Jumat, 30 Oktober 2015

Wartel Vs Onthel - (Hanya) Sekedar Masa Lalu




Masa lalu yaa..
Semua orang pasti punya kenangan yang bahkan beberapa ‘sisa-sisa ingatan’ masa lalu tersebut sayang untuk dilupakan. Terlebih ketika kita tiba-tiba mencoba mengingatnya akan merubah perasaan seketika, bisa tertawa sendiri atau bahkan menangis ‘saking’ bahagia/sedihnya peristiwa tersebut.
Kali ini entah bisikan angin dari mana, aku teringat sebuah peristiwa ‘tempo doeloe’ yang memaksaku berdiam sejenak untuk khusyu ‘bertapa’ mengingatnya :D kisah tentang “Wartel” dan “Sepeda Onthel”. Mungkin terdengar jadul dan kuno dimana sebuah cerita yang sempat-sempatnya mengungkit sebuah ‘barang’ yang mungkin sudah mulai dibasmi di abad 21 ini. Ya begitulah, dua benda jadul ini memberikanku kisah tersendiri. Tentang seorang bocah kampung bersama bapaknya menjemput ‘suara’ emaknya dari negeri seberang sana.

Rabu, 14 Oktober 2015

(Tentang) " MAKNA..."




“...Banyak cara untuk berbagi namun tak banyak orang mampu melakukannya dengan ikhlas. Berbagi memang bukan hal yang mudah apalagi ketika kita juga merasakan kesusahan. Makna memberi dan berbagi kadang bisa dikatakan sama, namun untuk beberapa orang mereka membedakan kedua kata tersebut. Dan dalam suatu perjalanan istimewa, aku menyadari makna memberi dan berbagi yang sebenarnya...”
***
(pekik)...
“Ayo dong, buruan jalan. Sudah sore niihhh !” teriak penumpang bis dari arah kursi paling belakang. “Iya keburu magrib, ntar ujung-ujungnya buka di jalan !” sahut ibu-ibu muda dari arah kursi kanan yang juga terlihat sedikit kesal. Tak mau sampai kalah, satu demi satu penumpang lain ikut berkoar dan membuat suasana dalam bis semakin tak karuan.
Ya. Saat ini kami tengah berada dalam bis umum arah Semarang – Kudus dan seluruh penumpang tentunya mempunyai tujuan yang sama sepertiku yakni ingin cepat-cepat sampai ke rumah sebelum waktu berbuka tiba. Namun karena jumlah penumpang yang bisa dikatakan belum memenuhi 1/2 N+1 dari kuota kursi yang ada, sang sopir masih dengan santainya memarkirkan bis di pojok kiri terminal Demak ketika sampai disana. Awalnya mungkin seisi bis masih dapat dikontrol namun setelah kurang lebih 45 menit lamanya kami menunggu hampa, alhasil satu demi satu penumpang bis mulai mengeluarkan orasinya. Tak bisa dipungkiri, akupun merasakan hal yang sama. Menunggu sepi didalam bis rasanya bukan sesuatu yang menyenangkan. Terbesit dalam benakku untuk turun dan melanjutkan perjalanan sendiri, namun itu hal yang mustahil mengingat jarak Demak – Kudus yang masih terbilang jauh.