“...Semua
manusia memiliki keinginan masing-masing untuk menentukan jalan hidupnya. Sebagian
besar manusia sering bingung menentukan cita-cita untuk diri mereka. Pandangan
yang menurutnya benar terkadang berbeda dengan harapan yang diinginkan orang terdekatnya
bahkan ternyata pilihannya belum tentu tentang cita-cita yang sesungguhnya benar-benar
diinginkan. Entah itu cita-cita berdasarkan harapan masa depan, cita-cita
berdasarkan keinginan atau bahkan cita-cita karena melanjutkan mimpi orang yang
dicinta...”
***
(Pekik..)
“Nak...! Nak, tadi ibu
tidak sengaja menemukan kartu pengumuman penerimaan kuliah. Ibu rasa ada yang
salah dengan data yang dimasukkan sekolahmu” tanya seorang wanita paruh baya
berwajah bingung yang baru saja keluar dari balik pintu rumah membawa selembar
kartu daftar pilihan jurusan pendaftaran mahasiswa baru.
“Tidak ada yang salah bu,
itu memang kartu pendaftaran milikku” sahut remaja laki-laki yang tengah sibuk
memainkan handphone miliknya sambil
duduk pada bangku kayu dari depan teras rumah.
“Disini dituliskan kamu diterima
di Fakultas sastra padahal seharusnya Fakultas Pertanian, terlebih kenapa
kampusnya diluar kota? Apakah sekolahmu salah memasukkan pilihan jurusanmu?”
sahut kembali wanita tersebut dengan wajah yang makin kebingunan sambil menuju
teras rumah.
“Sam memang sengaja tidak
mendaftar Fakultas Pertanian. Sam lebih suka masuk jurusan sastra di kampus
luar kota, jadi sama sekali tidak ada kesalahan. Sam ingin memilih jalan yang
Sam inginkan sendiri” jelas remaja tersebut yang sontak berdiri menghadap
wanita yang tengah bertanya kepadanya.
“Tapi...bukankah kamu
harusnya mendaftar Fakultas Pertanian. Kelak kamu akan melanjutkan usaha
perkebunan dan mengelola tanah milik mendiam bapakmu. Kamu harapan keluarga
satu-satunya, Sam. Lalu kalau kamu tidak masuk ke jurusan pertanian, lalu siapa
yang akan mewarisi perkebunan dan tanah milik bapakmu. Apakah hal ini tidak
kamu pikirkan kembali?” pintanya sambil mendekat membujuk keputusan anaknya
tersebut.
“Bu, Sam ingin menentukan
jalan hidup sam sendiri. Selama ini Sam selalu menuruti apa yang ibu inginkan, tapi
apakah masa depan Sam harus ibu paksa juga? Sam tidak menginginkan untuk masuk
ke Fakultas Pertanian, kenapa harus dipaksa? Mengenai perkebunan dan tanah
milik ayah terserah ibu kalau mau mengurusnya, toh biasanya Wak Man sering
bantu ibu. Jadi untuk masalah ini, biarlah Sam menentukan jalan Sam sendiri!”
tegasnya yang ketika itu bersikeras menolak permintaan ibunya dan sontak masuk
kedalam rumah meninggalkan ibunya yang tengah berdiri diteras.
Sam memang anak yang
kreatif dan sering mengikuti kegiatan sastra dan seni yang diadakan disekolah.
Tak heran jika ia menginginkan untuk belajar lebih mengenai sastra pasca lulus
dari SMA. Keluarga Sam bukan keluarga konglomerat, namun almarhum ayahnya
memiliki perkebunan dan tanah yang cukup luas yang dulunya sebagai tonggak penghasil
nafkah dikeluarganya. Tak heran setelah ayahnya meninggal, ibu Sam selalu
berharap anaknya itu akan mampu melanjutkan perkebunan yang selama ini dirawat
semampunya oleh dirinya. Namun apa daya, keinginan keras Sam untuk masuk ke
jurusan Sastra disalah satu perguruan tinggi di luar kota ternyata tak mampu
dicegahnya. Terpaksa, demi keinginan anaknya tersebut, ia harus merelakan Sam
untuk pergi dari rumah melanjutkan pendidikan jauh di kota orang. Kekhawatiran
seorang ibu terhadap perubahan perilaku anaknya di lingkungan kota tetap
menjadi hal yang ia takutkan. Namun hanya do’a yang mampu ia berikan dengan
harapan Sam tetap menjadi anak yang baik dan menjaga pergaulannya diluar kota.
Dikampung tersebut, Sam
berkawan baik dengan dua gadis yang selama ini dekat dengannya. Ryn, salah satu
gadis desa yang dikenalnya tersebut saat ini menjalin sebuah hubungan kedekatan
dengannya. Namun diluar hubungan keduanya, ibu Sam lebih berharap bahwa anaknya
itu lebih memilih Ais sebagai pendamping masa depannya. Ais, gadis pendiam yang
selama ini membantu dan menemani ibu Sam juga merupakan sahabat dari Ryn
sehingga karena kedekatannya dengan Ryn dan ibu Sam membuat Ais juga berteman
baik dengan Sam. Namun harapan sang ibu tentang kedekatan anaknya dengan gadis
tersebut kembali mendapatkan penolakan dari Sam dengan alasan perasaan yang
dimilikinya. Meskipun pandangan ibu Sam mengenai sifat Ais yang dirasa lebih
baik dibandingkan dengan Ryn yang pada dasarnya terlihat dari perilakunya
sehari-hari, namun tetap saja Sam membantah permintaan tentang niat ibunya
tersebut untuk menjodohkannya dengan Ais. Hal itu juga yang membuat hubungan
Sam dengan ibunya semakin renggang sehingga Sam makin memantapkan diri untuk
kuliah diluar kota dengan alasan ingin lebih bebas dari aturan-aturan ibunya.
Selama jauh dari kampung,
komunikasi antar keduanya semakin jarang sehingga hal itu menimbulkan
kekhawatiran ibu Sam tentang beberapa perubahan anaknya terlebih dilihat dari
cara berkomunikasi yang dirasa lebih kasar dari sebelumnya. Disisi lain,
hubungan komunikasi sehari-hari antara Sam dan Ryn mereka lakukan melalui
e-mail. E-mail yang sering mereka kirimkan satu sama lain membuat hubungan
mereka terasa tetap dekat meskipu berada dalam kota yang berbeda. Beberapa
waktu pertama, komunikasi e-mail antar keduanya dirasa masih lancar seperti biasanya.
Namun dalam kurun waktu 4 bulan, e-mail yang dikirimkan Sam ke akun Ryn tak
kunjung mendapatkan balasan. Hubungan komunikasi keduanya semakin jarang,
bahkan menghilang. Hal ini menimbulkan
kebingungan dari diri Sam tentang keberlangsungan hubungan keduanya.
Disisi lain, kondisi
hubungan Sam dengan ibunya semakin renggang.
Perubahan diri Sam akibat pengaruh pergaulan kota semakin jelas
dirasakan sehingga hal tersebut membuat ibu Sam sering melontarkan
nasihat-nasihat yang dinilai memaksa dan menimbulkan emosi dari diri Sam
terlebih jika diingatkan dalam hal ibadah dan sopan santun. Sam yang memang
merasa dirinya sudah dewasa terganggu dengan nasihat-nasihat dari ibunya dan
memutuskan untuk menghindar dari ibunya sendiri sehingga dia merasa akan lebih
baik jika dirinya bebas dari perintah orang tua. Pikiran-pikiran Sam selain
terganggu dengan tugas-tugas perkuliahan juga terganggu dengan hubungannya
dengan Ryn yang semakin hilang dan kiriman-kiriman e-mail yang tak pernah
dibalasnya.
Ketika Sam tengah tengah
larut dalam lamunan sambil berbaring diatas ranjang kecil didalam kamar kosnya,
laptop yang baru saja selesai digunakan untuk mengerjakan tugas kuliahnya dan
masih berada diatas meja samping kanan ranjangnya dengan kondisi masih menyala
itu tiba-tiba terdengar suara kiriman messenger
yang masuk. Seketika lamunan Sam pecah dan sontak ia bangun dari ranjang untuk
membuka kiriman e-mail yang baru saja diterimanya. Ternyata pesan e-mail itu
berasal dari Ryn yang baru muncul setelah sekian lama ditunggu oleh Sam dan
setelah saat itu komunikasi e-mail mereka kembali lancar. Keresahan Sam
menunggu kepastian hubungan merekapun terjawab sudah. Namun, tanpa disadari
sebenarnya mungkin dirasa ada sesuatu yang berbeda dari kiriman-kiriman balasan
e-mail setelah itu. Kini, Ryn lebih sering menggunakan kata-kata yang lebih
sopan dan ramah dari sebelumnya bahkan beberapa dari pesan-pesan yang
dikirimkan lebih condong menuju kearah kalimat motivasi dan nasihat untuk Sam
yang tengah berjuang belajar dikota orang. Hal ini sungguh membuat Sam begitu
senang dengan perubahan yang terjadi dengan Ryn dan membuatnya menjadi alasan
supaya Ryn bisa diterima oleh ibu Sam karena sifatnya sudah berubah kearah yang
lebih baik.
Beberapa hari setelah
hubungan keduanya kembali dekat, Sam menjadi sering mendapatkan paket kiriman
berisi buku sastra penunjang belajarnya. Tak hanya itu sepatu barupun pernah
dikirim untuknya namun Sam sejujurnya bingung dengan semua paket-paket itu belum
pernah jelas nama pengirimnya sehingga dia berasumsi bahwa Ryn yang selama ini
mengirimkan barang-barang yang dibutuhkan untuknya karena dialah yang sebagian
banyak tahu kebutuhan Sam yakni melalui percakapan e-mail selama ini. Segala
hal yang berhubungan dengan apa yang dirasakan dan apa yang dialami Sam sering
ia sampaikan melalui percakapan sehingga Ryn selalu memberinya motivasi dan
pesan moral yang secara tidak langsung ternyata mampu berpengaruh terhadap
kepribadian Sam. Sam yang mulai berubah karena hubungan pergaulan remaja kota
kini kembali pada pribadi Sam sebagai anak yang lebih baik. Setelah dua bulan
sejak komunikasi keduanya kembali lancar, Sam berencana untuk pulang sejenak ke
kampung halaman untuk melepas rindu melihat keadaan ibunya dan bertemu dengan
Ryn disana.
***
Terpaan panasnya siang
hari begitu terasa. Kendaraan-kendaraan disekitar jalan raya meninggalkan bekas
jejak berdebu yang secara berirama terbang terbawa angin menimbulkan polusi
disekitarnya. Salah satu dari roda-roda yang berputar dengan cepatnya itu,
berhenti seketika didepan gang pertigaan yang ketika itu tampak sepi pejalan
kaki. Pintu bus terbuka dan turunlah remaja laki-laki dengan menggendong sebuah
tas cukup besar dengan wajah yang tampak gembira karena telah kembali ke
kampung asalnya. Dialah Sam, yang telah sampai ke desanya setelah
berbulan-bulan lamanya tak melihat asrinya desa asal dengan pohon-pohon yang
masih tampak narural. Ia berjalan perlahan menuju gang rumah yang jelas masih
teringat dalam memorinya.
Ketika sampai didekat
taman kecil yang kurang lebih sekitar 50 meter dari jalan tempatnya berdiri,
tampak seorang gadis yang begitu ia kenal berada diatas sebuah motor gede
berwarna hitam yang tengah parkir disebelah kiri taman. Tak lama, muncul
seorang laki-laki mendekat kearah gadis tersebut dan memberinya sebuah es krim
yang tampaknya sudah ditunggu gadis itu dari tadi. Ya, Sam melihat Ryn sedang
bersama laki-laki lain ditempat itu sehingga tak lama berdiri disana ia
langsung meninggalkan jalan itu dan dengan cepat ia bergegas menuju rumahnya.
Perasaan bingung dan emosi menyelimuti diri Sam pasca melihat pemandangan yang
barusaja ia amati. Bagaimana tidak, gadis yang selama ini berhubungan dengannya
dan ia berusaha menjaga hubungannya dengan tampak komunikasi yang masih
baik-baik saja melalui e-mail ternyata berhubungan dengan laki-laki lain.
Setelah sampai dirumah,
terlihat ibu Sam tengah sibuk memilih sekeranjang apel merah dari hasil panen
perkebunan saat itu bersama Wak Man. Mereka tampak senang melihat Sam yang
telah pulang ke rumah dan menyambutnya dengan ramah. Wajah Sam masih terlihat
emosi karena terbayang tentang Ryn yang kala tadi ia temui dan sontak ia
bergegas menuju ke kamar lamanya dan mengunci pintu rapat-rapat. Ibunya yang
kala itu bingung dengan sikap anaknya yang aneh ketika baru saja sampai rumah
mencoba untuk menuju kamar Sam namun ternyata tak ada hasil.
Sore yang cukup rindang
itu membuat Sam akhirnya keluar dari kamar persembunyiannya. Namun, pikirannya
masih tampak kacau sehingga hal itu membuat ibunya kembali bertanya ada apa.
Saat itu kondisi rumah begitu sepi karena aktifitas panen apel merah sudah
selesai. Ibu Sam yang masih penasaran dengan sikap anaknya mencoba untuk
mendekatkan dirinya.
“Sam, kenapa dari tadi ibu
melihat kamu begitu resah. Ada apa? Apa kamu tak senang ketika pulang pulang ke
rumah?” tanya ibunya yang saat itu tengah berdiri didekat meja dengan
menuangkan dua gelas teh dari sebuah teko kecil.
“Tidak ada apa-apa, ibu
tak perlu tahu” jawab Sam dengan nada standar sehingga membua ibunya semakin
penasaran dan mendekat kearahnya.
“Kenapa ibu melihat sikap
kamu begitu berubah dari Sam yang ibu kenal sebelumnya? Selama ini ibu mencoba
untuk memberikan apa yang kamu minta dan berharap yang terbaik untuk kamu.
Tapi, apa yang sebenarnya kamu pikirkan, nak? Cobalah untuk terbuka pada
ibumu.” Kembali ibunya meminta kejelasan dari sikap anaknya. Gelas yang tadinya
dipegang ditangan kanannya kembali ia taruh diatas meja. “Sam? Tolong jawab
pertanyaan ibu”. Sam yang kala itu hanya diam menahan amarah menimbulkan
pertanyaan baru dari ibunya.
“Sampai kapan ibu mau ikut
campur urusaanku? Aku bukan lagi anak kecil yang harus selalu lapor ke ibu
tentang apa saja yang tengah aku alami. Aku bingung dengan ibu yang selalu
memaksaku menuruti apa yang ibu mau. Aku punya pilihan sendiri. Aku tahu apa
yang aku pilih dan bisakah sekali saja ibu tidak lagi ikut campur urusanku?”
jawab Sam dengan gejolak emosi dalam dirinya sehingga tanpa sadar hal itu
menciptakan air mata yang perlahan keluar dari pipi wanita didepannya.
“Sam, ibu hanya ingin kamu
menjadi anak seperti yang bapakmu harapkan. Kamu satu-satunya kebanggaan ibu
dan bapak, jadi.....” ucapak ibunya terisak. Namun belum sempat dilanjutkan,
Sam sudah kembali menyanggah pernyataan dari ibunya.
“Anak yang kalian
harapkan? Apa yang ibu harapkan bukanlah yang aku inginkan. Ibu selalu memaksa
aku untuk melanjutkan usaha perkebunan dan mengelola tanah milik bapak meskipun
ibu tahu aku tidak menginginkannya. Ibu selalu memaksakan hal yang tidak aku
sukai. Termasuk perasaan, ibu juga memaksaku menjalin hubungan dengan Ais.
Kalau ibu mau menuruti permintaan bapak, silahkan lakukan apa yang ibu suka.
Aku buka lagi anak yang bisa ibu paksa. Aku punya pilihan dan pilihan yang aku
tentukan adalah apa yang aku inginkan.” Jelasnya yang kemudian ia mengambil
jaket yang bergantung didalam kamarnya dan sontak pergi dari rumah meninggalkan
ibunya yang tengah terdiam ditempat.
Ditengah perjalanan, tanpa
sengaja Sam bertemu dengan ibu Ais yang sedang berjalan menuju kerumah. Entah
mengapa sam akhirnya menyapanya dan sedikit berbincang mengenai keadaan Ais
saat ini. Ternyata dari perbincangan itu didapatkan informasi bahwa Ais sedang
menderita sakit dan hanya berdiam didalam rumah. Sam yang mendengar hal itu
ingin berkunjung melihat keadaan temannya itu dan mengikuti ibu Ais untuk
menuju kerumahnya.
Tampak Ais yang tengah bermain
bersama komputernya dengan duduk di shofa rumahnya dengan wajah pucat dan tubuh
yang semakin kurus. Ais yang ketika itu melihat kedatangan Sam kerumahnya
sontak kaget dan terdiam. Ketika itu Sam mencoba untuk mengajaknya berbincang
mengenai kabar Ryn dengan laki-laki yang bersamanya kala itu. Ais hanya terdiam
dan menunduk seakan ingin bungkam. Tanpa sengaja Sam mengalihkan pandangan
menuju komputer yang tengah hidup tersebut dan tampaknya baru saja Ais membuka
sebuah e-mail. Karena penasaran dengan apa yang dibuka oleh temannya itu, Sam
membuka e-mail tersebut dan tampak akun milik Ryn tengah aktif dalam komputer
tersebut. Kini, Sam semakin bingung dengan keadaan ini dan memaksa Ais untuk
menjelaskan sejujur-jujurnya.
Ais memberanikan diri
untuk membuka suara bahwa sebenarnya Ryn memang sedang menjalin hubungan dengan
laki-laki lain dan sudah tidak peduli dengan Sam. Sedangkan ketika itu Ryn yang
sedang menggunakan komputer Ais membuka pesan e-mail dari Sam dan berniat untuk
memutuskan hubungannya dengannya. Namun tanpa sadar ternyata akun Ryn masih
aktif dalam komputer milik Ais dan ketika dibuka ternyata banyak kiriman pesan
Sam yang selama ini tak pernah dibalas oleh Ryn. Karena ingin menjaga perasaan
Sam yang telah ditinggalkan oleh sahabatnya, akhirnya sejak saat itu Ais
membalas kembali kiriman dari Sam atas nama Ryn. Sebenarnya Ais perasaan begitu
berat karena harus mendekatkan diri dengan Sam sebagai Ryn. Namun, perasaan Ais
cukup tenang ketika mampu melihat kembali senyum sam dibalik tulisan-tulisan
pesan yang dikirimkan dan disitulah Ais bisa memberikan motivasi dan pesan
moral untuk Sam yang selama ini sikapnya dinilai telah berubah oleh ibu Sam.
Sam ketika itu justru
hanya terdiam dan tak menduga bahwa selama ini kalimat-kalimat indah yang
selalu dikirimkan oleh Ryn melalui e-mail ternyata adalah Ais yang ada
dibaliknya. Ketika saat itulah pendangan Sam terhadap Ais berubah secara
drastis. Apalagi ternyata diketahui bahwa Ais tengah menderita leukimia yang
secara jelas melarang Ais untuk tidak banyak aktifitas sehingga Ais hanya bisa
terdiam dalam rumah. Namun, kehadiran Sam dirumahnya justru memberikan kesan
tersendiri bagi Ais. Hubungan keduanya kini semakin dekat dan Sam merasa tak
tega dengan Ais karena dibalik rasa iba dari penyakit yang dideritanya, ada
tersirat rasa terimakasih karena pesan-pesan yang dikirimkan selama ini
memberikan cukup banyak manfaat dan pengaruh dalam diri Sam. Perlahan muncul
perasaan cinta dalam diri Sam terhadap Ais dan ketika itulah hubungan mereka
semakin erat.
Suatu ketika Sam berniat
masuk ke dalam kamar Ais untuk mengambilkan obat milik temannya itu dan tanpa
sengaja ia melihat beberapa kertas note
yang menggantung di dalam kamat tersebut. Catatan-catatan kecil yang
menceritakan seluruh perasaan yang dimiliki Ais dan ketika itu pula Sam
membacanya dengan pelan.
Beberapa
diantara catatan-catatan kecil milik Ais menjawab semua kebingungan Sam selama
ini dan justru semua itu membuat ia merasa bersalah dengan apa yang telah ia
pikirkan selama ini terhadapnya. Ia juga menemukan satu lembar catatan yang
tertempel jelas di dinding kamar tentang mimpi yang ingin digapai Ais. Tanpa
sadar Sam meneteskan air mata didalam kamar tersebut setelah menyaksikan apa
yang sangat diharapkan Ais dalam mimpi-mimpinya. Setelah cukup lama berada
dalam tersebut, Sam keluar membawakan obat milik Ais tanpa sedikitpun
menanyakan hal tadi. Bergegas Sam pamit untuk pulang kerumah.
Sesampainya
dirumah, Sam melihat ibunya sedang berdiri di depan dinding rumah yang juga
tertempel rapi foto almarhum ayah Sam dengan memegang selembar surat yang
tampak basah dalam genggaman wanita tersebut. Sam yang merasa heran segera
mendekat dan ingin mengetahui apa yang sedang ibunya lakukan disana. Setelah
mengetahui ibunya yang ketika itu sedang menangis memandang foto almarhum
ayahnya, ibu Sam memberikan kertas basah yang bertuliskan keinginan dari
ayahnya sebelum meninggal.
Dari pesan almarhum
ayahnya itulah, Sam akhirnya sadar mengapa selama ini ibunya selalu memaksakan
dirinya untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas pertanian dan selalu mengatur
hidup Sam dengan harapan ibunya mampu mewujudkan mimpi ayahnya.
“Sam, kamu sekarang tahu
kan maksud ibu? Semua itu adalah mimpi bapakmu. Kamu tahu, ibu selalu berharap
mimpi bapakmu bisa terwujud. Maka dari itu, sejak kamu menolak harapan itu ibu
begitu sedih karena merasa tak mampu mewujudkan permintaannya. Dan karena
itulah, meskipun ibu sudah tua ibu tetap berkebun karena ibu berusaha
mewujudkan mimpi orang yang ibu cinta.
Kini Sam sadar akan arti
cita-cita yang sesungguhnya ada dalam diri ibunya. Beberapa bulan kemudian,
ternyata Ais sudah tak mampu bertahan atas leukimia yang dideritanya sehingga
semua orang harus merelakan kepergiannya menghadap Yang Kuasa. Sam menyaksikan
kamar Ais dibersihkan oleh keluarganya, teringat akan mimpi-mimpi yang telah
ditulis Ais dalam dinding kamarnya. Ia mengambil catatan-catatan dan selembar
mimpi yang hampi saja terbuang itu. Semua itu lalu ia tempel dalam kamar
pribadinya dan ia bertekad untuk mewujudkan mimpi-mimpi tersebut.
***
“...Aku
kini sadar arti cita-cita yang sesungguhnya aku harapkan. Bukan keinginan
tentang keegoisan atau sekedar keinginan yang ingin dikejar. Namun aku telah
belajar dari orang yang benar-benar tahu arti mimpi yang sebenarnya. Seperti
apa yang telah aku pelajari dari hidup ini, bahwa cita-cita terpenting yang
ingin aku gapai saat ini adalah aku bercita-cita untuk melanjutkan mimpi-mimpi
orang yang aku cinta...” – Sam







2 komentar:
lucu banget ceritanyaaaa :D pfft
Baguss bgt cerita.ny, lanjutkan eaaa
Posting Komentar