Selasa, 19 Juli 2016

“ Do'a Bersama Senja ”




 - Gadis Kerudung Merah Jambu -
***

“...Dulu aku buta ketika pagi, hingga dirimu membuka lensaku menggiring membawanya menuju senja. Kini, aku kembali buta tentang apa makna senja. Ketika tersibaknya ruang dimana seorang laki-laki berusaha mengenal ayat Al-Qur'an untukmu. Kau boleh kembali mengujiku sekarang, Nae. Tentang ayat-ayat itu, juga tentang arti perpisahan...” – Salim

***
Mataku terpejam sesaat ketika silau lembayung itu kembali menyapa. Aku tersenyum memandang semesta ke arah barat yang begitu orange, tepatnya warna senja. Seperti biasa, aku duduk bersandar pada sebuah batu yang cukup gemuk dan lebih besar dari ukuran tubuhku meski tingginya setengah dari tinggi badanku. Tempat ini adalah favoritku saat ini. Ya, sebuah bukit dengan jalan setapak yang harus kami lewati dari kampung. Kampung? Sebelumnya aku tak yakin benar-benar menyukai kampung kecil ini.
Namaku Salim, pemuda yang datang ke kampung ini sekadar untuk berlibur ke rumah kakak perempuanku. Entah alasan apa yang membawaku ke tempat ini, sampai aku percaya tentang sebuah takdir. Takdir yang membawa dan mejadikanku laki-laki yang hendak berhijrah tapi tentu bukan tanpa sebab. Hingga akhirnya aku bertemu seorang gadis, lebih tepatnya muslimah. Gadis yang aku temui tepat di bukit ini mempunyai kebiasaan yang unik. Ia sering bersyair bersama pantulan cahaya sore meskipun diriku belum sepenuhnya mengerti apa maksudnya. Namun dari itu aku sadar bahwa ia bukanlah gadis biasa dan itu pula yang menjadikanku menyukai senja yang sama.

(sang) Pencuri Al-qur'an



 Magrib telah mengambil alih senja. Lembayung yang beberapa saat lalu mewarnai semesta di Barat, kini perlahan membiru petang. Aku yang sebelumnya tengah sibuk membersihkan diri, kini telah rapi dengan sarung dan sajadah favoritku. Ya, sebentar lagi adzan magrib dan aku harus bergegas menuju masjid untuk mengumandangkan adzan, memanggil saudara-saudara muslim lainnya untuk segera melaksanakan ibadah bersama.
Aku Insan, pemuda desa yang kini sedang mencoba menggeluti dunia dakwah. Bukan langsung metamorfosis menjadi ustadz ataupun kyai, namun baru berusaha aktif di kegiatan Ikatan Remaja Masjid (IRMAS) untuk kepentingan kegiatan Islam di Kampung ini. Kondisi Iman dan kepercayaan para warga yang sebelumnya masih antah-berantah adalah alasan mengapa kini aku hobi melaksanakan kegiatan dakwah.
Berbicara masa lalu ketika umurku masih belasan tahun, iman warga kami sangatlah kacau. Kepercayaan tentang dukun dan roh-roh penolong masing sangatlah kental dan bahkan sudah dianggap kebutuhan wajib. Bagaimana tidak, sebagian besar warga lebih suka mengandalkan ramalan dukun untuk mengetahui rezeki dan jodoh maupun kesembuhan penyakit dibandingkan dengan ibadah. Hal ini seringkali menimbulkan konflik antar warga yang berujung kerusakan. Namun, para aktivis dakwah yang bekerja sama dengan tokoh agama sekitar tampaknya begitu kuat dalam menyebarkan syari’ah islam dan memperbaiki pemikiran-pemikiran warga yang telah rusak sehingga kini kondisi masyrarakat desa kami semakin membaik bahkan hilang dari kegiatan yang menimbulkan syirik.

Pesan dari Argojati


 (Pekik…)
Terdengar ramai warga tengah berbondong-bondong mendatangi kantor kepala desa. Aku yang sebenarnya bersiap untuk istirahat sontak beranjak mengikuti ayahku menuju tempat kumpulnya teriakan warga yang melengking beberapa saat lalu.
“Ikal ! Ayah pergi dulu” sahut ayah yang baru saja keluar dari kamar mengenakan seragam seperti biasa.
“Mungkinkah ada korban lagi, yah ?” tanyaku gugup pada ayah yang tampak melangkah tergesa-gesa dan sontak aku mengikuti di belakangnya.
“Entahlah...” jawabnya singkat. Dengan perasaan penuh kekhawatiran, kami mempercepat langkah kaki dengan sesekali berlari.
Beberapa hari ini, belakangan sering ditemukan warga kami yang tewas di lokasi hutan desa ini. Namun hingga saat ini, ayah beserta petugas hutan lainnya belum mampu menemukan penyebab jatuhnya korban yang sering dianggap tidak wajar. Pasalnya sebelum hal ini terjadi, desa kami dikenal sebagai desa yang tentram. Terbukti dengan kekayaan alam berupa hutan yang ditumbuhi pohon jati yang tumbuh kokoh menjulang tinggi serta cemara dan beberapa tanaman perkebunan yang mengelilingi sekitar hutan menambahkan kesan rindang. Sebagian besar warga menyambung hidup di hutan yang dinamakan Argojati ini dan memanfaatkan hasil pertanian, perkebunan serta hasil alam lainnya.