Jumat, 30 Oktober 2015

Wartel Vs Onthel - (Hanya) Sekedar Masa Lalu




Masa lalu yaa..
Semua orang pasti punya kenangan yang bahkan beberapa ‘sisa-sisa ingatan’ masa lalu tersebut sayang untuk dilupakan. Terlebih ketika kita tiba-tiba mencoba mengingatnya akan merubah perasaan seketika, bisa tertawa sendiri atau bahkan menangis ‘saking’ bahagia/sedihnya peristiwa tersebut.
Kali ini entah bisikan angin dari mana, aku teringat sebuah peristiwa ‘tempo doeloe’ yang memaksaku berdiam sejenak untuk khusyu ‘bertapa’ mengingatnya :D kisah tentang “Wartel” dan “Sepeda Onthel”. Mungkin terdengar jadul dan kuno dimana sebuah cerita yang sempat-sempatnya mengungkit sebuah ‘barang’ yang mungkin sudah mulai dibasmi di abad 21 ini. Ya begitulah, dua benda jadul ini memberikanku kisah tersendiri. Tentang seorang bocah kampung bersama bapaknya menjemput ‘suara’ emaknya dari negeri seberang sana.

Entah pada tahun kapan tepatnya, mungkin kurang lebih sekitar tahun 1999-an dimana tinggi badanku tak lebih dari pohon tomat dewasa :D dengan pemikiran polos seorang bocah yang merindukan emak nya, aku sering diam memandang foto wanita berukuran 4R dan beberapa foto 3x4 di laci almari pakaian. Dimana wanita itu sebenarnya? Tahun 90-an seperti itu masih jamannya perantauan perempuan ke negeri orang untuk mencari nafkah keluarga (TKW) di Saudi Arabia, begitu pula si emak. Bukan karena bapak sudah tak sanggup kerja, tapi karena ‘pengen’. Pengen membantu nafkah keluarga dan pengen mengulang pengalaman di tahun terdahulunya, sekitar 1980-an. Hal itu memaksaku untuk hanya tinggal berdua dengan bapak karena kakak sudah menikah, alias sudah punya keluarga sendiri.
Hari demi hari kami lalui berdua sebagai laki-laki rumah tangga. Nasi yang sering seperti bubur, tempe yang seperti ikan asin serta jemuran baju yang masih penuh sisa detergen. Kadang lucu memang, TAPI... tetap saja foto wanita itu membuatku putus asa. Lalu, apa hubungannya dengan ‘Wartel’ maupun ‘Sepeda Onthel’? Begitulah, kami hanya orang kampung yang hidup sederhana. Saat-saat membahagiakan dalam hidupku kala itu adalah ketika sesekali bapak mengajakku untuk menjemput suara emak yang disana. Berkendara sebuah ‘sepeda onthel’ tua menuju istana yang mempertemukan kita, tempat ‘Warung Telepon’ itu berada. Tapi sebelumnya kami harus menempuh jarak berkilometer jauhnya (sekarang pakai motor sih deket) dengan aku berdiri di boncengan belakang, memegang pundak bapak dan sambil bercanda berdua. Kadang aku bertanya ke bapak “berapa lama aku bisa bicara dengan emak hari ini?” dan bapak dengan tenang menjawab “sampai kamu siap menutup teleponnya, nang”. Aku tersenyum dan menanti hingga kami tiba disana.
Sesampainya disana, bapaknya operator teleponnya hingga akhirnya emak menjawab penggilan kami. Jelas aku biarkan bapak bicara terlebih dahulu karena aku juga tahu bapak pasti merasakan hal yang sama, kangen. Hingga akhirnya telepon itu diserahkan padaku dan.........begitulah, hanya perbincangan sederhana yang bisa diucapkan bocah polos yang merindukan emak nya hingga seringkali aku lihat bapak menangis dibelakangku dan aku hanya bisa ikut ‘cengeng’ dan bertanya, “emak kapan pulang?” dan hanya dijawab “sebentar lagi”, aku diam.
Aku tak ingat berapa lama obrolan itu berlangsung, tapi dari perkiraanku itu tak lebih dari 10 menit. Sempat ku melihat berapa tagihan yang harus bapak bayarkan untuk obrolan singkat ini, sekitar 10-13 ribu. 10 menit dan uang belasan ribulah yang memberikan kami kesempatan untuk menghilangkan kerinduan. Dan hal seperti ini berlangsung berkali-kali. Perjuangan bapak-anak dengan sepeda onthelnya mengejar obrolan 10 menit melewati jarak berkilometer, bermain telepon umum hingga aku benar-benar hafal berapa nomor telepon yang menghubungkan kami bahkan sampai sekarang aku masih hafal nomor itu, 11 digit tepatnya. Tak hanya itu pertanyaan akhir yang aku tanyakan pun sama, “kapan emak akan pulang” dan hanya kalimat “sebentar lagi” jawabnya.
Beranjak Remaja SMA, aku beranikan diri untuk keluar kota (Cuma keluar kabupaten tepatnya) dan tinggal di kost, hingga sampai saat ini, menjadi seorang mahasiswa yang sementara tinggal di perantauan meskipun sejatinya kampung dengan kota ini tak sejauh Saudi Arabia, hanya 1,5 jam dengan ditempuh sepeda motor. Tapi kesedihan yang dirasa justru perihal komunikasi dimana meskipun sekarang aku dan orang tua memiliki alat komunikasi pribadi, rata-rata obrolan kami hanya 10-20 DETIK.. tak lebih dan itu berlangsung 3x sehari. Tak apa, asalkan rutin :D dan komunikasi lebih lama aku puaskan ketika ada dirumah. Hal itulah mengapa aku berusaha sebisa mungkin pulang lebih rutin.
Ketika menyempatkan diri mengingat apa yang terjadi pada masa lalu tentang orang tua, sejatinya diri ini sadar bahwa “diriku belum siap jauh dari orang tua” entah hanya jauh karena jarak tertentu, maupun jauh karena takdir Allah. Yang jelas selama masih ada kesempatan untuk berbakti, akan kulakukan sebaik-baiknya.


0 komentar:

Posting Komentar