Jumat, 01 September 2017

Kyai, Wejanganmu Membuatku Hidup



Aku memandang jalanan penuh debu itu bertarung dengan panasnya siang ini. Beberapa kali kami lewati jalanan pedesaan dan tak jarang aku melihat bocah-bocah bercanda ria sepulang sekolah. Ahh, aku memahami apa yang mereka tertawakan karena aku dulu juga pernah mengalami masa-masa itu. Masa dimana aku belajar tentang hidup dan nilai-nilai di dalamnya.
“Pak, kita sudah hampir sampai”. Suara serak basah dari laki-laki berkumis yang saat ini tengah mengendarai mobil yang aku tumpangi membangunkanku dari lamunan.
“Oh, nanti kita turun di pertigaan saja supaya nanti tidak perlu putar balik” jawabku kepadanya.
Kami berhenti di 5 meter sebelah timur pertigaan gang menuju tempat yang kami tuju. Sejenak aku amati lingkungan sekitar dan membawaku pada hangatnya atmosfer yang sekian lama aku rindukan. Aku keluar dari mobil dan beberapa warga menatapku dari emperan rumah mereka. Rumah-rumah kayu yang aku rindukan, juga bebatuan padas yang menyapa telapak sepatuku membuatku sejenak tersenyum lega. Alhamdulillah, aku kembali ke tempat ini.
Setengah menit kemudian, dengan sigap seorang laki-laki paruh baya menyapa dan memberiku salam hormat. Aku tersenyum dan menyalaminya dengan sopan. Aku mengingat bapak ini. Beliau adalah pak Toha, salah satu orang yang berjasa dalam hidupku.
“Mari pak Walikota, saya antar ke sana” beliau sedikit membungkuk dengan tangan kirinya mempersilakanku untuk berjalan bersamanya. Lagi-lagi aku hanya tersenyum mengangguk.
Namaku Sugeng Dharmawan, dan benarlah saat ini aku adalah seorang Walikota. Bukan pejabat dari kabupaten wilayah ini, namun aku menjabat di kota tempat aku dilahirkan. Sekarang, aku tengah berdiri di desa dimana masa kecilku dididik dengan penuh ruhiyah. Ya, di desa ini terdapat satu pesantren bernama “Nurul Iman” yang menjadikanku salah satu bagian keluarganya pada tahun 1986-1991 silam. Rumah yang memberikanku banyak bekal kehidupan dan membawaku bertahan pada rumitnya kehidupan di masa kini.
Rencana pembangunan yang disusun oleh Kepemerintahan Bupati wilayah ini, mengusulkan bangunan pesantren tua yang sudah lama tak dikelola ini direnovasi untuk dialih fungsikan menjadi sebuah Sekolah Dasar. Usulan itu banyak didukung oleh warga sekitar mengingat selain bangunan pesantren ini sudah lama tak difungsikan, juga memberikan kemudahan bagi anak-anak agar dapat menikmati dunia pendidikan lebih mudah. Namun, ada beberapa pihak yang dulunya pernah berhubungan dengan tempat ini cukup miris dan kurang rela. Alasan tidak dikelolanya pesantren ini kurang aku ketahui secara jelas, namun beberapa kabar menjelaskan tentang masalah yang hampir sama yang pernah aku dan teman-teman seperjuanganku alami pada masa-masa itu.
Aku membuka pintu utama bangunan pesantren yang terbuat dari kayu jati yang saat ini sudah mulai lapuk termakan usia. Pintu terbuka dengan decit suara khas yang membuatku masih saja tak bisa menahan tawa. Suhu di dalam ruangan mempunyai aura tersendiri. Aroma yang membuatku selalu tidur tidak nyenyak semenjak meninggalkan tempat ini masih sangat jelas. Aku meneteskan beberapa butir air mata dan semakin miris jika membayangkan rumah ini akan diruntuhkan. Pak Toha mempersilakanku untuk masuk dan melihat kondisi di dalam. Aku amati beberapa diplak yang biasa kami gunakan untuk mengaji masih berjejer rapi, meja-meja panjang yang dulu sering menjadi ajang berebut baris, tikar bambu yang terlipat serta papan tulis yang masih bercecerkan tulisan amat kusam terkena tetesan air hujan. Aku terdiam ketika pak Toha membukakan untukku sebuah almari kecil yang aku tahu betul apa isi di dalamnya. Sebuah sorban putih agak kekuningan yang pernah Kyai berikan kepadaku sebelum beliau wafat. Emosiku seketika tak terbendung ketika aku memegang dan mencium kain tersebut. Aroma khas Kyai Habib Khosim dengan sisa-sisa bau minyak pijit itu masih sangat kental. Isak tangis dan air mata ini membanjiri kain tua yang tengah aku tempelkan pada wajahku.
“Kyai, jazakallah khairan katsir atas segalanya” bisikku pada kain itu. Sangat jelas, di tempat inilah hidupku mulai ditata.
***
Tahun 1988, usia 7 tahun bukan jalan yang mudah untuk meninggalkan emak yang saat itu baru saja ditinggalkan oleh bapak yang meninggal karena kecelakaan becak. Beban ekonomi keluargaku sepenuhnya ditanggung oleh emak yang mengurus kami 5 bersaudara untuk tetap hidup. Namun, jerih payah ibu hanya mampu memberikan kami makan dua kali sehari dengan ketela dan nasi aking sebagai makanan kami. Tentu saja, kami berlima hanya mampu menerima.
Tak lama, Pak Toha yang sudah lama dekat dengan almarhum bapak menawarkan kami untuk hidup menjadi santri di pesantren desa yang cukup jauh dari rumahku ini. Hal ini beliau maksudkan agar kami tak terlalu menyusahkan emak dan menjadikan kami anak yang lebih baik. Namun, semua menolak kecuali bersedia menuruti tawaran pak Toha. Aku iba melihat emak yang banting tulang menjadi buruh tani saat itu demi menghidupi kami semua. Setidaknya dengan aku ikut pak Toha, beban emak sedikit berkurang, dan akhirnya emak mengizinkan.
Tak pernah terbayang sebelumnya bagaimana aku akan hidup sebagai santri. Apakah akan sering dimarahi, sering diatur, sering dipukul karena nakal dan sebagainya. Yang ada dalam benakku kala itu, aku akan pulang ke rumah menjadi anak yang lebih baik. Aku mengikuti pak Toha ketika sampai di pesantren. Bangunan-bangunan kayu tua itu hampir sama dengan bentuk rumahku hanya saja disini lebih luas. Namun, langgar sederhana tempat kami sholat berjamaah membuatnya berbeda.
Aku menghadap pendiri pesantren ini yang mereka panggil sebagai Kyai. Ya Habib Khosim, beliau sosok yang sederhana aku rasa. Hanya saja, sorban dan peci putih menjadi ciri khasnya. Aku menatapnya serius dan menebak-nebak apa yang akan Kyai katakan padaku. Mungkin saja aku dikembalikan ke rumah karena tak diterima disini.
“Alhamdulillah, kamu mau tinggal disini. Buatlah dirimu nyaman” ucapnya. Aku hanya mengangguk dan maju selangkah terbata-bata untuk bersalaman dan mencium tangannya. Beliau tersenyum dan aku membalasnya sungkan.
Aku menatap orang-orang sekitar dengan polos. Wajah-wajah baru para santri lama itu membuatku kembali gugup. Sepertinya aku satu-satunya santri baru yang datang hari ini. Wajah mereka yang serius menatapku membuat diriku nampak seperti anak yang bingung. Rupanya Pak Toha disini sebagai pembantu pengelola pesantren ini dan beliau memberikanku sebuah sarung dan kupluk yang mirip dengan santri-santri yang lain.
Para santri dipersilakan menuju langgar membawa diplak dan kitab masing-masing untuk mengaji, akupun mengikuti. Dari momen hari itu, hidupku yang baru telah dimulai.
***
Hari demi hari aku jalani sebagai santri sewajarnya. Anak-anak lain seumuranku rupanya menerimaku dengan baik. Tak jarang santri yang lebih dewasa mengajak kami untuk bercanda bersama. Namun, hanya satu yang membuatku penasaran. Mengapa Kyai Khosim nampak tertutup terhadapku? Perlakuannya terhadap santri lain tampak berbeda jika beliau tengah bersamaku. Hal itu membuatku selalu sungkan jika bertanya terlalu banyak ketika kajian maupun taujihnya disampaikan kepada kami.
Pernah suatu ketika, kami tengah diajarkan mengenai Tauhid dengan posisi kami membentuk lingkaran. Kyai sangat serius menjelaskan kami terkait ketauhidan, sedangkan aku tersenyum menatap beberapa wajah teman tampak mengantuk. Sekitar satu setengah jam beliau menyampaikan materi kepada kami dengan jelas dan tiba saatnya kami diberikan kesempatan bertanya.
“Kyai, kenapa selama ini kita hanya belajar Fiqih, Tauhid, Nahwu, ilmu Shorof, Hadist, Al-qur’an dan materi lain tentang Islam. Apakah mungkin santri tidak perlu belajar Matematika seperti anak-anak lain?” tanyaku polos. Seketika beberapa kawan yang awalnya tengah mengantuk justru sepenuhnya sadar dan menertawakanku. Tak terkecuali Kyaipun ikut tersenyum mendengarnya.
“Kau akan tahu jawabannya” jawabnya singkat. Aku terdiam dan kamipun melanjutkan kegiatan mengaji kami. Semua tampaknya melupakan pertanyaanku, namun tidak denganku.
Beberapa hari aku mencari tahu dengan bertanya ke beberapa teman namun mereka juga kurang memahaminya, hingga akhirnya aku bertemu Kyai yang tengah duduk sendiri pada selasar langgar.
“Monggo, sini nang” beliau mempersilakan. Sosoknya yang masih misterius membuatku belum mudah menghilangkan perasaan canggungku. Tatapanya yang tajam membuat kami para santri hanya bisa menunduk ketika menghadapnya. Akupun duduk tepat di depan Kyai yang tengah santai menikmati secangkir kopi hitam. Sejujurnya, kumis dan jenggotnya yang telah memutih itu membuatku semakin takut.
“Nang, apa motivasi hidupmu? sepertinya kamu tak terlalu menikmati keberadaanmu disini” beliau memulai pembicaraan. Tak biasanya Kyai membahas seserius ini. Apakah ini karena pertanyaanku yang nyeleneh waktu itu?
“Afwan Kyai, saya senang kok disini. Hanya saja....” Jawabku gugup dan menunduk.
“Hanya saja kamu tak menemukan yang kamu cari, begitu?” beliau memotongku. Aku kembali menatapnya. Aku menggeleng bak membisu tak mampu membantahnya.
“Sugeng. Dalam hidup itu ibarat ketika kita mengisi cangkir dengan air. Jika kita memilih cangkir yang besar dan semakin banyak air yang kita isikan di dalamnya, semakin banyak pula kita harus berusaha menghabiskan air itu. Apa yang akan kamu lakukan dengan cangkir berisi air itu?” beliau menjelaskanku dengan tersenyum. Aku hanyut dalam bahasa Kyai. Nampaknya beliau bukan sosok menakutkan yang aku rasakan sejak dulu.
“Meminumnya ?” jawabku singkat dan polos. Beliau yang tetap memandangku dengan senyuman khasnya tampak sembari tangannya sibuk menggoyang-goyangkan tasbih andalannya.
“Iya, salah satunya” sontak beliau langsung menyerutup cangkir kopi yang berada di depannya. Aku tersenyum melihatnya.
“Atau menumpahkannya” beliau membuang sisa-sisa kopi yang mengendap di bawah cangkir ke arah kiri keluar dari selasar langgar ini. Lagi-lagi aku diam.
“Begini. Artinya ketika kamu mengisi banyak ilmu selama hidupmu. Apa yang akan kamu lakukan untuk ilmu yang kamu dapatkan itu? Jika tak ada hal bermanfaatkan yang kamu terapkan, ilmu itu akan percuma. Sama seperti air dalam cangkir tadi. jika kamu tak menggunakan air itu namun kamu terus mengisinya dalam gelas, apa yang akan terjadi ?” beliau kembali bertanya. Sesungguhnya aku tak terlalu mengerti. Bagaimana tidak, aku hanya anak yang telah beranjak 9 tahun dan ingin banyak belajar mengenal dunia..
“Air itu akan tumpah”. Jawabku singkat. Beliau mengiyakan.
“Sebenarnya tak peduli seberapa banyak ilmu yang kita dapatkan. Namun pertanyaannya adalah seberapa banyak ilmu itu bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Percuma nang, jika banyak ilmu yang didapatkan tapi kamu tak punya rencana untuk membuatnya bermanfaat. Rata-rata itulah dilema manusia. Menjadi khalifah di bumi ini bukan hanya hidup, tapi juga menghidupkan lingkungan sekitar yang kita jadikan tempat tinggal ini. Dengan cara apa? Dengan ilmu yang kita punya.” Beliau menjelaskan. Banyak yang aku bayangkan sebenarnya. Belum sempat aku kembali bertanya, beliau sudah kembali bertanya.
“Apa cita-citamu nang ?” tanya beliau. Jujur, aku memiliki mimpi cukup tinggi namun aku aku tak begitu berani memikirkan cita-cita semejak hidupku dengan emak yang kala itu semakin susah bersama kakak-kakaku yang lain. Apakah mungkin orang-orang miskin seperti kami layak memiliki cita-cita.
“Sugeng ingin jadi pemimpin, Kyai. Saya ingin mengabdi pada rakyat sekitar terutama orang-orang miskin di desa” jawabku.
“Kalau begitu, raih mimpimu itu. Belajar yang banyak tapi satu hal, jadi pemimpin itu harus manut ilmumu dan kendalikan nafsumu. Jadilah pemimpin yang disukai wargamu.” Beliau berkomentar. Jawaban itulah yang aku jadikan wejangan hingga saat ini.
***
 Satu momen yang tak pernah aku lupakan yaitu ketika menjelang wafatnya Kyai Khosim di usiaku yang ke-10. Suasana begitu haru ketika menatap orang tua yang sangat kami hormati hendak menghembuskan napas terakhirnya menghadap sang Illahi. Semua santri mengelilingi beliau yang begitu pucat tengah memberikan kami pesan terakhir satu persatu. Semua santri diberikan nasihat sesuai dengan apa yang Kyai ketahui tentang kami dan akulah yang terakhir. Beliau memintaku untuk melanjutkan mimpiku dan berpegang teguh pada nilai-nilai kehidupan yang pernah beliau sampaikan. Terakhir, beliau meminta Ustadz Roni sebagai salah satu pengajar disini untuk melepaskan sorban yang selalu menembel pada pakaian Kyai dan diberikannya padaku. Semenjak itu, Kyai wafat. Kami semua menangis tersedu tak mampu membendung duka mendalam.
Sejak saat itu, aku menjadi bimbang akan pendirianku. Disatu sisi aku sebenarnya ingin belajar banyak tentang ilmu terapan seperti halnya anak-anak sekolah yang lain. Namun disisi lain rasa cintaku terhadap pesantren ini justru mengikatku untuk tetap bertahan. Meskipun Kyai telah berpulang, kami para santri masih melajutkan hidup kami disini seperti biasanya.
Tibalah saatnya suatu kejadian yang membuatku selalu bermimpi buruk. Dimana saat warga hendak membubarkan pesantren ini karena pengaruh beberapa pihak yang menyebutkan anak santri tak berguna selain mementingkan ibadah semata. Jejak hidup anak santri yang dirasa belum banyak memberkan peran lebih, membuat warga semakin tak yakin. Demo warga yang berbondong-bondong mengambrukkan langgar yang menjad tempat kami mengaji menjadikan kami begitu berduka untuk kedua kali. Namun atas penjelasan Ustadz Roni sebagai pimpinan santri yang baru, beliau mampu meredam amarah mereka. Akhirnya kami tetap mempertahankan tempat ini. Meskipun demikian, atas pesan Kyai kepada ustadz Roni membuatku harus kembali pulang ke kampung. Di usiaku menuju 11 tahun, aku dipulangkan untuk mengenyam pendidikan formal dengan biaya dari keluarga Ustadz. Hal ini bukan tanpa alasan, lagi-lagi karena wejangan dari Kyai. Saat itu aku tak berani menolak karena tak hendak mengecewakan Kyai yang telah berpulang. Aku bulatkan tekadku untuk masa depanku yang bermanfaat bagi orang-orang sekitar seperti apa yang aku janjikan pada Kyai beberapa tahun silam. Tahun 1991 menjadi tahun terakhir aku berada disini.
***
Aku hanyut dalam kenangan tempat ini, terutama sepeninggal Kyai. Sorban yang saat ini aku pegang masih sangat menggambarkan tentang sosok beliau yang begitu bijak. Petuah-petuahnya membawaku tetap hidup saat ini. Bukan hanya hidup sebatas hidup, namun memiliki kehidupan yang bermanfaat. Mengabdi pada masyarakat kecil seperti yang aku janjikan.
Alasan aku melihat kembali tempat ini bukan tanpa sebab. Aku berencana menggoyahkan rencana pembangunan sekolah diatas bangunan pesantren ini oleh Pemerintah Daerah setempat. Tempat ini layak untuk diperjuangkan. Setidaknya, aku memiliki alasan bahwa santri masih mampu berkarya asalkan mereka diberikan bekal yang cukup untuk menjadi manusia bermanfaat. Bekal tentang nilai-nilai kehidupan dan arti peran mereka untuk masa depan.

0 komentar:

Posting Komentar