“...Yogyakarta
- Sabtu Wage, tanggal 27 Mei 2006 pukul 05.53 WIB, telah terjadi gempa bumi
berkekuatan 5,9 skala Ritcher yang mengguncang sisi selatan pulau Jawa. Gempa
tersebut diketahui berpusat di Samudra Hindia, sekitar 33 kilometer sebelah
selatan Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. Gempa yang berlangsung selama kurang
lebih 52 detik itu disusul dengan beberapa gempa susulan dengan skala lebih
kecil dari gempa utama, meski demikian gempa susulan dengan skala 5 keatas juga
masih tercatat. Tercatat, gempa telah menewaskan sekitar
5.700 orang, melukai puluhan ribu orang dan menghancurkan ratusan ribu rumah.
Karena masih tergolong pagi hari, gempa ini membuat banyak orang terperangkap
di dalam rumah khususnya anak-anak dan orang tua. Tak heran jika mayoritas
korban merupakan orang yang berusia lanjut dan anak-anak yang kemungkinan tidak
sempat menyelamatkan diri ketika gempa belangsung..."
***
Mataku silau.
Tanpa sadar mimpiku telah pecah akibat surya pagi yang dengan sengaja
membiaskan cahayanya tepat di wajahku. Dengan setengah sadar, tanpa aba-aba
mataku mulai terbuka. Namun silau itu membuat dahiku memimpin kerut yang cukup
dalam, aku mulai mengangkat tangan kananku dan kujadikan pelindung mata.
Rupanya, tadi malam aku terlalu enggan untuk menutup kaca jendela bertirai kain
putih yang sebenarnya aku masih meragukan bahwa itu benar-benar kain putih.
Begitulah, kamarku bukanlah kamar yang umumnya sebagai singgasana anak remaja
biasanya. Bagaimana tidak, ruangan tak cukup besar yang dulunya sebagai tempat
nongkrong barang-barang rumah tak terpakai itu kini diwariskan kepadaku.
Meskipun enggan, namun sebagai anak laki-laki yang sudah beranjak remaja tidak
mungkin terus-menerus menginap dikamar orang tua.
Aku sadar
kalau aku sudah keluar dari mimpi. Mimpi? Orang bodoh macam apa yang masih
bermimpi jam segini. Aku mengangkat tubuhku sambil melirik jam dinding yang
terletak tak jauh di meja sebelah kananku. Aku duduk diatas ranjang kayu yang
sebenarnya tak cukup nyaman untukku berbaring diatasnya. Ranjang kayu yang
sering bersuara ketika aku gunakan itu konon sudah tercipta sebelum aku
dilahirkan. Alasan mengapa masih digunakan sampai sekarang, bukan karena sebuah
barang istimewa berharga milyaran, namun terlebih karena kami tak mampu mencari
penggantinya. Bisa kau bayangkan ketika tadi malam aku merasa mencapai
lelelahan pada titik klimaks, apa yang terjadi ketika sontak aku melemparkan
tubuhku diatasnya. Setiap senti kayu pada benda itu berkoar dengan semangatnya
yang membuat aku mulai terbiasa dan enggan membahasnya.
Kaki
menuntunku keluar dari kamar menuju sebuah teko kecil diatas kayu persegi
panjang yang kami sebut meja makan. Aku mendarat pada salah satu dari tiga
kursi tua yang mengelilingi meja itu. Aku mengangkat teko berisi air putih yang
tampak tidak terisi penuh dan mengalirkannya pada mulut gelas di tangan
kiriku. Sambil meneguk air dari gelas itu, aku melirik kearah wanita tua yang
berjalan kearahku. Dengan membawa bakul anyaman bambu pada kedua tangannya, ia
menghampiriku dan duduk tepat pada kursi didepanku.
“Kamu sudah
bangun?” ucapnya dengan senyuman yang sudah sering aku lihat. Matanya
menunjukkan kepolosan seorang wanita tua yang sedang menunggu jawaban lawan
bicaranya. Aku hanya terdiam sambil menundukkan kepala kearah gelas yang masih
mendampingi tanganku.
“Ini nak. Hari
ini ibu masak spesial buat kamu” lanjutnya sambil membukakan bakul berisi nasi
putih dengan didampingi beberapa telur dadar dan terong rebus sebagai
pelengkapnya.
“Spesial ? aku
heran mengapa makanan ini dianggap spesial” jawabku ketus yang sontak
menghentikan tangannya yang sedang mengambilkan beberapa bongkah nasi keatas
piring.
“Badar.
Syukurilah apa yang ada, nak. Alhamdulillah hari ini kita bisa makan lebih
mewah” sahutnya tatkala kembali mengambilkanku nasi dan kemudian memberikannya
kepadaku. “Ini nak. Makanlah dengan kenyang” lanjutnya. Aku kembali diam dan
menunduk mengamati nasi yang masih mengeluarkan uap diatas piring itu. Tak
hendak banyak komentar, perlahan aku melahapnya karena tak ingin mendengar
perutku yang terus bergumam.
Badar,
begitulah aku biasanya disapa dan wanita tua itu adalah ibuku. Usianya sudah
tak remaja dengaan bukti garis keriput yang melengkapi seni di wajahnya.
Meskipun sering terlihat tertatih karena sudah tak segesit dulu, aku masih
melihat semangat dalam dirinya meskipun dengan kondisi ekonomi keluarga kami
yang seperti ini. Jelas, kami bukanlah keluarga konglomerat dan kedua orang
tuaku bukanlah saudagar. Aku hanya anak berusia 18 tahun yang hidup
dilingkungan sederhana. Itulah sebabnya tak heran jika benda-benda di rumah
banyak berupa benda dari kayu tua amat rapuh yang sayang untuk dibuang. Aku
adalah anak yang sering keluar malam. Meskipun orang tua ingin aku selalu
menjadi anak seperti yang diharapkan, aku sering menghiraukannya. Bagiku, aku
ingin menjadi remaja sebagaimana mestinya. Meskipun aku tak punya uang, aku
tetap keluar malam karena bagiku yang terpenting adalah bertemu kawan-kawan
untuk menghilangkan penat dan melihat lampu malam perkotaan sudah cukup membuat
aku melupakan apa yang ingin aku lupakan. Aku pergi malam bukan untuk
bermabuk-mabukan ataupun balap liar, namun hanya sekedar berkumpul bersama
kawan melepas rasa penat yang aku bawa dari rumah.
Tak cukup
diriku bosan dengan gubuk yang tak lebih besar dari ruang kelas itu, yang
paling membuatku risih adalah ketika aku temui beberapa sampah didepan rumah
seperti botol-botol dan kardus bekas yang berserakan sehingga sering aku
tendang dan ku lempar. Gubuk kecil berlampukan 5 watt dengan satu pohon
beringin cukup besar didepan membuat lingkungan rumah cukup sunyi ketika malam.
“Apa tidak lengkap jika rumah tua ini tanpa sampah?” gumamku tatkala berhadapan
dengan beberapa sampah berserakan yang membuat lingkungan kecil itu semakin
penuh dan kumuh
Ibu hanyalah
tukang jahit keliling dengan penghasilan tak seberapa. Jangan salah, dengan
usianya yang beranjak senja, penglihatannya masih cukup jeli ketika harus
berhadapan dengan jarum dan benang jahit. Ibu sering menungguku pulang malam.
Aku sering melihatnya berselonjor sambil memijat kedua kaki yang tampak kotor
itu. Dengan bersandarkan papan tua, ia menatapku dengan senyum menahan ngantuk
menunggu kepulanganku yang terbilang larut malam. Sedangkan ayah adalah seorang
petani kentang yang tak pernah kutemui kala pagi karena ia sudah harus bergegas
mengejar terbitnya matahari menuju lahan tempat harta kami tertanam. Sepintas,
ayah masih sama seperti orang tua pada umumnya, yang rajin bekerja dengan
berteman panas bersahabat keringat demi keluarganya. Namun, ada yang berbeda
yakni ayah adalah sosok yang pendiam sehingga aku tak banyak berkomunikasi
dengannya. Ia diam bukan karena enggan banyak bicara, tetapi karena ia seorang
tunawicara. Ya, ayahku bisu sehingga itu pula yang menjadi sebab mengapa aku
sering menyalahkannya tatkala diejek teman-temanku di sekolah dasar dulu.
Dengan berlagak gaya seorang pantomin, ayah sering berusaha membujuk dan
menghiburku ketika merajuk ataupun ketika ia tahu aku sedang memiliki perasaan
kurang bahagia kala itu. Meskipun aku paham dengan apa yang ia sampaikan, namun
aku berpura-pura tak mengerti dan meninggalkannya dengan kesan tak peduli.
Sebagai petani kentang, hasil panen ayah inilah yang menjadi harta hidup dan
modal makanan kami. Kentang rebus maupun kentang goreng tak luput menjadi
makanan pokok kami tatkala ibu tak mampu menyediakan nasi. “Si anak kentang”
setidaknya itulah julukan orang-orang terhadapku dan awalnya aku sama sekali tak
bangga sebelum akhirnya aku terbiasa.
***
Pagi ini cukup
panas, langitpun segera beralih ke biru muda. Aku keluar kamar berseragam
pramuka dengan tas yang menggantung nyaman dipunggungku. Aku melangkah menuju
ruang tengah dimana tampak ibu sedang menyibukkan diri memanjakan mesin jahit
yang ketika itu sedang bermasalah. Ibu melirik kearahku dan memandang dengan
senyum tatkala aku menuju kearahnya.
“Sudah mau
berangkat? Hati-hati ya dijalan, jangan lupa berdoa dan sholawat seperti biasa”
sapanya. Tangan keriput berbalut debu itu tengah berhenti sejenak mengelus-elus
mesin kesayangannya dan sontak dengan semangat menyodorkan salam.
Aku hanya
sekilas memandang tangan kanan berdebu itu dan memalingkan mataku kearah
jendela yang bergerak pelan mengikuti irama tiupan angin disekitarnya. “Gak ada
uang jajan seperti biasanya?” jawabku seiring mataku mengarah ke pandangan ibu.
“Sepertinya
hari ini ayahmu akan mendapatkan uang, kamu boleh memintanya sepulang sekolah
nanti. Oh iya sebentar...” ucapan ibu sejenak terpotong dan mengisyaratkan
untukku menunggu sejenak. “Ini, untuk bekal kamu supaya nanti siang kamu tidak
mengantuk ketika belajar karena perutmu sudah terisi” ibu memberikan sebungkus
plastik bening berisikan dua potong kentang rebus sesaat setelah ia muncul dari
balik ruang maka
“Bu, aku butuh
uang jajan. Bukan kentang !! sampai kapan bu, aku harus terus-terusan berdiam
diri dalam kelas dengan kentang rebus yang sudah tidak berasa lagi dimulutku?
Aku juga butuh jalan bersama teman-teman. Sampai kapan aku harus jadi anak
rumahan sedangkan aku tidak menganggap aku tinggal di rumah ?” kataku dengan
nada cukup tinggi sehingga tanpa sadar akar rambutku mulai berembun dan
perlahan keringat mengalir menyapa dahiku. Tanpa salam aku langsung beranjak
mempercepat langkah dan memutar sepeda yang sedang parkir santai disamping
rumah hingga menimbulkan suara cukup nyaring. Kakiku dengan kokoh mengayunkan
besi beroda itu meninggalkan ibu yang masih terdiam memandang dua buah kentang
rebus yang ada digenggamannya. Tak lama ternyata diriku sudah lenyap dari
rumah.
Seperti biasa,
jalanan pagi memang tak kunjung sepi dari lalu-lalang roda dan kaki. Angin yang
semilir membawa koloid debu bersama daun kering yang ikut menari terbawa
semesta. Tak hanya aku yang terburu-buru melawan waktu, besi-besi roda
raksasapun tetap berputar saling berkejaran beradu kecepatan mesin kala itu.
Tak lama kaki-kaki beralasakan sepatu hitam satu demi satu berbelok masuk
kearah gerbang kecil berwarna biru muda dengan berbagai retakan sebagai
seninya. Tak sedikit diantara mereka yang saling berganti langkah berebut
melewati gerbang bertuliskan ‘SMA 1 Kota Terpadu’ yang sebenarnya tak begitu
terlihat ketika memandangnya dengan jarak lebih dari 500 meter.
Sebelum aku
menghayutkan diri dibalik tembok masuk itu, tanpa sengaja pandanganku
terarahkan pada sekerumunan tukang angkot dan beberapa penjual kaki lima yang
sibuk menawar sebuah barang. Karena merasa penasaran, aku mendirikan sepedaku
di sisi kiri gerbang sekolah dan dengan wajah bingung aku menghampiri
gerombolan manusia tersebut. Butuh sedikit usaha tatkala aku harus menyelinap
pada barisan yang cukup rapat itu. Namun, rasa penasaranku seketika berubah
menjadi rasa jengkel ketika diriku tahu mereka sedang merebutkan beberapa butir
kentang segar. Beberapa ikat kentang yang masih sedikit berbalut tanah itu
dengan semangat mereka tawar dari seorang petani bisu. Ya, aku mengenal sosok
berwajah keriput dengan tahi lalat besar diatas mata itu sedang memainkan
gerakannya pada para pembeli. Aku mundur dari gerombolan pengheboh itu dan
terdiam memandang aktivitas mereka. Tak kusangka, ternyata sedikit hasil panen
ayah yang baru saja ia angkat dari lahan itu ia bawa di lingkungan sekolah. Aku
tak ingin banyak berkicau dan dengan sabar menunggu satu persatu dari mereka
meninggalkan petani tua itu.
“Kenapa harus
berjualan disini? Apa tidak ada tempat lain?” kataku sambil mendekat menuju
kearah ayah yang tengah duduk meluruskan kaki yang masih tampak berlumpur itu.
“Haa?” gumam
ayah sambil tersenyum memainkan gerakan pantomimnya. Tadi pagi sepulang ayah
dari lahan, tak sengaja ketika ia lewat depan sekolah dan mendengar beberapa
orang yang berkoar memanggilnya untuk menawar kentang yang tengah dipikulnya
itu. Ayah tampak senang melihatku berangkat sekolah pagi ini karena memang
sangat jarang kami bertemu dan menyapa ketika pagi hari. Kembali ia berpantomim
dan mengajakku berkomunikasi. Ia bersyukur pagi ini mendapatkan rejeki yang
menurutnya lumayan dan karena sudah berjanji pada ibu untuk memberiku
uang jajan, maka sontak ia menyerahkan beberapa lembar uang lima ribuan
kepadaku. Aku terdiam dan berniat menolak karena aku sudah terlalu malu melihat
beberapa orang memandangku bersama ayah. Ia menarik tanganku dan memberiku
semangat dengan menyisipkan lembaran uang tersebut disela genggamanku.
Kukerutkan dahiku yang kembali berkeringat karena kondisi yang mulai panas dan
aku berbalik meninggalkan ayah tanpa meninggalkan salam maupun ucapan pamit.
Kugerakkan kembali sepeda yang berdiam didekat gerbang sekolah dan tanpa
aba-aba betisku mengayun dengan pasti. Setelah roda sepeda berotasi beberapa
detik, aku menoleh kebelakang dan tak lagi tampak laki-laki tua yang baru saja
kutemui karena aku sudah terlalu jauh melewati gerbang. Ku bariskan sepeda tua itu
dengan rapi bersama dengan kawan-kawannya. Aku berhenti sejenak sambil tanganku
meraih kantong celana cokelat yang berisi lembaran uang sebelum akhirnya aku
bergegas masuk kedalam kelas.
***
Malam ini aku
tidak pergi dan duduk terdiam pada kursi kayu diteras rumah. Ku pandangi langit
yang tampak ramah menyambut suasana malam. Sayup-sayup lagu yang dimainkan oleh
serangga malam sungguh menambah kesunyian. “...Sholatullah
salamullah ‘alaa thohaa rasulillah, sholatullah salamullah ‘alaa yaasin
habibillah. Tawassalna bibismillah wabil hadii rasulillah, wakulli
mujaahidillillaah bi ahlil badri yaa Allah..” Seperti biasa, pendengaranku
sangat peka ketika terdengar suara lantunan sholawat yang sudah sering berbisik
kearah telinga dan bahkan sudah menginap didalamnya. Hafal sudah diriku dengan
kebiasaan ibu yang sering menyanyikan syair tersebut untuk ayah ketika tampak
lelah. Tangan-tangan keriput yang aku yakin sudah tak cukup kuat untuk memijat
kaki-kaki tua yang mencapai tahap kelelahan itu, tetap berusaha melaksanakan
tugasnya. Lantunan lagu sholawat badar favorit ibu itu tetap di ucapkannya
dengan fasih seiring dengan kepalanya yang sesekali tak sengaja kutemui tengah
menunduk melawan ngantuk.
Sholawat badar
memang menjadi sholawat kesukaan ibu disamping sholawat lainnya. Itulah mengapa
ibu memberiku nama Badar dengan harapan aku akan selalu terlindung dari bahaya
dan senantiasa mendapatkan rahmat dari Yang Kuasa. Tak jarang kumerasakan
jengkel ketika ibu memaksaku menghafalkan sholawat tersebut dan berpesan untuk
tidak melupakan doa dan sholawat disetiap perjalanan maupun segala aktifitasku.
Namun, selama ini aku sering menolak ketika ibu memintaku untuk melantunkan
sholawat badar untuk ibu dan berbagai alasan.
Aku masih
termenung bersama semesta dan lamunanku pecah tatkala sebuah tangan mendarat
tak cukup kuat dipundakku. Terlihat sosok ibu tengah berdiri sedikit bungkuk di
sampingku. Aku menurunkan tangan penuh tulang itu dari pundakku dan bergegas
masuk menembus pintu. Beberapa meter ku melangkah meninggalkan pintu, ibu
memanggilku, “Badar, tak ada salahnya kamu duduk didamping ayahmu yang sedang
lelah itu. Apa kamu tak ingin bergurau dengan ayahmu? Bukankah kalian jarang
punya waktu bersama” pinta ibu yang dengan nada cukup halus dan aku hanya
memandang pantulan cahaya lampu yang terbias dalam matanya. Aku memandang
sesaat kearah ayah yang duduk berselonjor memandang kedua kaki yang terlihat
sedikit ‘bengkok’ dan kembali kupalingkan wajahku kearah ibu.
“Untuk apa?
Aku tak bangga punya ayah seperti dia, dia bukan ayah yang baik. Seharusnya dia
bisa memberikan apa yang aku mau, tapi apa? Sekedar uang jajan saja tak pasti”
ucapku membantah sambil kembali menatap sosok tua yang juga sedang menatapku
layu.
“Badar !
kamu...” sahut ibu yang mendekat dengan kerutan dahi yang lebih dalam dari
biasanya dannmulai bernada cukup keras. Namun belum sempat ia meneruskan
pembicaraan, aku kembali membantahnya.
“Kenapa bu?
Aku bingung dengan keadaanku didunia ini. Aku tumbuh diantara orang tua yang
tak bisa kuandalkan, aku hidup bersama orang tua yang tak bisa memberikan
segala yang aku inginkan. Apa ibu pikir, aku masih betah dengan sepeda tua itu?
Apa yang aku dapat, kentang rebus setiap pagi? Sholawat setiap pergi? Apa
julukan Si Anak Kentang itu membanggakan? Untuk apa? Aku cuma punya ibu tua
yang tak bisa apa-apa dan ayah bisu yang tak punya apa apa. Apa yang bisa aku
banggakan? Aku...” sebelum ku selesaikan ucapanku, nafasku tiba-tiba terengah
ketika kujumpai jari-jari tua mendarat sangat keras dipipiku. Tamparan sesaat yang
memberikan rasa panas cukup lama itu membuat pandanganku sontak mengarah ke
wajah wanita tua yang juga tampak mengatur nafas menahan marah. Terlihat ayah
sudah berdiri disamping ibu dan berusaha menenangkannya dengan kode-kode gaya
seperti biasa dan menahan ibu supaya tak lagi marah terhadapku.
Ibu terdiam
dan terlihat memandang tangan kanan yang memiliki jejak tamparan dipipiku yang
mulai memerah. Biasanya hanya terlihat embun didahinya, sekarang mata pun cukup
deras mengalirkan air mata yang mungkin juga sering terbuang sia-sia.
Suasanapun semakin sunyi dan suara orkes serangga malam terdengar semakin
ramai. Aku terbelalak menahan bekas yang aku rasakan masih memerah dan berbalik
dengan cepat meninggalkan tempat kejadian tersebut. Dengan tanpa arahan, kakiku
tergoda untuk menendang meja tua yang tak jauh dari kakiku berdiri sehingga
berubah posisi cukup jauh dan menjatuhkan pot gerabah diatasnya. Semua mata
sibuk mengamati gerabah yang koyak dengan jelas dan tanpa enggan akupun dengan
cepat menuju kamar.
Selanjutnya Cerita 2




0 komentar:
Posting Komentar