Aku memandang jalanan penuh debu itu
bertarung dengan panasnya siang ini. Beberapa kali kami lewati jalanan pedesaan
dan tak jarang aku melihat bocah-bocah bercanda ria sepulang sekolah. Ahh, aku
memahami apa yang mereka tertawakan karena aku dulu juga pernah mengalami
masa-masa itu. Masa dimana aku belajar tentang hidup dan nilai-nilai di
dalamnya.
“Pak, kita sudah hampir sampai”. Suara
serak basah dari laki-laki berkumis yang saat ini tengah mengendarai mobil yang
aku tumpangi membangunkanku dari lamunan.
“Oh, nanti kita turun di pertigaan
saja supaya nanti tidak perlu putar balik” jawabku kepadanya.
Kami berhenti di 5 meter sebelah timur
pertigaan gang menuju tempat yang kami tuju. Sejenak aku amati lingkungan sekitar
dan membawaku pada hangatnya atmosfer yang sekian lama aku rindukan. Aku keluar
dari mobil dan beberapa warga menatapku dari emperan rumah mereka. Rumah-rumah
kayu yang aku rindukan, juga bebatuan padas yang menyapa telapak sepatuku
membuatku sejenak tersenyum lega. Alhamdulillah,
aku kembali ke tempat ini.
Setengah menit kemudian, dengan sigap
seorang laki-laki paruh baya menyapa dan memberiku salam hormat. Aku tersenyum
dan menyalaminya dengan sopan. Aku mengingat bapak ini. Beliau adalah pak Toha,
salah satu orang yang berjasa dalam hidupku.
“Mari pak Walikota, saya antar ke
sana” beliau sedikit membungkuk dengan tangan kirinya mempersilakanku untuk
berjalan bersamanya. Lagi-lagi aku hanya tersenyum mengangguk.



