Terdengar
ramai warga tengah berbondong-bondong mendatangi kantor kepala desa. Aku yang
sebenarnya bersiap untuk istirahat sontak beranjak mengikuti ayahku menuju tempat
kumpulnya teriakan warga yang melengking beberapa saat lalu.
“Ikal
! Ayah pergi dulu” sahut ayah yang baru saja keluar dari kamar mengenakan
seragam seperti biasa.
“Mungkinkah
ada korban lagi, yah ?” tanyaku gugup pada ayah yang tampak melangkah
tergesa-gesa dan sontak aku mengikuti di belakangnya.
“Entahlah...”
jawabnya singkat. Dengan perasaan penuh kekhawatiran, kami mempercepat langkah kaki
dengan sesekali berlari.
Beberapa
hari ini, belakangan sering ditemukan warga kami yang tewas di lokasi hutan
desa ini. Namun hingga saat ini, ayah beserta petugas hutan lainnya belum mampu
menemukan penyebab jatuhnya korban yang sering dianggap tidak wajar. Pasalnya
sebelum hal ini terjadi, desa kami dikenal sebagai desa yang tentram. Terbukti
dengan kekayaan alam berupa hutan yang ditumbuhi pohon jati yang tumbuh kokoh
menjulang tinggi serta cemara dan beberapa
tanaman perkebunan yang mengelilingi sekitar hutan menambahkan kesan rindang.
Sebagian besar warga menyambung hidup di hutan yang dinamakan Argojati ini dan
memanfaatkan hasil pertanian, perkebunan serta hasil alam lainnya.
Ayahku,
yang berprofesi sebagai polisi hutan bertekad untuk menjaga lingkungan alam Argojati
bersama beberapa petugas dengan profesi yang sama. Namun beberapa tahun
belakangan ini, lingkungan kami memang sering terjadi bencana dan masalah tak
terduga lainnya. Kebakaran hutan yang hampir tidak pernah terjadi sejak seratus
tahun dalam sejarah desa kami, justru terjadi dua tahun silam dengan
menghanguskan hampir 30% wilayah Argojati. Akibatnya desa kami sempat terjadi penurunan
ekonomi secara drastis dengan angka kemiskinan yang semakin tinggi. Tidak hanya
itu, satu tahun setelah kebakaran hutan Argojati, banjir bandang setinggi
hampir tiga meter akibat meluapnya air Kalijati yang mengalir deras sejauh 50
meter dari hutan itu menghanyutkan kampung kecil kami yang mengakibatkan
penurunan kualitas lingkungan. Paska banjir, endemi penyakit kulitpun menyerang
warga kami. Kondisi masyarakat dengan ekonomi semakin lemah beserta lingkungan
yang tak kunjung membaik itu menimbulkan rasa prihatin dari banyak masyarakat
luar wilayah. Terbukti dari banyaknya bantuan yang datang dari masyarakat dan
pemerintah akhirnya mampu mengembalikan tingkat kemakmuran warga meskipun belum
optimal. Sejak saat itu, kebersamaan dalam membangun desa menjadi lebih makmur dan
terjalin semakin baik. Pemanfaatan hasil hutan dengan bijak dan penjagaan
kualitas sanitasi lingkungan telah mendapatkan apresiasi pemerintah daerah
beberapa bulan silam.
Anehnya,
akhir-akhir ini banyak simpang siur dari warga tentang musibah yang kembali
datang ke kampung kecil ini. Kematian misterius beberapa warga yang ditemukan
di dalam hutan Argojati menjadi teka-teki yang belum mereda. Akibatnya,
ketakutan wargapun tak terbendung. Banyak dari mereka yang enggan bekerja di
ladang maupun perkebunan hutan dikarenakan rasa takut yang begitu tinggi.
Terhitung sejak seminggu silam sudah ada sepuluh warga kami yang tewas tanpa
sebab yang pasti. Malam ini, kejadian itupun rupanya kembali mengejutkan kami.
Pak
Ken, warga kami yang dikenal sebagai ketua RT yang ramah itu didapatkan meninggal
di sebelah utara Argojati dengan kondisi tubuh yang mengenaskan. Tubuhnya
berlumuran darah akibat luka tikam dari bagian lengan kanan dan beberapa luka
tusuk lain. Mungkinkah karena binatang buas? padahal sepengetahuan kami, belum
pernah dijumpai binatang buas satupun selama kami menjalankan aktivitas di
wilayah hutan Argojati. Namun dari kondisi yang dialami korban selama ini,
mereka rata-rata memiliki ciri-ciri luka yang hampir sama. Sebelumnya, beberapa
warga yang menjalankan Poskamling mendengar jeritan pak Ken dari arah hutan
hingga akhirnya beliau didapati terbaring lemah di pinggiran hutan dekat
sungai.
Melihat
tragedi tersebut, Ayah yang menjabat sebagai polisi hutanpun memiliki tugas
yang berat. Dalam hal ini, ayah dan beberapa petugas lainnya diharapkan mampu
mengetahui penyebab dari kematian warga yang meresahkan ini. Sebelum mereka
mendiskusikan rencana mereka, ayah mengajakku untuk pulang mengingat malam
sudah semakin petang dan kamipun beranjak untuk beristirahat sebelum esok hari
memutuskan apa yang harus dilakukan.
***
Dingin,
kabut putih di atasku sudah mulai menyebar tipis. Aku mendapati salam oleh sang
kuning dari Timur. Aku memandang ke arah hutan Argojati yang sedikit menutupi
sinar mentari pagi. Argojati terletak di sebelah Timur dengan lahan perbukitan
yang sedikit lebih tinggi dari perumahan kampung sehingga pemandangan itu dapat
terlihat cukup jelas dari rumah. Bias sinar surya tampak bening dan memberikan
gambaran keindahan dan kekayaan Argojati dari kampung ini. Namun, terbesit rasa
heran dari diriku tentang kemungkinan kekayaan alam kebanggaan warga itu
menjadi tempat menakutkan bagi kami saat ini.
Terdengar
keramaian petani yang berbondong-bondong berjalan beriringan pada jalan setapak
menuju bukit. Aku heran, bukankah warga merasa takut untuk kembali bekerja di
kebun hutan itu?
“Yah,
apakah warga sudah tidak takut lagi untuk kembali ke hutan pagi ini?” sapaku
pada ayah yang nampaknya pagi ini telah menemui warga. Sepertinya ayah hendak
kembali ke rumah untuk mengambil sesuatu.
“Iya
begitulah. Mereka tidak bisa terus menerus takut seperti ini. Apalagi, para
petani harus segera memanen hasil perebunan di hutan untuk kebutuhan ekonomi
mereka.” Jawab ayah sembari masuk ke dalam kamarnya.
“Lalu,
bagaimana dengan pembunuhan itu?” tanyaku kembali.
“Itulah
yang sedang ayah bicarakan pada mereka. Pagi ini ayah beserta petugas hutan lain
akan mendampingi mereka yang sedang berkebun di hutan. Instruksinya, mereka
harus bekerja bersama-sama dan jangan ada satupun yang pergi seorang diri.
Dengan itu, mereka bisa saling menjaga satu sama lain sedangkan ayah dan
petugas lain akan berkeliling hutan untuk mencari petunjuk penyebab kasus kita
ini.” Jawab ayah jelas dan beliau segera berjalan cepat keluar berpakaian
seragam polisi hutan andalannya.
Ada
kekhawatiran dari diriku, apalagi ayah tengah menjalankan tugas berbahaya di sana.
Beliau memang sosok yang elegan. Tak pernah satupun aku dapati ayah
menghiraukan kewajiban yang diamanahkan kepadanya meskipun hal itu sering berisiko
tinggi pada keselamatan dirinya. Namun dengan sikap keras kepala, beliau
bertekad untuk menjalankan tugasnya sebagai bentuk pengabdian pada desa ini. Bagi
ayah, ketentraman dan kedamaian kehidupan kami di kampung kecil ini adalah hal
yang utama.
Aku
hanya bisa duduk menunggu kabar mereka dari rumah, namun hingga sore hari aku
belum juga menjumpai kepulangan ayah dari hutan. Diriku yang menanti hasil dari
ekspedisi ayah menjadi semakin khawatir. Pasalnya, sebagian besar warga yang
pagi tadi pergi ke hutan untuk bekerja tampaknya sudah pulang ke rumah dan
mereka tidak mengetahui kabar dan keberadaan ayah di sana. Aku sempat terbesit
pikiran buruk tentang ayah. Mungkinkah terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Aku memutuskan pergi ke hutan untuk menjumpai ayah dan melihat apa yang tengah
terjadi hingga saat ini. Meskipun sedikit ada rasa takut, namun kekhawatiranku
tentang kondisi ayah sekarang telah mengalahkan semuanya hingga aku tetap memutuskan
untuk pergi sendiri.
Tepat
pukul 17.00, langit tampak semakin senja. Aku tetap berjalan cepat menuju hutan
Argojati dan berharap segera berjumpa dengan ayah. Suasana hutan sangat sepi
penduduk dan amat mengerikan. Hanya ada suara-suara serangga dan beberapa
binatang hutan lainnya yang turut meramaikan suasana. Aku berjalan perlahan
menelusuri jalan setapak di tengah hutan dengan sesekali berhenti untuk
mengatur napas dan melihat sekitar. Sedikit merinding, namun aku mencoba untuk
tetap berani. Beberapa sisa kebakaran hutan dua tahun lalupun masih sempat aku
temui di setiap perjalanan.
Sudah
setengah jam aku berkeliaran di dalam alam itu. Senja yang semakin gelap belum
juga membuatku berhenti hingga akhirnya aku sampai tepat di tengah hutan. Aku
belum pernah sejauh ini sebelumnya. Ternyata, di dalam hutan terdapat rawa yang
cukup indah. Pantulan sinar senja yang membias ke perairan rawa sangat
mempesona. Aku tak sadar ternyata Argojati menyimpan pesona alam perairan yang
demikian indah. Namun dibalik keindahan rawa itu, aku tergagetkan dengan kondisi
hutan yang sangat mengenaskan.
“Dimana
pohon-pohon di sini?” ucapku lirih.
Ya,
di tengah hutan ini tampak begitu datar dan gundul. Sisa-sisa penebangan pohon
Jati tampak masih berceceran di sekitar. Aku bingung, bukankah ada larangan
untuk melakukan penebangan pohon secara bebas? Lalu bagaimana mungkin pohon di sini
tampak habis termusnahkan?
Tak
cukup dengan pemandangan tengah hutan yang gundul, aku dikagetkan dengan satu
pohon yang tampak seperti cemara cukup besar yang ada di sana. Aku menoleh ke arah
sekitar sambil sesekali memanggil ayah. Tiba-tiba pohon itu tampak bergerak.
Awalnya, aku merasa bahwa ini hanya khayalan ataupun efek gelap yang ada. Namun
setelah aku amati seksama ternyata gugaanku benar.
“Pohon
itu bergerak, bagaimana mungkin?” aku berguman dan sempat terjatuh setelah
tersandung akar pohon di belakangku. Aku kembali menoleh ke arah pohon itu dan
betapa terkejutnya ketika ternyata pohon itu tampak bergerak menuju ke arahku.
Aku semakin bingung, bagaimana mungkin ada pohon yang bergerak berpindah tempat?
Gerakanku
terhalang oleh akar-akar dan batang Jati yang berserakan di sekitarku hingga
akhirnya aku jumpai makhluk itu telah berdiri sekitar dua meter di depanku. Aku
ketakutan dan berkeringat. Jika di pandang dari dekat, ia tak benar-benar
tampak seperti pohon. Hanya saja, tubuhnya di penuhi oleh banyak batang dan
dedaunan yang sekilas mirip dengan cemara. Lalu apa sebenarnya makhluk ini, aku
sungguh penasaran meskipun masih menyimpan ketakutan. Ia berdiri membungkuk ke
arahku. Matanya merah tajam seperti seseorang yang menyimpan dendam. Ditambah
suara auman keras yang lebih menakutkan dari binatang buas itu semakin
membuatku merinding. Aku terdiam kaku. Memandang monster itu yang tampak
bersiap menerkamku.
Namun
anehnya, ia hanya memandangku diam. Mata merah yang awalnya terbelalak lebar
kini tak lagi tampak menakutkan. Sepertinya monster itu menyadari kehadiranku
yang bukan untuk mengganggu. Ia kembali berdiri, berbalik dan segera beranjak
pergi meninggalkanku. Tubuhku masih bergetar hebat dan segera aku berlari
meninggalkan tempat itu.
Aku
berlari tanpa memperdulikan keadaan sekitar yang semakin gelap hingga aku
sampai ke rumah dengan kondisi badan yang lusuh. Rupanya ayah telah berada di
rumah.
“Ikal
! dari mana saja kamu? Kenapa baju kamu lusuh seperti ini?” ayah tampak marah
terhadapku yang pulang hingga larut. Aku hanya diam dan masih menyimpan
perasaan takut tentang apa yang aku jumpai di Argojati petang ini.
Malam
itu aku hanya duduk mematung. Ayah yang semakin bingung dengan perilakuku
sepertinya menyimpan perasaan khawatir. Terlebih dengan tubuhku yang tampak
masih bergetar dan merinding, beliau mempersilahkanku untuk segera
beristirahat.
***
Pagi
itu masih terasa sama. Pengalaman mengerikan yang aku alami kemarin petang
belum juga membuatku tenang. Aku masih saja memikirkan tentang makhluk semacam
pohon yang hidup di dalam hutan. Bagaimana mungkin makhluk seperti itu ada di
hutan ini?
Lamunanku
pecah tatkala ayah menyapaku dari balik tirai kamarnya. Tampaknya beliau telah
bersiap untuk kembali bertugas. Aku semakin khawatir dengan keselamatan ayah
setelah aku mengetahui bahwa ada monster yang hidup di dalam hutan. Namun,
ketakutanku belum juga mampu membuatku berani untuk menceritakan hal tersebut.
“Ayah
mau ke rumah kepala desa. Kabarnya ada tiga orang yang kembali ditemukan tewas
di Argojati. Ayah mau melihatnya” sapa ayah yang bersiap untuk pergi.
“Ikal
ikut !” pintaku. Aku yakin, orang-orang yang selama ini ditemukan tewas di
hutan pasti ada hubungannya dengan monster itu. Aku dan ayah beranjak menuju
rumah kepala desa dengan cepat.
Sesampainya
di sana, warga sudah ramai bergelombol. Ayah bergegas menyelinap dalam
kerumuman untuk melihat korban yang sepertinya bukan dari desa ini. Ternyata
benar, tiga orang yang menjadi korban hari ini rupaya diketahui sebagai
penebang hutan liar yang sempat menjadi incaran polisi hutan atas perilaku ilegal
mereka beberapa tahun silam.
Menurut
keterangan ayah dan beberapa polisi hutan lainnya, Argojati pernah terjadi
penebangan hutan ilegal yang telah mencuri banyak pohon Jati di sana. Pelakunya
sempat menjadi incaran petugas namun berhasil kabur hingga tak dijumpai kabar
sampai saat ini. Rupanya, mereka ke hutan untuk kembali melakukan pencurian
pohon namun kini tak disangka mereka telah ditemukan dalam keadaan tewas.
Disamping ditemukannya pelaku penebangan hutan liar yang selama ini dicari,
semua warga tampak resah dengan kematian yang diakibatkan oleh hutan tersebut.
Aku hanya diam.
Kembali
ku teringat dengan kondisi tengah hutan dekat rawa yang tampak gundul tanpa
pohon. Rupanya hal itu karena aktivitas penebangan hutan yang dilakukan oleh
korban-korban ini. Namun, apakah ada hubungannya dengan makhluk itu? Kalau
memang benar makhluk tersebut yang selama ini mengincar pelaku penebang liar
ini, mengapa juga terdapat warga tak bersalah yang menjadi korban?
Aku
sempat mencegah ayah yang berniat untuk kembali ke hutan melihat kondisi yang
ada saat ini. Aku hanya khawatir ayah dan petugas lainnya kembali menjadi
korban meskipun aku belum sepenuhnya yakin bahwa makhluk itu adalah pelakunya.
Kucoba untuk memberanikan diri bercerita tentang makhluk yang aku temui di
hutan kemarin senja ke semua warga yang hadir dalam perkumpulan itu, termasuk
ayah. Aku menjelaskan semua tentang kondisi tengah hutan yang tampak gundul,
rawa, serta makhluk bertubuh pohon mengerikan yang hidup di dalam hutan itu.
Banyak dari warga yang berpikiran sama dengan dugaanku bahwa kemungkinan besar
pembunuh dari warga yang menjadi korban selama ini adalam monster pohon itu.
“Apaa...Kamu
pergi ke dalam hutan sendirian sore-sore? Kamu tahu apa yang kamu lakukan,
Ikal? Bagaimana kalau hal buruk terjadi padamu?” ayah tampak sangat marah
mendengar aku yang mengetahui waktu itu aku sempat pergi ke hutan seorang diri.
“Aku
khawatir dengan ayah yang tak kunjung pulang hingga sore itu. Aku takut terjadi
sesuatu pada ayah sehingga aku memutuskan untuk menjemputmu. Maafkan Ikal, yah
!” jelasku pada ayah. Sepertinya ayah sangat emosi kala itu dan beberapa warga
mencoba untuk menenangkan beliau.
Rupaya
keputusanku untuk menceritakan hal ini salah. Justru ayah dan petugas beserta
warga laki-laki lainnya bersepakat untuk berbondong-bondong menuju hutan guna
menangkap dan membunuh makhluk yang diduga sudah memakan banyak korban itu.
Kini, aku tak lagi mampu mencegah kepergian ayah dengan warga yang tampak sudah
menyimpan emosi yang kuat. Ayah melarang keras diriku untuk ikut ke hutan dan
aku harus menunggu di rumah sampai ayah kembali.
***
Lagi-lagi
hingga petang kembali, mereka masih belum ada kabar. Aku mondar-mandir menunggu
kepulangan ayah dan warga lain yang sedari tadi berencana menangkap makhluk
itu. Sebenarnya aku berniat untuk menjemput mereka namun jika teringat pesan
ayah yang melarang keras diriku untuk kembali ke hutan itu sendiri, sungguh aku
tak berani melawan perintah ayah. Hingga pukul 19.00 aku tak lagi sanggup
menahan rasa khawatirku. Aku tak lagi peduli dengan perintah ayah dan kini
untuk pertama kali aku melawan larangan ayah. Aku bertekad kembali ke dalam
hutan untuk menemui mereka.
Aku
bergegas menuju tengah hutan dimana menjadi sasaran utama mereka. Dari kejauhan
aku sudah dapat mendengar teriakan kerumunan warga. Rupanya dugaanku benar,
mereka di sana. Aku mengendap-endap untuk melihat apa yang mereka lakukan.
Suara auman yang pernah aku dengar kembali mengagetkanku. Ternyata mereka
berhasil menemukan dan menangkap monster pohon itu. Berhelai-helai tali rotan
yang mengelilingi makhluk itu tampak mengikatnya dengan kuat. Makhluk itu
tampaknya mencoba untuk melepaskan diri dengan sesekali meronta dan mengaum
namun tak ada hasil. Rotan itu cukup kuat untuk mengikatnya.
Sejujurnya,
melihatnya terikat seperti itu aku menjadi iba dan ragu bahwa makhluk itu
adalah pembunuh warga yang selama ini menjadi misteri. Pasalnya, kalau hal itu
benar mungkin aku sudah terbunuh ketika waktu itu ia menatapku tajam. Apalagi
jarak kami sudah sangat dekat. Namun, makhluk itu justru dengan bijak
meninggalkanku tanpa melukai sedikitpun. Tampaknya warga tampak puas setelah
makhluk itu tertangkap. Aku sedikit berjalan mendekat dan masih dalam kondisi
mengendap-endap. Begitu banyak alat yang mereka persiapkan seperti gergaji
mesin dan beberapa parang yang menggantung di tangan warga. Sepertinya mereka
benar-benar akan membunuh dan memotong-motong makhluk itu layaknya pohon biasa.
Aku
berteriak keras untuk menghentikan mereka. Ayah yang melihatku tampak marah
karena aku menghiraukan perintahnya. Aku sempat diam. Namun melihat makhluk itu
meronta dan tak berdaya, aku mencoba untuk membujuk warga untuk tidak bertindak
terlalu cepat. Sepertinya, makhluk itu tampak ingin menjelaskan sesuatu namun
kamipun tidak dapat memahaminya. Merasa terlalu lama menunggu, ayahpun
menangkapku agar aku tidak banyak bertingkah dan menginstruksikan warga untuk
segera membunuh makhluk itu. Ayah memegangku kuat dan dengan jelas aku melihat
mereka memotong batang-batang pohon yang ada di tubuh makhluk yang tidak
diketahui asal usulnya tersebut.
Melihatnya
tampak mengaum kesakitan, aku mencoba untuk menghentikan mereka namun genggaman
ayah begitu kuat. Aku memohon kepada ayahku untuk mengijinkanku mendekati
makhluk itu, namun beliau tidak memberikanku kesempatan. Emosi warga begitu
kuat sehingga dengan kejam memotong-motong batang itu dengan tak kenal ampun.
Aku
memandang mata merah itu tampak semakin pucat. Mata mengerikan yang awalnya
terbuka lebar kini tampak seperti tatapan mata yang meminta untuk dikasihani.
Hingga akhirnya karena tak kuat menahan kekejaman warga yang memotong batang
tubuhnya, mata itupun tertutup dan pohon itu tumbang dengan perlahan. Aku
melepaskan genggaman ayah dan kini beliau membiarkanku mendekat ke arah makhluk
yang telah tumbang itu. Perlahan aku melangkah mendekat. Ia tak bergerak,
sepertinya makhluk ini telah tewas.
Aku
terduduk di hadapan batang pohon itu dan merasa menyesal dengan perbuatan
warga. Aku menatap mata yang kini tertutup rapat dan seketika aku melihat
pantulan kilau dari bagian batang tua itu. Aku mengambil bongkahan kristal
bulat yang terjatuh dari dalam batang dan melihat apa sebenarnya benda tersebut.
Semua warga penasaran dengan apa yang aku temukan dan mereka mendekat ke
arahku. Kami menatap sebongkah kaca itu dan tampak ada sesuatu yang tergambar
di sana. Sinar itu memantul semakin terang ke depan dan menggambarkan sebuah
kisah masa lalu. Tentang hamparan alam hutan Argojati yang begitu hijau serta
binatang-binatang hutan yang hidup didalamnya. Apa arti semua ini? Kami saling
menatap.
Kami
larut dalam kekaguman paparan kisah yang tergambarkan. Namun, beberapa saat
kemudian semua menjadi kacau. Penebangan hutan yang begitu luas dan bebas
tampaknya merusak sebagian besar wilayah Argojati. Binatang – binatang hutan
yang awalnya hidup damai harus kehilangan ekosistem alam mereka. Tak hanya itu,
kebakaran hutan yang dengan sengaja dilakukan oleh oknum-oknum penebang ilegal
itu ternyata mereka lakukan untuk menutupi kejahatannya. Argojati tidak hanya
kehilangan keindahan alam yang hijau, namun juga satwa-satwa yang menghiasi
ekosistem itu harus mati terpapar panasnya api yang melahap hutan itu.
Aku
menatap gambaran keadaan itu dan teringat dengan musibah yang dialami desa
kami. Rupaya inilah jawaban dari asal terjadinya bencana yang menimpa desa beberapa
tahun lalu. Pasca kebakaran, warga mencoba untuk kembali menghidupkan hutan
ini, namun sebenarnya alam Argojati tidak benar-benar pulih. Sisa-sisa
lingkungan yang mati digantikan warga untuk dimanfaatkan sebagai area pertanian
dan perkebunan sehingga pohon-pohon tinggi tak lagi tumbuh. Pohon-pohon jati
yang menjulang tinggi hanya ditemukan di beberapa wilayah yang memang di luar
area terbakar maupun yang ditebang.
Rawa
tengah hutan tampak tergambarkan masih sangat kering. Hanya ada satu pohon yang
hidup yaitu pohon cemara yang memiliki batang tua dan rapuh. Pohon itu sengaja
tidak menjadi target penebangan karena kualitas kayu yang sudah hampir lapuk.
Berhari-hari pohon itu tumbuh seorang diri tanpa ada manusia yang memperbaiki
alam itu hingga akhirnya ada sosok sinar yang turun di tengah-tengah hujan yang
cukup lebat. Semua warga yang menyaksikan gambaran itu menyebutnya sebagai peri
penjaga hutan. Mungkinkah?
Kami
tetap larut dalam kesaksian kisah yang digambarkan jelas dari kristal itu. Peri
itu memberikan kristal kehidupan ke pohon yang satu-satunya hidup di sana. Ya,
pohon cemara tua yang menanti kematiannya di tengah hutan. Kristal ini
tampaknya menjadi nyawa bagi pohon itu untuk dapat hidup dan bergerak menjadi
makhluk yang sudah kami musnahkan itu. Ia bergerak, berjalan dan berpindah
tempat layaknya seperti binatang hutan. Meskipun begitu, makhluk pohon tersebut
tetap hidup sendiri di tengah hutan dengan sesekali tampak terdiam menatap
kondisi hutan yang kering.
Untuk
menjawab dugaan kami, rupanya benar makhluk itu membunuh siapa saja yang
melewati tengah hutan. Ia menganggap bahwa semua manusia yang berada di wilayah
hutan itu dengan membawa senjata dan alat apapun ia anggap sebagai perusak yang
telah mengakibatkan lingkungan alamnya menjadi seperti ini. Makhluk itu tak
segan-segan membunuh warga dengan batang runcingnya dan tak jarang juga
menggunakan alat yang di bawa oleh korban. Mungkin itu sebabnya, selama ini
korban yang ditemukan mengalami luka semacam luka tusuk dan luka sayatan benda
tajam. Kini, aku tahu mengapa waktu itu ia tak membunuhku karena aku sama
sekali tidak membawa alat apapun. Ia menganggapku bukan pelaku perusak, hingga
akhirnya kemarin ia menemukan para pelaku penebang dan pembakar hutan seperti
yang ia cari selama ini dan menewaskan mereka.
Gambaran
kisah itu membuat kami terdiam. Tidak salah kami telah membunuh makhluk itu karena
memang ia telah menimbulkan banyak korban dari warga kami yang tewas di hutan
ini dan membuat kami resah. Namun jika di pikir-pikir, sepertinya makhluk itu
sama seperti kami. Perasaan hidup dalam kesedihan setelah menyaksikan
lingkungan tempat tinggalnya telah dirusak dan ia melakukan semua ini untuk
menjaga alamnya yang masih ada.
Setelah
kejadian itu kami sepakat untuk mencoba kembali menghidupkan hijaunya Argojati
secara utuh. Menanam kembali pohon Jati kecil dan beberapa pohon hijau lainnya
dengan harapan mampu mengembalikan Argojati yang kaya akan pepohonan kokoh.
Memang benar, hutan adalah paru-paru dunia dan akar pohon yang berdiri kokoh
itu mampu menjaga lingkungan dari adanya erosi dan banjir. Kami sadar betapa
pentingnya menjaga lingkungan alam yang kami miliki. Bagaimanapun juga, alam
Argojati memberikan banyak sekali keindahan dan peluang warga untuk hidup damai
di desa ini.
Ayah,
polisi hutan yang bertekad untuk menjaga Argojati semakin ketat. Banyak sekali
peraturan dan undang-undang tentang lingkungan hidup dan hutan yang diterapkan.
Semua ini dilakukan demi terciptanya alam Argojati dan lingkungan kami yang
tetap terjaga utuh. Kami sadar, tidak hanya kami yang menginginkan kehidupan
yang damai dan tentram. Binatang dan pohonpun merupakan makhluk hidup. Mereka mungkin
juga memiliki perasaan tentang keinginan hidup sejahtera di alam mereka serta membutuhkan
tempat untuk tumbuh dan berkembang dengan layak.
Sampai
kapanpun, kampung ini akan menjadi tampat hidup para penjaga hutan Argojati.
Tak akan terlupakan, itu juga karena pernah adanya sosok makhluk pohon yang hidup
dan akan terus menjadi legenda adanya sebuah pesan alam yang disampaikan dari
Argojati.
“Dan
janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya
dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan
(akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang
berbuat baik.” (QS: Al-A'raf
Ayat: 56)




0 komentar:
Posting Komentar