daya, keinginan keras Sam untuk masuk ke jurusan Sastra disalah satu perguruan tinggi di luar kota ternyata tak mampu dicegahnya. Terpaksa, demi keinginan anaknya tersebut, ia harus merelakan Sam untuk pergi dari rumah melanjutkan pendidikan jauh di kota orang. Kekhawatiran seorang ibu terhadap perubahan perilaku anaknya di lingkungan kota tetap menjadi hal yang ia takutkan. Namun hanya do’a yang mampu ia berikan dengan harapan Sam tetap menjadi anak yang baik dan menjaga pergaulannya diluar kota.
Dikampung tersebut, Sam berkawan baik dengan dua gadis yang selama ini dekat dengannya. Ryn, salah satu gadis desa yang dikenalnya tersebut saat ini menjalin sebuah hubungan kedekatan dengannya. Namun diluar hubungan keduanya, ibu Sam lebih berharap bahwa anaknya itu lebih memilih Ais sebagai pendamping masa depannya. Ais, gadis pendiam yang selama ini membantu dan menemani ibu Sam juga merupakan sahabat dari Ryn sehingga karena kedekatannya dengan Ryn dan ibu Sam membuat Ais juga berteman baik dengan Sam. Namun harapan sang ibu tentang kedekatan anaknya dengan gadis tersebut kembali mendapatkan penolakan dari Sam dengan alasan perasaan yang dimilikinya. Meskipun pandangan ibu Sam mengenai sifat Ais yang dirasa lebih baik dibandingkan dengan Ryn yang pada dasarnya terlihat dari perilakunya sehari-hari, namun tetap saja Sam membantah permintaan tentang niat ibunya tersebut untuk menjodohkannya dengan Ais. Hal itu juga yang membuat hubungan Sam dengan ibunya semakin renggang sehingga Sam makin memantapkan diri untuk kuliah diluar kota dengan alasan ingin lebih bebas dari aturan-aturan ibunya.
Selama jauh dari kampung, komunikasi antar keduanya semakin jarang sehingga hal itu menimbulkan kekhawatiran ibu Sam tentang beberapa perubahan anaknya terlebih dilihat dari cara berkomunikasi yang dirasa lebih kasar dari sebelumnya. Disisi lain, hubungan komunikasi sehari-hari antara Sam dan Ryn mereka lakukan melalui e-mail. E-mail yang sering mereka kirimkan satu sama lain membuat hubungan mereka terasa tetap dekat meskipu berada dalam kota yang berbeda. Beberapa waktu pertama, komunikasi e-mail antar keduanya dirasa masih lancar seperti biasanya. Namun dalam kurun waktu 4 bulan, e-mail yang dikirimkan Sam ke akun Ryn tak kunjung mendapatkan balasan. Hubungan komunikasi keduanya semakin jarang, bahkan  menghilang. Hal ini menimbulkan kebingungan dari diri Sam tentang keberlangsungan hubungan keduanya.
Disisi lain, kondisi hubungan Sam dengan ibunya semakin renggang.  Perubahan diri Sam akibat pengaruh pergaulan kota semakin jelas dirasakan sehingga hal tersebut membuat ibu Sam sering melontarkan nasihat-nasihat yang dinilai memaksa dan menimbulkan emosi dari diri Sam terlebih jika diingatkan dalam hal ibadah dan sopan santun. Sam yang memang merasa dirinya sudah dewasa terganggu dengan nasihat-nasihat dari ibunya dan memutuskan untuk menghindar dari ibunya sendiri sehingga dia merasa akan lebih baik jika dirinya bebas dari perintah orang tua. Pikiran-pikiran Sam selain terganggu dengan tugas-tugas perkuliahan juga terganggu dengan hubungannya dengan Ryn yang semakin hilang dan kiriman-kiriman e-mail yang tak pernah dibalasnya.
Ketika Sam tengah tengah larut dalam lamunan sambil berbaring diatas ranjang kecil didalam kamar kosnya, laptop yang baru saja selesai digunakan untuk mengerjakan tugas kuliahnya dan masih berada diatas meja samping kanan ranjangnya dengan kondisi masih menyala itu tiba-tiba terdengar suara kiriman messenger yang masuk. Seketika lamunan Sam pecah dan sontak ia bangun dari ranjang untuk membuka kiriman e-mail yang baru saja diterimanya. Ternyata pesan e-mail itu berasal dari Ryn yang baru muncul setelah sekian lama ditunggu oleh Sam dan setelah saat itu komunikasi e-mail mereka kembali lancar. Keresahan Sam menunggu kepastian hubungan merekapun terjawab sudah. Namun, tanpa disadari sebenarnya mungkin dirasa ada sesuatu yang berbeda dari kiriman-kiriman balasan e-mail setelah itu. Kini, Ryn lebih sering menggunakan kata-kata yang lebih sopan dan ramah dari sebelumnya bahkan beberapa dari pesan-pesan yang dikirimkan lebih condong menuju kearah kalimat motivasi dan nasihat untuk Sam yang tengah berjuang belajar dikota orang. Hal ini sungguh membuat Sam begitu senang dengan perubahan yang terjadi dengan Ryn dan membuatnya menjadi alasan supaya Ryn bisa diterima oleh ibu Sam karena sifatnya sudah berubah kearah yang lebih baik.
Beberapa hari setelah hubungan keduanya kembali dekat, Sam menjadi sering mendapatkan paket kiriman berisi buku sastra penunjang belajarnya. Tak hanya itu sepatu barupun pernah dikirim untuknya namun Sam sejujurnya bingung dengan semua paket-paket itu belum pernah jelas nama pengirimnya sehingga dia berasumsi bahwa Ryn yang selama ini mengirimkan barang-barang yang dibutuhkan untuknya karena dialah yang sebagian banyak tahu kebutuhan Sam yakni melalui percakapan e-mail selama ini. Segala hal yang berhubungan dengan apa yang dirasakan dan apa yang dialami Sam sering ia sampaikan melalui percakapan sehingga Ryn selalu memberinya motivasi dan pesan moral yang secara tidak langsung ternyata mampu berpengaruh terhadap kepribadian Sam. Sam yang mulai berubah karena hubungan pergaulan remaja kota kini kembali pada pribadi Sam sebagai anak yang lebih baik. Setelah dua bulan sejak komunikasi keduanya kembali lancar, Sam berencana untuk pulang sejenak ke kampung halaman untuk melepas rindu melihat keadaan ibunya dan bertemu dengan Ryn disana.
***
Terpaan panasnya siang hari begitu terasa. Kendaraan-kendaraan disekitar jalan raya meninggalkan bekas jejak berdebu yang secara berirama terbang terbawa angin menimbulkan polusi disekitarnya. Salah satu dari roda-roda yang berputar dengan cepatnya itu, berhenti seketika didepan gang pertigaan yang ketika itu tampak sepi pejalan kaki. Pintu bus terbuka dan turunlah remaja laki-laki dengan menggendong sebuah tas cukup besar dengan wajah yang tampak gembira karena telah kembali ke kampung asalnya. Dialah Sam, yang telah sampai ke desanya setelah berbulan-bulan lamanya tak melihat asrinya desa asal dengan pohon-pohon yang masih tampak narural. Ia berjalan perlahan menuju gang rumah yang jelas masih teringat dalam memorinya.
Ketika sampai didekat taman kecil yang kurang lebih sekitar 50 meter dari jalan tempatnya berdiri, tampak seorang gadis yang begitu ia kenal berada diatas sebuah motor gede berwarna hitam yang tengah parkir disebelah kiri taman. Tak lama, muncul seorang laki-laki mendekat kearah gadis tersebut dan memberinya sebuah es krim yang tampaknya sudah ditunggu gadis itu dari tadi. Ya, Sam melihat Ryn sedang bersama laki-laki lain ditempat itu sehingga tak lama berdiri disana ia langsung meninggalkan jalan itu dan dengan cepat ia bergegas menuju rumahnya. Perasaan bingung dan emosi menyelimuti diri Sam pasca melihat pemandangan yang barusaja ia amati. Bagaimana tidak, gadis yang selama ini berhubungan dengannya dan ia berusaha menjaga hubungannya dengan tampak komunikasi yang masih baik-baik saja melalui e-mail ternyata berhubungan dengan laki-laki lain.
Setelah sampai dirumah, terlihat ibu Sam tengah sibuk memilih sekeranjang apel merah dari hasil panen perkebunan saat itu bersama Wak Man. Mereka tampak senang melihat Sam yang telah pulang ke rumah dan menyambutnya dengan ramah. Wajah Sam masih terlihat emosi karena terbayang tentang Ryn yang kala tadi ia temui dan sontak ia bergegas menuju ke kamar lamanya dan mengunci pintu rapat-rapat. Ibunya yang kala itu bingung dengan sikap anaknya yang aneh ketika baru saja sampai rumah mencoba untuk menuju kamar Sam namun ternyata tak ada hasil.
Sore yang cukup rindang itu membuat Sam akhirnya keluar dari kamar persembunyiannya. Namun, pikirannya masih tampak kacau sehingga hal itu membuat ibunya kembali bertanya ada apa. Saat itu kondisi rumah begitu sepi karena aktifitas panen apel merah sudah selesai. Ibu Sam yang masih penasaran dengan sikap anaknya mencoba untuk mendekatkan dirinya.
“Sam, kenapa dari tadi ibu melihat kamu begitu resah. Ada apa? Apa kamu tak senang ketika pulang pulang ke rumah?” tanya ibunya yang saat itu tengah berdiri didekat meja dengan menuangkan dua gelas teh dari sebuah teko kecil.
“Tidak ada apa-apa, ibu tak perlu tahu” jawab Sam dengan nada standar sehingga membua ibunya semakin penasaran dan mendekat kearahnya.
“Kenapa ibu melihat sikap kamu begitu berubah dari Sam yang ibu kenal sebelumnya? Selama ini ibu mencoba untuk memberikan apa yang kamu minta dan berharap yang terbaik untuk kamu. Tapi, apa yang sebenarnya kamu pikirkan, nak? Cobalah untuk terbuka pada ibumu.” Kembali ibunya meminta kejelasan dari sikap anaknya. Gelas yang tadinya dipegang ditangan kanannya kembali ia taruh diatas meja. “Sam? Tolong jawab pertanyaan ibu”. Sam yang kala itu hanya diam menahan amarah menimbulkan pertanyaan baru dari ibunya.
“Sampai kapan ibu mau ikut campur urusaanku? Aku bukan lagi anak kecil yang harus selalu lapor ke ibu tentang apa saja yang tengah aku alami. Aku bingung dengan ibu yang selalu memaksaku menuruti apa yang ibu mau. Aku punya pilihan sendiri. Aku tahu apa yang aku pilih dan bisakah sekali saja ibu tidak lagi ikut campur urusanku?” jawab Sam dengan gejolak emosi dalam dirinya sehingga tanpa sadar hal itu menciptakan air mata yang perlahan keluar dari pipi wanita didepannya.
“Sam, ibu hanya ingin kamu menjadi anak seperti yang bapakmu harapkan. Kamu satu-satunya kebanggaan ibu dan bapak, jadi.....” ucapak ibunya terisak. Namun belum sempat dilanjutkan, Sam sudah kembali menyanggah pernyataan dari ibunya.
“Anak yang kalian harapkan? Apa yang ibu harapkan bukanlah yang aku inginkan. Ibu selalu memaksa aku untuk melanjutkan usaha perkebunan dan mengelola tanah milik bapak meskipun ibu tahu aku tidak menginginkannya. Ibu selalu memaksakan hal yang tidak aku sukai. Termasuk perasaan, ibu juga memaksaku menjalin hubungan dengan Ais. Kalau ibu mau menuruti permintaan bapak, silahkan lakukan apa yang ibu suka. Aku buka lagi anak yang bisa ibu paksa. Aku punya pilihan dan pilihan yang aku tentukan adalah apa yang aku inginkan.” Jelasnya yang kemudian ia mengambil jaket yang bergantung didalam kamarnya dan sontak pergi dari rumah meninggalkan ibunya yang tengah terdiam ditempat.
Ditengah perjalanan, tanpa sengaja Sam bertemu dengan ibu Ais yang sedang berjalan menuju kerumah. Entah mengapa sam akhirnya menyapanya dan sedikit berbincang mengenai keadaan Ais saat ini. Ternyata dari perbincangan itu didapatkan informasi bahwa Ais sedang menderita sakit dan hanya berdiam didalam rumah. Sam yang mendengar hal itu ingin berkunjung melihat keadaan temannya itu dan mengikuti ibu Ais untuk menuju kerumahnya.
Tampak Ais yang tengah bermain bersama komputernya dengan duduk di shofa rumahnya dengan wajah pucat dan tubuh yang semakin kurus. Ais yang ketika itu melihat kedatangan Sam kerumahnya sontak kaget dan terdiam. Ketika itu Sam mencoba untuk mengajaknya berbincang mengenai kabar Ryn dengan laki-laki yang bersamanya kala itu. Ais hanya terdiam dan menunduk seakan ingin bungkam. Tanpa sengaja Sam mengalihkan pandangan menuju komputer yang tengah hidup tersebut dan tampaknya baru saja Ais membuka sebuah e-mail. Karena penasaran dengan apa yang dibuka oleh temannya itu, Sam membuka e-mail tersebut dan tampak akun milik Ryn tengah aktif dalam komputer tersebut. Kini, Sam semakin bingung dengan keadaan ini dan memaksa Ais untuk menjelaskan sejujur-jujurnya.
Ais memberanikan diri untuk membuka suara bahwa sebenarnya Ryn memang sedang menjalin hubungan dengan laki-laki lain dan sudah tidak peduli dengan Sam. Sedangkan ketika itu Ryn yang sedang menggunakan komputer Ais membuka pesan e-mail dari Sam dan berniat untuk memutuskan hubungannya dengannya. Namun tanpa sadar ternyata akun Ryn masih aktif dalam komputer milik Ais dan ketika dibuka ternyata banyak kiriman pesan Sam yang selama ini tak pernah dibalas oleh Ryn. Karena ingin menjaga perasaan Sam yang telah ditinggalkan oleh sahabatnya, akhirnya sejak saat itu Ais membalas kembali kiriman dari Sam atas nama Ryn. Sebenarnya Ais perasaan begitu berat karena harus mendekatkan diri dengan Sam sebagai Ryn. Namun, perasaan Ais cukup tenang ketika mampu melihat kembali senyum sam dibalik tulisan-tulisan pesan yang dikirimkan dan disitulah Ais bisa memberikan motivasi dan pesan moral untuk Sam yang selama ini sikapnya dinilai telah berubah oleh ibu Sam.
Sam ketika itu justru hanya terdiam dan tak menduga bahwa selama ini kalimat-kalimat indah yang selalu dikirimkan oleh Ryn melalui e-mail ternyata adalah Ais yang ada dibaliknya. Ketika saat itulah pendangan Sam terhadap Ais berubah secara drastis. Apalagi ternyata diketahui bahwa Ais tengah menderita leukimia yang secara jelas melarang Ais untuk tidak banyak aktifitas sehingga Ais hanya bisa terdiam dalam rumah. Namun, kehadiran Sam dirumahnya justru memberikan kesan tersendiri bagi Ais. Hubungan keduanya kini semakin dekat dan Sam merasa tak tega dengan Ais karena dibalik rasa iba dari penyakit yang dideritanya, ada tersirat rasa terimakasih karena pesan-pesan yang dikirimkan selama ini memberikan cukup banyak manfaat dan pengaruh dalam diri Sam. Perlahan muncul perasaan cinta dalam diri Sam terhadap Ais dan ketika itulah hubungan mereka semakin erat.
Suatu ketika Sam berniat masuk ke dalam kamar Ais untuk mengambilkan obat milik temannya itu dan tanpa sengaja ia melihat beberapa kertas note yang menggantung di dalam kamat tersebut. Catatan-catatan kecil yang menceritakan seluruh perasaan yang dimiliki Ais dan ketika itu pula Sam membacanya dengan pelan.


Beberapa diantara catatan-catatan kecil milik Ais menjawab semua kebingungan Sam selama ini dan justru semua itu membuat ia merasa bersalah dengan apa yang telah ia pikirkan selama ini terhadapnya. Ia juga menemukan satu lembar catatan yang tertempel jelas di dinding kamar tentang mimpi yang ingin digapai Ais. Tanpa sadar Sam meneteskan air mata didalam kamar tersebut setelah menyaksikan apa yang sangat diharapkan Ais dalam mimpi-mimpinya. Setelah cukup lama berada dalam tersebut, Sam keluar membawakan obat milik Ais tanpa sedikitpun menanyakan hal tadi. Bergegas Sam pamit untuk pulang kerumah.
Sesampainya dirumah, Sam melihat ibunya sedang berdiri di depan dinding rumah yang juga tertempel rapi foto almarhum ayah Sam dengan memegang selembar surat yang tampak basah dalam genggaman wanita tersebut. Sam yang merasa heran segera mendekat dan ingin mengetahui apa yang sedang ibunya lakukan disana. Setelah mengetahui ibunya yang ketika itu sedang menangis memandang foto almarhum ayahnya, ibu Sam memberikan kertas basah yang bertuliskan keinginan dari ayahnya sebelum meninggal.


Dari pesan almarhum ayahnya itulah, Sam akhirnya sadar mengapa selama ini ibunya selalu memaksakan dirinya untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas pertanian dan selalu mengatur hidup Sam dengan harapan ibunya mampu mewujudkan mimpi ayahnya.
“Sam, kamu sekarang tahu kan maksud ibu? Semua itu adalah mimpi bapakmu. Kamu tahu, ibu selalu berharap mimpi bapakmu bisa terwujud. Maka dari itu, sejak kamu menolak harapan itu ibu begitu sedih karena merasa tak mampu mewujudkan permintaannya. Dan karena itulah, meskipun ibu sudah tua ibu tetap berkebun karena ibu berusaha mewujudkan mimpi orang yang ibu cinta.
Kini Sam sadar akan arti cita-cita yang sesungguhnya ada dalam diri ibunya. Beberapa bulan kemudian, ternyata Ais sudah tak mampu bertahan atas leukimia yang dideritanya sehingga semua orang harus merelakan kepergiannya menghadap Yang Kuasa. Sam menyaksikan kamar Ais dibersihkan oleh keluarganya, teringat akan mimpi-mimpi yang telah ditulis Ais dalam dinding kamarnya. Ia mengambil catatan-catatan dan selembar mimpi yang hampi saja terbuang itu. Semua itu lalu ia tempel dalam kamar pribadinya dan ia bertekad untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut.
***
“...Aku kini sadar arti cita-cita yang sesungguhnya aku harapkan. Bukan keinginan tentang keegoisan atau sekedar keinginan yang ingin dikejar. Namun aku telah belajar dari orang yang benar-benar tahu arti mimpi yang sebenarnya. Seperti apa yang telah aku pelajari dari hidup ini, bahwa cita-cita terpenting yang ingin aku gapai saat ini adalah aku bercita-cita untuk melanjutkan mimpi-mimpi orang yang aku cinta...”  – Sam



2 komentar:

Anonim mengatakan...

lucu banget ceritanyaaaa :D pfft

Anonim mengatakan...

Baguss bgt cerita.ny, lanjutkan eaaa

Posting Komentar