Jumat, 01 September 2017

Kyai, Wejanganmu Membuatku Hidup



Aku memandang jalanan penuh debu itu bertarung dengan panasnya siang ini. Beberapa kali kami lewati jalanan pedesaan dan tak jarang aku melihat bocah-bocah bercanda ria sepulang sekolah. Ahh, aku memahami apa yang mereka tertawakan karena aku dulu juga pernah mengalami masa-masa itu. Masa dimana aku belajar tentang hidup dan nilai-nilai di dalamnya.
“Pak, kita sudah hampir sampai”. Suara serak basah dari laki-laki berkumis yang saat ini tengah mengendarai mobil yang aku tumpangi membangunkanku dari lamunan.
“Oh, nanti kita turun di pertigaan saja supaya nanti tidak perlu putar balik” jawabku kepadanya.
Kami berhenti di 5 meter sebelah timur pertigaan gang menuju tempat yang kami tuju. Sejenak aku amati lingkungan sekitar dan membawaku pada hangatnya atmosfer yang sekian lama aku rindukan. Aku keluar dari mobil dan beberapa warga menatapku dari emperan rumah mereka. Rumah-rumah kayu yang aku rindukan, juga bebatuan padas yang menyapa telapak sepatuku membuatku sejenak tersenyum lega. Alhamdulillah, aku kembali ke tempat ini.
Setengah menit kemudian, dengan sigap seorang laki-laki paruh baya menyapa dan memberiku salam hormat. Aku tersenyum dan menyalaminya dengan sopan. Aku mengingat bapak ini. Beliau adalah pak Toha, salah satu orang yang berjasa dalam hidupku.
“Mari pak Walikota, saya antar ke sana” beliau sedikit membungkuk dengan tangan kirinya mempersilakanku untuk berjalan bersamanya. Lagi-lagi aku hanya tersenyum mengangguk.