Selasa, 19 Juli 2016

Pesan dari Argojati


 (Pekik…)
Terdengar ramai warga tengah berbondong-bondong mendatangi kantor kepala desa. Aku yang sebenarnya bersiap untuk istirahat sontak beranjak mengikuti ayahku menuju tempat kumpulnya teriakan warga yang melengking beberapa saat lalu.
“Ikal ! Ayah pergi dulu” sahut ayah yang baru saja keluar dari kamar mengenakan seragam seperti biasa.
“Mungkinkah ada korban lagi, yah ?” tanyaku gugup pada ayah yang tampak melangkah tergesa-gesa dan sontak aku mengikuti di belakangnya.
“Entahlah...” jawabnya singkat. Dengan perasaan penuh kekhawatiran, kami mempercepat langkah kaki dengan sesekali berlari.
Beberapa hari ini, belakangan sering ditemukan warga kami yang tewas di lokasi hutan desa ini. Namun hingga saat ini, ayah beserta petugas hutan lainnya belum mampu menemukan penyebab jatuhnya korban yang sering dianggap tidak wajar. Pasalnya sebelum hal ini terjadi, desa kami dikenal sebagai desa yang tentram. Terbukti dengan kekayaan alam berupa hutan yang ditumbuhi pohon jati yang tumbuh kokoh menjulang tinggi serta cemara dan beberapa tanaman perkebunan yang mengelilingi sekitar hutan menambahkan kesan rindang. Sebagian besar warga menyambung hidup di hutan yang dinamakan Argojati ini dan memanfaatkan hasil pertanian, perkebunan serta hasil alam lainnya.

Ayahku, yang berprofesi sebagai polisi hutan bertekad untuk menjaga lingkungan alam Argojati bersama beberapa petugas dengan profesi yang sama. Namun beberapa tahun belakangan ini, lingkungan kami memang sering terjadi bencana dan masalah tak terduga lainnya. Kebakaran hutan yang hampir tidak pernah terjadi sejak seratus tahun dalam sejarah desa kami, justru terjadi dua tahun silam dengan menghanguskan hampir 30% wilayah Argojati. Akibatnya desa kami sempat terjadi penurunan ekonomi secara drastis dengan angka kemiskinan yang semakin tinggi. Tidak hanya itu, satu tahun setelah kebakaran hutan Argojati, banjir bandang setinggi hampir tiga meter akibat meluapnya air Kalijati yang mengalir deras sejauh 50 meter dari hutan itu menghanyutkan kampung kecil kami yang mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan. Paska banjir, endemi penyakit kulitpun menyerang warga kami. Kondisi masyarakat dengan ekonomi semakin lemah beserta lingkungan yang tak kunjung membaik itu menimbulkan rasa prihatin dari banyak masyarakat luar wilayah. Terbukti dari banyaknya bantuan yang datang dari masyarakat dan pemerintah akhirnya mampu mengembalikan tingkat kemakmuran warga meskipun belum optimal. Sejak saat itu, kebersamaan dalam membangun desa menjadi lebih makmur dan terjalin semakin baik. Pemanfaatan hasil hutan dengan bijak dan penjagaan kualitas sanitasi lingkungan telah mendapatkan apresiasi pemerintah daerah beberapa bulan silam.
Anehnya, akhir-akhir ini banyak simpang siur dari warga tentang musibah yang kembali datang ke kampung kecil ini. Kematian misterius beberapa warga yang ditemukan di dalam hutan Argojati menjadi teka-teki yang belum mereda. Akibatnya, ketakutan wargapun tak terbendung. Banyak dari mereka yang enggan bekerja di ladang maupun perkebunan hutan dikarenakan rasa takut yang begitu tinggi. Terhitung sejak seminggu silam sudah ada sepuluh warga kami yang tewas tanpa sebab yang pasti. Malam ini, kejadian itupun rupanya kembali mengejutkan kami.
Pak Ken, warga kami yang dikenal sebagai ketua RT yang ramah itu didapatkan meninggal di sebelah utara Argojati dengan kondisi tubuh yang mengenaskan. Tubuhnya berlumuran darah akibat luka tikam dari bagian lengan kanan dan beberapa luka tusuk lain. Mungkinkah karena binatang buas? padahal sepengetahuan kami, belum pernah dijumpai binatang buas satupun selama kami menjalankan aktivitas di wilayah hutan Argojati. Namun dari kondisi yang dialami korban selama ini, mereka rata-rata memiliki ciri-ciri luka yang hampir sama. Sebelumnya, beberapa warga yang menjalankan Poskamling mendengar jeritan pak Ken dari arah hutan hingga akhirnya beliau didapati terbaring lemah di pinggiran hutan dekat sungai.
Melihat tragedi tersebut, Ayah yang menjabat sebagai polisi hutanpun memiliki tugas yang berat. Dalam hal ini, ayah dan beberapa petugas lainnya diharapkan mampu mengetahui penyebab dari kematian warga yang meresahkan ini. Sebelum mereka mendiskusikan rencana mereka, ayah mengajakku untuk pulang mengingat malam sudah semakin petang dan kamipun beranjak untuk beristirahat sebelum esok hari memutuskan apa yang harus dilakukan.
***
Dingin, kabut putih di atasku sudah mulai menyebar tipis. Aku mendapati salam oleh sang kuning dari Timur. Aku memandang ke arah hutan Argojati yang sedikit menutupi sinar mentari pagi. Argojati terletak di sebelah Timur dengan lahan perbukitan yang sedikit lebih tinggi dari perumahan kampung sehingga pemandangan itu dapat terlihat cukup jelas dari rumah. Bias sinar surya tampak bening dan memberikan gambaran keindahan dan kekayaan Argojati dari kampung ini. Namun, terbesit rasa heran dari diriku tentang kemungkinan kekayaan alam kebanggaan warga itu menjadi tempat menakutkan bagi kami saat ini.
Terdengar keramaian petani yang berbondong-bondong berjalan beriringan pada jalan setapak menuju bukit. Aku heran, bukankah warga merasa takut untuk kembali bekerja di kebun hutan itu?
“Yah, apakah warga sudah tidak takut lagi untuk kembali ke hutan pagi ini?” sapaku pada ayah yang nampaknya pagi ini telah menemui warga. Sepertinya ayah hendak kembali ke rumah untuk mengambil sesuatu.
“Iya begitulah. Mereka tidak bisa terus menerus takut seperti ini. Apalagi, para petani harus segera memanen hasil perebunan di hutan untuk kebutuhan ekonomi mereka.” Jawab ayah sembari masuk ke dalam kamarnya.
“Lalu, bagaimana dengan pembunuhan itu?” tanyaku kembali.
“Itulah yang sedang ayah bicarakan pada mereka. Pagi ini ayah beserta petugas hutan lain akan mendampingi mereka yang sedang berkebun di hutan. Instruksinya, mereka harus bekerja bersama-sama dan jangan ada satupun yang pergi seorang diri. Dengan itu, mereka bisa saling menjaga satu sama lain sedangkan ayah dan petugas lain akan berkeliling hutan untuk mencari petunjuk penyebab kasus kita ini.” Jawab ayah jelas dan beliau segera berjalan cepat keluar berpakaian seragam polisi hutan andalannya.
Ada kekhawatiran dari diriku, apalagi ayah tengah menjalankan tugas berbahaya di sana. Beliau memang sosok yang elegan. Tak pernah satupun aku dapati ayah menghiraukan kewajiban yang diamanahkan kepadanya meskipun hal itu sering berisiko tinggi pada keselamatan dirinya. Namun dengan sikap keras kepala, beliau bertekad untuk menjalankan tugasnya sebagai bentuk pengabdian pada desa ini. Bagi ayah, ketentraman dan kedamaian kehidupan kami di kampung kecil ini adalah hal yang utama.
Aku hanya bisa duduk menunggu kabar mereka dari rumah, namun hingga sore hari aku belum juga menjumpai kepulangan ayah dari hutan. Diriku yang menanti hasil dari ekspedisi ayah menjadi semakin khawatir. Pasalnya, sebagian besar warga yang pagi tadi pergi ke hutan untuk bekerja tampaknya sudah pulang ke rumah dan mereka tidak mengetahui kabar dan keberadaan ayah di sana. Aku sempat terbesit pikiran buruk tentang ayah. Mungkinkah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Aku memutuskan pergi ke hutan untuk menjumpai ayah dan melihat apa yang tengah terjadi hingga saat ini. Meskipun sedikit ada rasa takut, namun kekhawatiranku tentang kondisi ayah sekarang telah mengalahkan semuanya hingga aku tetap memutuskan untuk pergi sendiri.
Tepat pukul 17.00, langit tampak semakin senja. Aku tetap berjalan cepat menuju hutan Argojati dan berharap segera berjumpa dengan ayah. Suasana hutan sangat sepi penduduk dan amat mengerikan. Hanya ada suara-suara serangga dan beberapa binatang hutan lainnya yang turut meramaikan suasana. Aku berjalan perlahan menelusuri jalan setapak di tengah hutan dengan sesekali berhenti untuk mengatur napas dan melihat sekitar. Sedikit merinding, namun aku mencoba untuk tetap berani. Beberapa sisa kebakaran hutan dua tahun lalupun masih sempat aku temui di setiap perjalanan.
Sudah setengah jam aku berkeliaran di dalam alam itu. Senja yang semakin gelap belum juga membuatku berhenti hingga akhirnya aku sampai tepat di tengah hutan. Aku belum pernah sejauh ini sebelumnya. Ternyata, di dalam hutan terdapat rawa yang cukup indah. Pantulan sinar senja yang membias ke perairan rawa sangat mempesona. Aku tak sadar ternyata Argojati menyimpan pesona alam perairan yang demikian indah. Namun dibalik keindahan rawa itu, aku tergagetkan dengan kondisi hutan yang sangat mengenaskan.
“Dimana pohon-pohon di sini?” ucapku lirih.
Ya, di tengah hutan ini tampak begitu datar dan gundul. Sisa-sisa penebangan pohon Jati tampak masih berceceran di sekitar. Aku bingung, bukankah ada larangan untuk melakukan penebangan pohon secara bebas? Lalu bagaimana mungkin pohon di sini tampak habis termusnahkan?
Tak cukup dengan pemandangan tengah hutan yang gundul, aku dikagetkan dengan satu pohon yang tampak seperti cemara cukup besar yang ada di sana. Aku menoleh ke arah sekitar sambil sesekali memanggil ayah. Tiba-tiba pohon itu tampak bergerak. Awalnya, aku merasa bahwa ini hanya khayalan ataupun efek gelap yang ada. Namun setelah aku amati seksama ternyata gugaanku benar.
“Pohon itu bergerak, bagaimana mungkin?” aku berguman dan sempat terjatuh setelah tersandung akar pohon di belakangku. Aku kembali menoleh ke arah pohon itu dan betapa terkejutnya ketika ternyata pohon itu tampak bergerak menuju ke arahku. Aku semakin bingung, bagaimana mungkin ada pohon yang bergerak berpindah tempat?
Gerakanku terhalang oleh akar-akar dan batang Jati yang berserakan di sekitarku hingga akhirnya aku jumpai makhluk itu telah berdiri sekitar dua meter di depanku. Aku ketakutan dan berkeringat. Jika di pandang dari dekat, ia tak benar-benar tampak seperti pohon. Hanya saja, tubuhnya di penuhi oleh banyak batang dan dedaunan yang sekilas mirip dengan cemara. Lalu apa sebenarnya makhluk ini, aku sungguh penasaran meskipun masih menyimpan ketakutan. Ia berdiri membungkuk ke arahku. Matanya merah tajam seperti seseorang yang menyimpan dendam. Ditambah suara auman keras yang lebih menakutkan dari binatang buas itu semakin membuatku merinding. Aku terdiam kaku. Memandang monster itu yang tampak bersiap menerkamku.
Namun anehnya, ia hanya memandangku diam. Mata merah yang awalnya terbelalak lebar kini tak lagi tampak menakutkan. Sepertinya monster itu menyadari kehadiranku yang bukan untuk mengganggu. Ia kembali berdiri, berbalik dan segera beranjak pergi meninggalkanku. Tubuhku masih bergetar hebat dan segera aku berlari meninggalkan tempat itu.
Aku berlari tanpa memperdulikan keadaan sekitar yang semakin gelap hingga aku sampai ke rumah dengan kondisi badan yang lusuh. Rupanya ayah telah berada di rumah.
“Ikal ! dari mana saja kamu? Kenapa baju kamu lusuh seperti ini?” ayah tampak marah terhadapku yang pulang hingga larut. Aku hanya diam dan masih menyimpan perasaan takut tentang apa yang aku jumpai di Argojati petang ini.
Malam itu aku hanya duduk mematung. Ayah yang semakin bingung dengan perilakuku sepertinya menyimpan perasaan khawatir. Terlebih dengan tubuhku yang tampak masih bergetar dan merinding, beliau mempersilahkanku untuk segera beristirahat.
***
Pagi itu masih terasa sama. Pengalaman mengerikan yang aku alami kemarin petang belum juga membuatku tenang. Aku masih saja memikirkan tentang makhluk semacam pohon yang hidup di dalam hutan. Bagaimana mungkin makhluk seperti itu ada di hutan ini?
Lamunanku pecah tatkala ayah menyapaku dari balik tirai kamarnya. Tampaknya beliau telah bersiap untuk kembali bertugas. Aku semakin khawatir dengan keselamatan ayah setelah aku mengetahui bahwa ada monster yang hidup di dalam hutan. Namun, ketakutanku belum juga mampu membuatku berani untuk menceritakan hal tersebut.
“Ayah mau ke rumah kepala desa. Kabarnya ada tiga orang yang kembali ditemukan tewas di Argojati. Ayah mau melihatnya” sapa ayah yang bersiap untuk pergi.
“Ikal ikut !” pintaku. Aku yakin, orang-orang yang selama ini ditemukan tewas di hutan pasti ada hubungannya dengan monster itu. Aku dan ayah beranjak menuju rumah kepala desa dengan cepat.
Sesampainya di sana, warga sudah ramai bergelombol. Ayah bergegas menyelinap dalam kerumuman untuk melihat korban yang sepertinya bukan dari desa ini. Ternyata benar, tiga orang yang menjadi korban hari ini rupaya diketahui sebagai penebang hutan liar yang sempat menjadi incaran polisi hutan atas perilaku ilegal mereka beberapa tahun silam.
Menurut keterangan ayah dan beberapa polisi hutan lainnya, Argojati pernah terjadi penebangan hutan ilegal yang telah mencuri banyak pohon Jati di sana. Pelakunya sempat menjadi incaran petugas namun berhasil kabur hingga tak dijumpai kabar sampai saat ini. Rupanya, mereka ke hutan untuk kembali melakukan pencurian pohon namun kini tak disangka mereka telah ditemukan dalam keadaan tewas. Disamping ditemukannya pelaku penebangan hutan liar yang selama ini dicari, semua warga tampak resah dengan kematian yang diakibatkan oleh hutan tersebut. Aku hanya diam.
Kembali ku teringat dengan kondisi tengah hutan dekat rawa yang tampak gundul tanpa pohon. Rupanya hal itu karena aktivitas penebangan hutan yang dilakukan oleh korban-korban ini. Namun, apakah ada hubungannya dengan makhluk itu? Kalau memang benar makhluk tersebut yang selama ini mengincar pelaku penebang liar ini, mengapa juga terdapat warga tak bersalah yang menjadi korban?
Aku sempat mencegah ayah yang berniat untuk kembali ke hutan melihat kondisi yang ada saat ini. Aku hanya khawatir ayah dan petugas lainnya kembali menjadi korban meskipun aku belum sepenuhnya yakin bahwa makhluk itu adalah pelakunya. Kucoba untuk memberanikan diri bercerita tentang makhluk yang aku temui di hutan kemarin senja ke semua warga yang hadir dalam perkumpulan itu, termasuk ayah. Aku menjelaskan semua tentang kondisi tengah hutan yang tampak gundul, rawa, serta makhluk bertubuh pohon mengerikan yang hidup di dalam hutan itu. Banyak dari warga yang berpikiran sama dengan dugaanku bahwa kemungkinan besar pembunuh dari warga yang menjadi korban selama ini adalam monster pohon itu.
“Apaa...Kamu pergi ke dalam hutan sendirian sore-sore? Kamu tahu apa yang kamu lakukan, Ikal? Bagaimana kalau hal buruk terjadi padamu?” ayah tampak sangat marah mendengar aku yang mengetahui waktu itu aku sempat pergi ke hutan seorang diri.
“Aku khawatir dengan ayah yang tak kunjung pulang hingga sore itu. Aku takut terjadi sesuatu pada ayah sehingga aku memutuskan untuk menjemputmu. Maafkan Ikal, yah !” jelasku pada ayah. Sepertinya ayah sangat emosi kala itu dan beberapa warga mencoba untuk menenangkan beliau.
Rupaya keputusanku untuk menceritakan hal ini salah. Justru ayah dan petugas beserta warga laki-laki lainnya bersepakat untuk berbondong-bondong menuju hutan guna menangkap dan membunuh makhluk yang diduga sudah memakan banyak korban itu. Kini, aku tak lagi mampu mencegah kepergian ayah dengan warga yang tampak sudah menyimpan emosi yang kuat. Ayah melarang keras diriku untuk ikut ke hutan dan aku harus menunggu di rumah sampai ayah kembali.
***
Lagi-lagi hingga petang kembali, mereka masih belum ada kabar. Aku mondar-mandir menunggu kepulangan ayah dan warga lain yang sedari tadi berencana menangkap makhluk itu. Sebenarnya aku berniat untuk menjemput mereka namun jika teringat pesan ayah yang melarang keras diriku untuk kembali ke hutan itu sendiri, sungguh aku tak berani melawan perintah ayah. Hingga pukul 19.00 aku tak lagi sanggup menahan rasa khawatirku. Aku tak lagi peduli dengan perintah ayah dan kini untuk pertama kali aku melawan larangan ayah. Aku bertekad kembali ke dalam hutan untuk menemui mereka.
Aku bergegas menuju tengah hutan dimana menjadi sasaran utama mereka. Dari kejauhan aku sudah dapat mendengar teriakan kerumunan warga. Rupanya dugaanku benar, mereka di sana. Aku mengendap-endap untuk melihat apa yang mereka lakukan. Suara auman yang pernah aku dengar kembali mengagetkanku. Ternyata mereka berhasil menemukan dan menangkap monster pohon itu. Berhelai-helai tali rotan yang mengelilingi makhluk itu tampak mengikatnya dengan kuat. Makhluk itu tampaknya mencoba untuk melepaskan diri dengan sesekali meronta dan mengaum namun tak ada hasil. Rotan itu cukup kuat untuk mengikatnya.
Sejujurnya, melihatnya terikat seperti itu aku menjadi iba dan ragu bahwa makhluk itu adalah pembunuh warga yang selama ini menjadi misteri. Pasalnya, kalau hal itu benar mungkin aku sudah terbunuh ketika waktu itu ia menatapku tajam. Apalagi jarak kami sudah sangat dekat. Namun, makhluk itu justru dengan bijak meninggalkanku tanpa melukai sedikitpun. Tampaknya warga tampak puas setelah makhluk itu tertangkap. Aku sedikit berjalan mendekat dan masih dalam kondisi mengendap-endap. Begitu banyak alat yang mereka persiapkan seperti gergaji mesin dan beberapa parang yang menggantung di tangan warga. Sepertinya mereka benar-benar akan membunuh dan memotong-motong makhluk itu layaknya pohon biasa.
Aku berteriak keras untuk menghentikan mereka. Ayah yang melihatku tampak marah karena aku menghiraukan perintahnya. Aku sempat diam. Namun melihat makhluk itu meronta dan tak berdaya, aku mencoba untuk membujuk warga untuk tidak bertindak terlalu cepat. Sepertinya, makhluk itu tampak ingin menjelaskan sesuatu namun kamipun tidak dapat memahaminya. Merasa terlalu lama menunggu, ayahpun menangkapku agar aku tidak banyak bertingkah dan menginstruksikan warga untuk segera membunuh makhluk itu. Ayah memegangku kuat dan dengan jelas aku melihat mereka memotong batang-batang pohon yang ada di tubuh makhluk yang tidak diketahui asal usulnya tersebut.
Melihatnya tampak mengaum kesakitan, aku mencoba untuk menghentikan mereka namun genggaman ayah begitu kuat. Aku memohon kepada ayahku untuk mengijinkanku mendekati makhluk itu, namun beliau tidak memberikanku kesempatan. Emosi warga begitu kuat sehingga dengan kejam memotong-motong batang itu dengan tak kenal ampun.
Aku memandang mata merah itu tampak semakin pucat. Mata mengerikan yang awalnya terbuka lebar kini tampak seperti tatapan mata yang meminta untuk dikasihani. Hingga akhirnya karena tak kuat menahan kekejaman warga yang memotong batang tubuhnya, mata itupun tertutup dan pohon itu tumbang dengan perlahan. Aku melepaskan genggaman ayah dan kini beliau membiarkanku mendekat ke arah makhluk yang telah tumbang itu. Perlahan aku melangkah mendekat. Ia tak bergerak, sepertinya makhluk ini telah tewas.
Aku terduduk di hadapan batang pohon itu dan merasa menyesal dengan perbuatan warga. Aku menatap mata yang kini tertutup rapat dan seketika aku melihat pantulan kilau dari bagian batang tua itu. Aku mengambil bongkahan kristal bulat yang terjatuh dari dalam batang dan melihat apa sebenarnya benda tersebut. Semua warga penasaran dengan apa yang aku temukan dan mereka mendekat ke arahku. Kami menatap sebongkah kaca itu dan tampak ada sesuatu yang tergambar di sana. Sinar itu memantul semakin terang ke depan dan menggambarkan sebuah kisah masa lalu. Tentang hamparan alam hutan Argojati yang begitu hijau serta binatang-binatang hutan yang hidup didalamnya. Apa arti semua ini? Kami saling menatap.
Kami larut dalam kekaguman paparan kisah yang tergambarkan. Namun, beberapa saat kemudian semua menjadi kacau. Penebangan hutan yang begitu luas dan bebas tampaknya merusak sebagian besar wilayah Argojati. Binatang – binatang hutan yang awalnya hidup damai harus kehilangan ekosistem alam mereka. Tak hanya itu, kebakaran hutan yang dengan sengaja dilakukan oleh oknum-oknum penebang ilegal itu ternyata mereka lakukan untuk menutupi kejahatannya. Argojati tidak hanya kehilangan keindahan alam yang hijau, namun juga satwa-satwa yang menghiasi ekosistem itu harus mati terpapar panasnya api yang melahap hutan itu.
Aku menatap gambaran keadaan itu dan teringat dengan musibah yang dialami desa kami. Rupaya inilah jawaban dari asal terjadinya bencana yang menimpa desa beberapa tahun lalu. Pasca kebakaran, warga mencoba untuk kembali menghidupkan hutan ini, namun sebenarnya alam Argojati tidak benar-benar pulih. Sisa-sisa lingkungan yang mati digantikan warga untuk dimanfaatkan sebagai area pertanian dan perkebunan sehingga pohon-pohon tinggi tak lagi tumbuh. Pohon-pohon jati yang menjulang tinggi hanya ditemukan di beberapa wilayah yang memang di luar area terbakar maupun yang ditebang.
Rawa tengah hutan tampak tergambarkan masih sangat kering. Hanya ada satu pohon yang hidup yaitu pohon cemara yang memiliki batang tua dan rapuh. Pohon itu sengaja tidak menjadi target penebangan karena kualitas kayu yang sudah hampir lapuk. Berhari-hari pohon itu tumbuh seorang diri tanpa ada manusia yang memperbaiki alam itu hingga akhirnya ada sosok sinar yang turun di tengah-tengah hujan yang cukup lebat. Semua warga yang menyaksikan gambaran itu menyebutnya sebagai peri penjaga hutan. Mungkinkah?
Kami tetap larut dalam kesaksian kisah yang digambarkan jelas dari kristal itu. Peri itu memberikan kristal kehidupan ke pohon yang satu-satunya hidup di sana. Ya, pohon cemara tua yang menanti kematiannya di tengah hutan. Kristal ini tampaknya menjadi nyawa bagi pohon itu untuk dapat hidup dan bergerak menjadi makhluk yang sudah kami musnahkan itu. Ia bergerak, berjalan dan berpindah tempat layaknya seperti binatang hutan. Meskipun begitu, makhluk pohon tersebut tetap hidup sendiri di tengah hutan dengan sesekali tampak terdiam menatap kondisi hutan yang kering.
Untuk menjawab dugaan kami, rupanya benar makhluk itu membunuh siapa saja yang melewati tengah hutan. Ia menganggap bahwa semua manusia yang berada di wilayah hutan itu dengan membawa senjata dan alat apapun ia anggap sebagai perusak yang telah mengakibatkan lingkungan alamnya menjadi seperti ini. Makhluk itu tak segan-segan membunuh warga dengan batang runcingnya dan tak jarang juga menggunakan alat yang di bawa oleh korban. Mungkin itu sebabnya, selama ini korban yang ditemukan mengalami luka semacam luka tusuk dan luka sayatan benda tajam. Kini, aku tahu mengapa waktu itu ia tak membunuhku karena aku sama sekali tidak membawa alat apapun. Ia menganggapku bukan pelaku perusak, hingga akhirnya kemarin ia menemukan para pelaku penebang dan pembakar hutan seperti yang ia cari selama ini dan menewaskan mereka.
Gambaran kisah itu membuat kami terdiam. Tidak salah kami telah membunuh makhluk itu karena memang ia telah menimbulkan banyak korban dari warga kami yang tewas di hutan ini dan membuat kami resah. Namun jika di pikir-pikir, sepertinya makhluk itu sama seperti kami. Perasaan hidup dalam kesedihan setelah menyaksikan lingkungan tempat tinggalnya telah dirusak dan ia melakukan semua ini untuk menjaga alamnya yang masih ada.
Setelah kejadian itu kami sepakat untuk mencoba kembali menghidupkan hijaunya Argojati secara utuh. Menanam kembali pohon Jati kecil dan beberapa pohon hijau lainnya dengan harapan mampu mengembalikan Argojati yang kaya akan pepohonan kokoh. Memang benar, hutan adalah paru-paru dunia dan akar pohon yang berdiri kokoh itu mampu menjaga lingkungan dari adanya erosi dan banjir. Kami sadar betapa pentingnya menjaga lingkungan alam yang kami miliki. Bagaimanapun juga, alam Argojati memberikan banyak sekali keindahan dan peluang warga untuk hidup damai di desa ini.
Ayah, polisi hutan yang bertekad untuk menjaga Argojati semakin ketat. Banyak sekali peraturan dan undang-undang tentang lingkungan hidup dan hutan yang diterapkan. Semua ini dilakukan demi terciptanya alam Argojati dan lingkungan kami yang tetap terjaga utuh. Kami sadar, tidak hanya kami yang menginginkan kehidupan yang damai dan tentram. Binatang dan pohonpun merupakan makhluk hidup. Mereka mungkin juga memiliki perasaan tentang keinginan hidup sejahtera di alam mereka serta membutuhkan tempat untuk tumbuh dan berkembang dengan layak.
Sampai kapanpun, kampung ini akan menjadi tampat hidup para penjaga hutan Argojati. Tak akan terlupakan, itu juga karena pernah adanya sosok makhluk pohon yang hidup dan akan terus menjadi legenda adanya sebuah pesan alam yang disampaikan dari Argojati.


 
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS: Al-A'raf Ayat: 56)

0 komentar:

Posting Komentar