- Gadis Kerudung Merah
Jambu -
***
“...Dulu aku buta ketika
pagi, hingga dirimu membuka lensaku menggiring membawanya menuju senja. Kini, aku
kembali buta tentang apa makna senja. Ketika tersibaknya ruang dimana seorang
laki-laki berusaha mengenal ayat Al-Qur'an untukmu. Kau boleh kembali mengujiku
sekarang, Nae. Tentang ayat-ayat itu, juga tentang arti perpisahan...” – Salim
***
Mataku
terpejam sesaat ketika silau lembayung itu kembali menyapa. Aku tersenyum
memandang semesta ke arah barat yang begitu orange,
tepatnya warna senja. Seperti biasa, aku duduk bersandar pada sebuah batu
yang cukup gemuk dan lebih besar dari ukuran tubuhku meski tingginya setengah
dari tinggi badanku. Tempat ini adalah favoritku saat ini. Ya, sebuah bukit
dengan jalan setapak yang harus kami lewati dari kampung. Kampung? Sebelumnya
aku tak yakin benar-benar menyukai kampung kecil ini.
Namaku
Salim, pemuda yang datang ke kampung ini sekadar untuk berlibur ke rumah kakak
perempuanku. Entah alasan apa yang membawaku ke tempat ini, sampai aku percaya
tentang sebuah takdir. Takdir yang membawa dan mejadikanku laki-laki yang
hendak berhijrah tapi tentu bukan tanpa sebab. Hingga akhirnya aku bertemu
seorang gadis, lebih tepatnya muslimah. Gadis yang aku temui tepat di bukit ini
mempunyai kebiasaan yang unik. Ia sering bersyair bersama pantulan cahaya sore
meskipun diriku belum sepenuhnya mengerti apa maksudnya. Namun dari itu aku
sadar bahwa ia bukanlah gadis biasa dan itu pula yang menjadikanku menyukai
senja yang sama.





