Aku memandang jalanan penuh debu itu
bertarung dengan panasnya siang ini. Beberapa kali kami lewati jalanan pedesaan
dan tak jarang aku melihat bocah-bocah bercanda ria sepulang sekolah. Ahh, aku
memahami apa yang mereka tertawakan karena aku dulu juga pernah mengalami
masa-masa itu. Masa dimana aku belajar tentang hidup dan nilai-nilai di
dalamnya.
“Pak, kita sudah hampir sampai”. Suara
serak basah dari laki-laki berkumis yang saat ini tengah mengendarai mobil yang
aku tumpangi membangunkanku dari lamunan.
“Oh, nanti kita turun di pertigaan
saja supaya nanti tidak perlu putar balik” jawabku kepadanya.
Kami berhenti di 5 meter sebelah timur
pertigaan gang menuju tempat yang kami tuju. Sejenak aku amati lingkungan sekitar
dan membawaku pada hangatnya atmosfer yang sekian lama aku rindukan. Aku keluar
dari mobil dan beberapa warga menatapku dari emperan rumah mereka. Rumah-rumah
kayu yang aku rindukan, juga bebatuan padas yang menyapa telapak sepatuku
membuatku sejenak tersenyum lega. Alhamdulillah,
aku kembali ke tempat ini.
Setengah menit kemudian, dengan sigap
seorang laki-laki paruh baya menyapa dan memberiku salam hormat. Aku tersenyum
dan menyalaminya dengan sopan. Aku mengingat bapak ini. Beliau adalah pak Toha,
salah satu orang yang berjasa dalam hidupku.
“Mari pak Walikota, saya antar ke
sana” beliau sedikit membungkuk dengan tangan kirinya mempersilakanku untuk
berjalan bersamanya. Lagi-lagi aku hanya tersenyum mengangguk.
Namaku Sugeng Dharmawan, dan benarlah
saat ini aku adalah seorang Walikota. Bukan pejabat dari kabupaten wilayah ini,
namun aku menjabat di kota tempat aku dilahirkan. Sekarang, aku tengah berdiri
di desa dimana masa kecilku dididik dengan penuh ruhiyah. Ya, di desa ini
terdapat satu pesantren bernama “Nurul Iman” yang menjadikanku salah satu bagian
keluarganya pada tahun 1986-1991 silam. Rumah yang memberikanku banyak bekal
kehidupan dan membawaku bertahan pada rumitnya kehidupan di masa kini.
Rencana pembangunan yang disusun oleh
Kepemerintahan Bupati wilayah ini, mengusulkan bangunan pesantren tua yang
sudah lama tak dikelola ini direnovasi untuk dialih fungsikan menjadi sebuah
Sekolah Dasar. Usulan itu banyak didukung oleh warga sekitar mengingat selain
bangunan pesantren ini sudah lama tak difungsikan, juga memberikan kemudahan
bagi anak-anak agar dapat menikmati dunia pendidikan lebih mudah. Namun, ada
beberapa pihak yang dulunya pernah berhubungan dengan tempat ini cukup miris
dan kurang rela. Alasan tidak dikelolanya pesantren ini kurang aku ketahui
secara jelas, namun beberapa kabar menjelaskan tentang masalah yang hampir sama
yang pernah aku dan teman-teman seperjuanganku alami pada masa-masa itu.
Aku membuka pintu utama bangunan
pesantren yang terbuat dari kayu jati yang saat ini sudah mulai lapuk termakan
usia. Pintu terbuka dengan decit suara khas yang membuatku masih saja tak bisa
menahan tawa. Suhu di dalam ruangan mempunyai aura tersendiri. Aroma yang
membuatku selalu tidur tidak nyenyak semenjak meninggalkan tempat ini masih
sangat jelas. Aku meneteskan beberapa butir air mata dan semakin miris jika
membayangkan rumah ini akan diruntuhkan. Pak Toha mempersilakanku untuk masuk
dan melihat kondisi di dalam. Aku amati beberapa diplak yang biasa kami gunakan untuk mengaji masih berjejer rapi,
meja-meja panjang yang dulu sering menjadi ajang berebut baris, tikar bambu
yang terlipat serta papan tulis yang masih bercecerkan tulisan amat kusam
terkena tetesan air hujan. Aku terdiam ketika pak Toha membukakan untukku
sebuah almari kecil yang aku tahu betul apa isi di dalamnya. Sebuah sorban
putih agak kekuningan yang pernah Kyai berikan kepadaku sebelum beliau wafat.
Emosiku seketika tak terbendung ketika aku memegang dan mencium kain tersebut.
Aroma khas Kyai Habib Khosim dengan sisa-sisa bau minyak pijit itu masih sangat
kental. Isak tangis dan air mata ini membanjiri kain tua yang tengah aku
tempelkan pada wajahku.
“Kyai, jazakallah khairan katsir atas segalanya” bisikku pada kain itu.
Sangat jelas, di tempat inilah hidupku mulai ditata.
***
Tahun 1988, usia 7 tahun bukan jalan
yang mudah untuk meninggalkan emak
yang saat itu baru saja ditinggalkan oleh bapak yang meninggal karena
kecelakaan becak. Beban ekonomi keluargaku sepenuhnya ditanggung oleh emak yang mengurus kami 5 bersaudara
untuk tetap hidup. Namun, jerih payah ibu hanya mampu memberikan kami makan dua
kali sehari dengan ketela dan nasi aking
sebagai makanan kami. Tentu saja, kami berlima hanya mampu menerima.
Tak lama, Pak Toha yang sudah lama
dekat dengan almarhum bapak menawarkan kami untuk hidup menjadi santri di
pesantren desa yang cukup jauh dari rumahku ini. Hal ini beliau maksudkan agar
kami tak terlalu menyusahkan emak dan
menjadikan kami anak yang lebih baik. Namun, semua menolak kecuali bersedia
menuruti tawaran pak Toha. Aku iba melihat emak
yang banting tulang menjadi buruh tani saat itu demi menghidupi kami semua.
Setidaknya dengan aku ikut pak Toha, beban emak
sedikit berkurang, dan akhirnya emak mengizinkan.
Tak pernah terbayang sebelumnya
bagaimana aku akan hidup sebagai santri. Apakah akan sering dimarahi, sering
diatur, sering dipukul karena nakal dan sebagainya. Yang ada dalam benakku kala
itu, aku akan pulang ke rumah menjadi anak yang lebih baik. Aku mengikuti pak
Toha ketika sampai di pesantren. Bangunan-bangunan kayu tua itu hampir sama
dengan bentuk rumahku hanya saja disini lebih luas. Namun, langgar sederhana tempat kami sholat berjamaah membuatnya berbeda.
Aku menghadap pendiri pesantren ini
yang mereka panggil sebagai Kyai. Ya Habib Khosim, beliau sosok yang sederhana
aku rasa. Hanya saja, sorban dan peci putih menjadi ciri khasnya. Aku
menatapnya serius dan menebak-nebak apa yang akan Kyai katakan padaku. Mungkin
saja aku dikembalikan ke rumah karena tak diterima disini.
“Alhamdulillah,
kamu mau tinggal disini. Buatlah dirimu nyaman” ucapnya. Aku hanya mengangguk
dan maju selangkah terbata-bata untuk bersalaman dan mencium tangannya. Beliau
tersenyum dan aku membalasnya sungkan.
Aku menatap orang-orang sekitar dengan
polos. Wajah-wajah baru para santri lama itu membuatku kembali gugup. Sepertinya
aku satu-satunya santri baru yang datang hari ini. Wajah mereka yang serius
menatapku membuat diriku nampak seperti anak yang bingung. Rupanya Pak Toha
disini sebagai pembantu pengelola pesantren ini dan beliau memberikanku sebuah
sarung dan kupluk yang mirip dengan
santri-santri yang lain.
Para santri dipersilakan menuju langgar membawa diplak dan kitab masing-masing untuk mengaji, akupun mengikuti.
Dari momen hari itu, hidupku yang baru telah dimulai.
***
Hari demi hari aku jalani sebagai
santri sewajarnya. Anak-anak lain seumuranku rupanya menerimaku dengan baik.
Tak jarang santri yang lebih dewasa mengajak kami untuk bercanda bersama.
Namun, hanya satu yang membuatku penasaran. Mengapa Kyai Khosim nampak tertutup
terhadapku? Perlakuannya terhadap santri lain tampak berbeda jika beliau tengah
bersamaku. Hal itu membuatku selalu sungkan jika bertanya terlalu banyak ketika
kajian maupun taujihnya disampaikan kepada kami.
Pernah suatu ketika, kami tengah
diajarkan mengenai Tauhid dengan posisi kami membentuk lingkaran. Kyai sangat
serius menjelaskan kami terkait ketauhidan, sedangkan aku tersenyum menatap
beberapa wajah teman tampak mengantuk. Sekitar satu setengah jam beliau
menyampaikan materi kepada kami dengan jelas dan tiba saatnya kami diberikan
kesempatan bertanya.
“Kyai, kenapa selama ini kita hanya
belajar Fiqih, Tauhid, Nahwu, ilmu Shorof, Hadist, Al-qur’an dan materi lain
tentang Islam. Apakah mungkin santri tidak perlu belajar Matematika seperti
anak-anak lain?” tanyaku polos. Seketika beberapa kawan yang awalnya tengah
mengantuk justru sepenuhnya sadar dan menertawakanku. Tak terkecuali Kyaipun
ikut tersenyum mendengarnya.
“Kau akan tahu jawabannya” jawabnya
singkat. Aku terdiam dan kamipun melanjutkan kegiatan mengaji kami. Semua
tampaknya melupakan pertanyaanku, namun tidak denganku.
Beberapa hari aku mencari tahu dengan
bertanya ke beberapa teman namun mereka juga kurang memahaminya, hingga
akhirnya aku bertemu Kyai yang tengah duduk sendiri pada selasar langgar.
“Monggo, sini nang” beliau mempersilakan. Sosoknya yang masih misterius membuatku
belum mudah menghilangkan perasaan canggungku. Tatapanya yang tajam membuat
kami para santri hanya bisa menunduk ketika menghadapnya. Akupun duduk tepat di
depan Kyai yang tengah santai menikmati secangkir kopi hitam. Sejujurnya, kumis
dan jenggotnya yang telah memutih itu membuatku semakin takut.
“Nang,
apa motivasi hidupmu? sepertinya kamu tak terlalu menikmati keberadaanmu
disini” beliau memulai pembicaraan. Tak biasanya Kyai membahas seserius ini.
Apakah ini karena pertanyaanku yang nyeleneh
waktu itu?
“Afwan Kyai, saya senang kok disini.
Hanya saja....” Jawabku gugup dan menunduk.
“Hanya saja kamu tak menemukan yang
kamu cari, begitu?” beliau memotongku. Aku kembali menatapnya. Aku menggeleng
bak membisu tak mampu membantahnya.
“Sugeng. Dalam hidup itu ibarat ketika
kita mengisi cangkir dengan air. Jika kita memilih cangkir yang besar dan
semakin banyak air yang kita isikan di dalamnya, semakin banyak pula kita harus
berusaha menghabiskan air itu. Apa yang akan kamu lakukan dengan cangkir berisi
air itu?” beliau menjelaskanku dengan tersenyum. Aku hanyut dalam bahasa Kyai.
Nampaknya beliau bukan sosok menakutkan yang aku rasakan sejak dulu.
“Meminumnya ?” jawabku singkat dan
polos. Beliau yang tetap memandangku dengan senyuman khasnya tampak sembari
tangannya sibuk menggoyang-goyangkan tasbih andalannya.
“Iya, salah satunya” sontak beliau
langsung menyerutup cangkir kopi yang
berada di depannya. Aku tersenyum melihatnya.
“Atau menumpahkannya” beliau membuang
sisa-sisa kopi yang mengendap di bawah cangkir ke arah kiri keluar dari selasar langgar ini. Lagi-lagi aku diam.
“Begini. Artinya ketika kamu mengisi
banyak ilmu selama hidupmu. Apa yang akan kamu lakukan untuk ilmu yang kamu
dapatkan itu? Jika tak ada hal bermanfaatkan yang kamu terapkan, ilmu itu akan
percuma. Sama seperti air dalam cangkir tadi. jika kamu tak menggunakan air itu
namun kamu terus mengisinya dalam gelas, apa yang akan terjadi ?” beliau
kembali bertanya. Sesungguhnya aku tak terlalu mengerti. Bagaimana tidak, aku
hanya anak yang telah beranjak 9 tahun dan ingin banyak belajar mengenal
dunia..
“Air itu akan tumpah”. Jawabku
singkat. Beliau mengiyakan.
“Sebenarnya tak peduli seberapa banyak
ilmu yang kita dapatkan. Namun pertanyaannya adalah seberapa banyak ilmu itu
bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Percuma nang, jika banyak ilmu yang didapatkan tapi kamu tak punya rencana
untuk membuatnya bermanfaat. Rata-rata itulah dilema manusia. Menjadi khalifah
di bumi ini bukan hanya hidup, tapi juga menghidupkan lingkungan sekitar yang
kita jadikan tempat tinggal ini. Dengan cara apa? Dengan ilmu yang kita punya.”
Beliau menjelaskan. Banyak yang aku bayangkan sebenarnya. Belum sempat aku
kembali bertanya, beliau sudah kembali bertanya.
“Apa cita-citamu nang ?” tanya beliau. Jujur, aku memiliki mimpi cukup tinggi namun
aku aku tak begitu berani memikirkan cita-cita semejak hidupku dengan emak yang kala itu semakin susah bersama
kakak-kakaku yang lain. Apakah mungkin orang-orang miskin seperti kami layak
memiliki cita-cita.
“Sugeng ingin jadi pemimpin, Kyai.
Saya ingin mengabdi pada rakyat sekitar terutama orang-orang miskin di desa”
jawabku.
“Kalau begitu, raih mimpimu itu.
Belajar yang banyak tapi satu hal, jadi pemimpin itu harus manut ilmumu dan kendalikan nafsumu. Jadilah pemimpin yang disukai
wargamu.” Beliau berkomentar. Jawaban itulah yang aku jadikan wejangan hingga
saat ini.
***
Satu momen yang tak pernah aku lupakan yaitu
ketika menjelang wafatnya Kyai Khosim di usiaku yang ke-10. Suasana begitu haru
ketika menatap orang tua yang sangat kami hormati hendak menghembuskan napas
terakhirnya menghadap sang Illahi. Semua santri mengelilingi beliau yang begitu
pucat tengah memberikan kami pesan terakhir satu persatu. Semua santri
diberikan nasihat sesuai dengan apa yang Kyai ketahui tentang kami dan akulah
yang terakhir. Beliau memintaku untuk melanjutkan mimpiku dan berpegang teguh
pada nilai-nilai kehidupan yang pernah beliau sampaikan. Terakhir, beliau
meminta Ustadz Roni sebagai salah satu pengajar disini untuk melepaskan sorban
yang selalu menembel pada pakaian Kyai dan diberikannya padaku. Semenjak itu,
Kyai wafat. Kami semua menangis tersedu tak mampu membendung duka mendalam.
Sejak saat itu, aku menjadi bimbang
akan pendirianku. Disatu sisi aku sebenarnya ingin belajar banyak tentang ilmu
terapan seperti halnya anak-anak sekolah yang lain. Namun disisi lain rasa
cintaku terhadap pesantren ini justru mengikatku untuk tetap bertahan. Meskipun
Kyai telah berpulang, kami para santri masih melajutkan hidup kami disini
seperti biasanya.
Tibalah saatnya suatu kejadian yang
membuatku selalu bermimpi buruk. Dimana saat warga hendak membubarkan pesantren
ini karena pengaruh beberapa pihak yang menyebutkan anak santri tak berguna
selain mementingkan ibadah semata. Jejak hidup anak santri yang dirasa belum
banyak memberkan peran lebih, membuat warga semakin tak yakin. Demo warga yang
berbondong-bondong mengambrukkan langgar
yang menjad tempat kami mengaji menjadikan kami begitu berduka untuk kedua
kali. Namun atas penjelasan Ustadz Roni sebagai pimpinan santri yang baru,
beliau mampu meredam amarah mereka. Akhirnya kami tetap mempertahankan tempat
ini. Meskipun demikian, atas pesan Kyai kepada ustadz Roni membuatku harus
kembali pulang ke kampung. Di usiaku menuju 11 tahun, aku dipulangkan untuk
mengenyam pendidikan formal dengan biaya dari keluarga Ustadz. Hal ini bukan
tanpa alasan, lagi-lagi karena wejangan dari Kyai. Saat itu aku tak berani
menolak karena tak hendak mengecewakan Kyai yang telah berpulang. Aku bulatkan
tekadku untuk masa depanku yang bermanfaat bagi orang-orang sekitar seperti apa
yang aku janjikan pada Kyai beberapa tahun silam. Tahun 1991 menjadi tahun
terakhir aku berada disini.
***
Aku hanyut dalam kenangan tempat ini,
terutama sepeninggal Kyai. Sorban yang saat ini aku pegang masih sangat
menggambarkan tentang sosok beliau yang begitu bijak. Petuah-petuahnya
membawaku tetap hidup saat ini. Bukan hanya hidup sebatas hidup, namun memiliki
kehidupan yang bermanfaat. Mengabdi pada masyarakat kecil seperti yang aku
janjikan.
Alasan aku melihat kembali tempat ini
bukan tanpa sebab. Aku berencana menggoyahkan rencana pembangunan sekolah
diatas bangunan pesantren ini oleh Pemerintah Daerah setempat. Tempat ini layak
untuk diperjuangkan. Setidaknya, aku memiliki alasan bahwa santri masih mampu
berkarya asalkan mereka diberikan bekal yang cukup untuk menjadi manusia
bermanfaat. Bekal tentang nilai-nilai kehidupan dan arti peran mereka untuk
masa depan.




0 komentar:
Posting Komentar