Minggu, 19 Juli 2015

"NOTES" - Sang Pembawa Mimpi



“...Semua manusia memiliki keinginan masing-masing untuk menentukan jalan hidupnya. Sebagian besar manusia sering bingung menentukan cita-cita untuk diri mereka. Pandangan yang menurutnya benar terkadang berbeda dengan harapan yang diinginkan orang terdekatnya bahkan ternyata pilihannya belum tentu tentang cita-cita yang sesungguhnya benar-benar diinginkan. Entah itu cita-cita berdasarkan harapan masa depan, cita-cita berdasarkan keinginan atau bahkan cita-cita karena melanjutkan mimpi orang yang dicinta...”
***
(Pekik..)
“Nak...! Nak, tadi ibu tidak sengaja menemukan kartu pengumuman penerimaan kuliah. Ibu rasa ada yang salah dengan data yang dimasukkan sekolahmu” tanya seorang wanita paruh baya berwajah bingung yang baru saja keluar dari balik pintu rumah membawa selembar kartu daftar pilihan jurusan pendaftaran mahasiswa baru.

Sabtu, 18 Juli 2015

- SHOLAWAT BADAR SI ANAK KENTANG (2) -



Sebelumnya, Cerita 1
 
Setelah itu aku tak peduli apa yang terjadi dirumah. Malam ini aku pergi dari rumah sejak tadi sore tanpa pamit karena bagiku itu tak perlu. Ku memandang semesta malam yang membuatku tenang. Beberapa kembang api diterbangkan di awan untuk dipertontonkan pada mereka yang melihatnya. Aku pergi bersama teman-teman menuju sebuah ‘Terminal Es’ tak jauh jalanan sambil memandang lampu warna warni yang menunjukkan simbol kedamaian malam. Sejenak aku lupakan masalahku di rumah dengan bercanda tawa seperti yang lainnya, terkadang aku diam tenang sambil pandanganku menjelajahi lingkungan sekitar dengan berharap menjumpai sesuatu yang berbeda. Jalanan tampak ramai dengan mesin-mesin kendaraan yang melaju dengan semangatnya. Tak jarang aku temui roda-roda berbelok mengantarkan pasangan remaja menuju ke gubuk makan yang ada di sekitar. Tak lama mataku terpaku pada sosok tubuh kecil kurus tak terurus, berbalut kain putih yang sejatinya sudah tampak berwarna cokelat.

- SHOLAWAT BADAR SI ANAK KENTANG -



“...Yogyakarta - Sabtu Wage, tanggal 27 Mei 2006 pukul 05.53 WIB, telah terjadi gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Ritcher yang mengguncang sisi selatan pulau Jawa. Gempa tersebut diketahui berpusat di Samudra Hindia, sekitar 33 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. Gempa yang berlangsung selama kurang lebih 52 detik itu disusul dengan beberapa gempa susulan dengan skala lebih kecil dari gempa utama, meski demikian gempa susulan dengan skala 5 keatas juga masih tercatat. Tercatat, gempa telah menewaskan sekitar 5.700 orang, melukai puluhan ribu orang dan menghancurkan ratusan ribu rumah. Karena masih tergolong pagi hari, gempa ini membuat banyak orang terperangkap di dalam rumah khususnya anak-anak dan orang tua. Tak heran jika mayoritas korban merupakan orang yang berusia lanjut dan anak-anak yang kemungkinan tidak sempat menyelamatkan diri ketika gempa belangsung..."
***

- INDONESIA, "katanya..." -



Dimanakah Indonesia? Yang “katanya”
Seribu orang tua cabut semeru dari akarnya
Atau satu pemuda yang mampu guncangkan dunia
Apakah semangat itu hanya ucapan fatamorgana?
Ketika Soekarno getarkan mereka dalam koarnya
Dalam goresan tinta buku sejarah yang pernah kita baca

Perbedaan dianggap menjadi penentang
Karena ucapan bahasa dan pulau yang membentang
Keanekaragaman sering menjadi penghalang
Karena hamparan suku dan budaya yang melapang

Sadarlah akan terciptanya sebuah kelebihan
Kita berbeda karena beragam
Kita beragam karena memiliki perbedaan
Sudah waktunya tumpahkan keringat antusias
Sudah saatnya kita hapus garis pembatas
Melangkah dan melingkar ciptakan afinitas

Kamis, 16 Juli 2015

- SAJAK RINDU ANAK PANTI -



Ku terjebak dalam renungan
Merenung akan kegundahan
Gundah bak selimut keharuan
Haru akan diriku yang penasaran
Untuk siapa ku berdoa ?
Kepada siapa ku memohon asa ?
Siapa malaikat Tuhan yang ku punya ?
Entahlah... !!

Kutitipkan sinyal kerinduan dalam sajaknya
Kepada wanita yang punya aliran darah sama
Menyeberang garis pembatas surga
Teruntuk ibunda yang entah bersarang dimana
Teruntuk wajah yang entah secantik apa
Juga teruntuk pemilik air mata mutiara

Aku punya dendam pada sang bumi
Dendam salam rindu yang belum tersampaikan ini
Aku punya dendam pada merpati suci
Dendam surat rindu yang tak kunjung ia kirimkan kini