Sabtu, 18 Juli 2015

- SHOLAWAT BADAR SI ANAK KENTANG -



“...Yogyakarta - Sabtu Wage, tanggal 27 Mei 2006 pukul 05.53 WIB, telah terjadi gempa bumi berkekuatan 5,9 skala Ritcher yang mengguncang sisi selatan pulau Jawa. Gempa tersebut diketahui berpusat di Samudra Hindia, sekitar 33 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bantul, Provinsi DIY. Gempa yang berlangsung selama kurang lebih 52 detik itu disusul dengan beberapa gempa susulan dengan skala lebih kecil dari gempa utama, meski demikian gempa susulan dengan skala 5 keatas juga masih tercatat. Tercatat, gempa telah menewaskan sekitar 5.700 orang, melukai puluhan ribu orang dan menghancurkan ratusan ribu rumah. Karena masih tergolong pagi hari, gempa ini membuat banyak orang terperangkap di dalam rumah khususnya anak-anak dan orang tua. Tak heran jika mayoritas korban merupakan orang yang berusia lanjut dan anak-anak yang kemungkinan tidak sempat menyelamatkan diri ketika gempa belangsung..."
***

Mataku silau. Tanpa sadar mimpiku telah pecah akibat surya pagi yang dengan sengaja membiaskan cahayanya tepat di wajahku. Dengan setengah sadar, tanpa aba-aba mataku mulai terbuka. Namun silau itu membuat dahiku memimpin kerut yang cukup dalam, aku mulai mengangkat tangan kananku dan kujadikan pelindung mata. Rupanya, tadi malam aku terlalu enggan untuk menutup kaca jendela bertirai kain putih yang sebenarnya aku masih meragukan bahwa itu benar-benar kain putih. Begitulah, kamarku bukanlah kamar yang umumnya sebagai singgasana anak remaja biasanya. Bagaimana tidak, ruangan tak cukup besar yang dulunya sebagai tempat nongkrong barang-barang rumah tak terpakai itu kini diwariskan kepadaku. Meskipun enggan, namun sebagai anak laki-laki yang sudah beranjak remaja tidak mungkin terus-menerus menginap dikamar orang tua.
Aku sadar kalau aku sudah keluar dari mimpi. Mimpi? Orang bodoh macam apa yang masih bermimpi jam segini. Aku mengangkat tubuhku sambil melirik jam dinding yang terletak tak jauh di meja sebelah kananku. Aku duduk diatas ranjang kayu yang sebenarnya tak cukup nyaman untukku berbaring diatasnya. Ranjang kayu yang sering bersuara ketika aku gunakan itu konon sudah tercipta sebelum aku dilahirkan. Alasan mengapa masih digunakan sampai sekarang, bukan karena sebuah barang istimewa berharga milyaran, namun terlebih karena kami tak mampu mencari penggantinya. Bisa kau bayangkan ketika tadi malam aku merasa mencapai lelelahan pada titik klimaks, apa yang terjadi ketika sontak aku melemparkan tubuhku diatasnya. Setiap senti kayu pada benda itu berkoar dengan semangatnya yang membuat aku mulai terbiasa dan enggan membahasnya.
Kaki menuntunku keluar dari kamar menuju sebuah teko kecil diatas kayu persegi panjang yang kami sebut meja makan. Aku mendarat pada salah satu dari tiga kursi tua yang mengelilingi meja itu. Aku mengangkat teko berisi air putih yang tampak tidak terisi penuh  dan mengalirkannya pada mulut gelas di tangan kiriku. Sambil meneguk air dari gelas itu, aku melirik kearah wanita tua yang berjalan kearahku. Dengan membawa bakul anyaman bambu pada kedua tangannya, ia menghampiriku dan duduk tepat pada kursi didepanku.
“Kamu sudah bangun?” ucapnya dengan senyuman yang sudah sering aku lihat. Matanya menunjukkan kepolosan seorang wanita tua yang sedang menunggu jawaban lawan bicaranya. Aku hanya terdiam sambil menundukkan kepala kearah gelas yang masih mendampingi tanganku.
“Ini nak. Hari ini ibu masak spesial buat kamu” lanjutnya sambil membukakan bakul berisi nasi putih dengan didampingi beberapa telur dadar dan terong rebus sebagai pelengkapnya.
“Spesial ? aku heran mengapa makanan ini dianggap spesial” jawabku ketus yang sontak menghentikan tangannya yang sedang mengambilkan beberapa bongkah nasi keatas piring.
“Badar. Syukurilah apa yang ada, nak. Alhamdulillah hari ini kita bisa makan lebih mewah” sahutnya tatkala kembali mengambilkanku nasi dan kemudian memberikannya kepadaku. “Ini nak. Makanlah dengan kenyang” lanjutnya. Aku kembali diam dan menunduk mengamati nasi yang masih mengeluarkan uap diatas piring itu. Tak hendak banyak komentar, perlahan aku melahapnya karena tak ingin mendengar perutku yang terus bergumam.
Badar, begitulah aku biasanya disapa dan wanita tua itu adalah ibuku. Usianya sudah tak remaja dengaan bukti garis keriput yang melengkapi seni di wajahnya. Meskipun sering terlihat tertatih karena sudah tak segesit dulu, aku masih melihat semangat dalam dirinya meskipun dengan kondisi ekonomi keluarga kami yang seperti ini. Jelas, kami bukanlah keluarga konglomerat dan kedua orang tuaku bukanlah saudagar. Aku hanya anak berusia 18 tahun yang hidup dilingkungan sederhana. Itulah sebabnya tak heran jika benda-benda di rumah banyak berupa benda dari kayu tua amat rapuh yang sayang untuk dibuang. Aku adalah anak yang sering keluar malam. Meskipun orang tua ingin aku selalu menjadi anak seperti yang diharapkan, aku sering menghiraukannya. Bagiku, aku ingin menjadi remaja sebagaimana mestinya. Meskipun aku tak punya uang, aku tetap keluar malam karena bagiku yang terpenting adalah bertemu kawan-kawan untuk menghilangkan penat dan melihat lampu malam perkotaan sudah cukup membuat aku melupakan apa yang ingin aku lupakan. Aku pergi malam bukan untuk bermabuk-mabukan ataupun balap liar, namun hanya sekedar berkumpul bersama kawan melepas rasa penat yang aku bawa dari rumah.
Tak cukup diriku bosan dengan gubuk yang tak lebih besar dari ruang kelas itu, yang paling membuatku risih adalah ketika aku temui beberapa sampah didepan rumah seperti botol-botol dan kardus bekas yang berserakan sehingga sering aku tendang dan ku lempar. Gubuk kecil berlampukan 5 watt dengan satu pohon beringin cukup besar didepan membuat lingkungan rumah cukup sunyi ketika malam. “Apa tidak lengkap jika rumah tua ini tanpa sampah?” gumamku tatkala berhadapan dengan beberapa sampah berserakan yang membuat lingkungan kecil itu semakin penuh dan kumuh
Ibu hanyalah tukang jahit keliling dengan penghasilan tak seberapa. Jangan salah, dengan usianya yang beranjak senja, penglihatannya masih cukup jeli ketika harus berhadapan dengan jarum dan benang jahit. Ibu sering menungguku pulang malam. Aku sering melihatnya berselonjor sambil memijat kedua kaki yang tampak kotor itu. Dengan bersandarkan papan tua, ia menatapku dengan senyum menahan ngantuk menunggu kepulanganku yang terbilang larut malam. Sedangkan ayah adalah seorang petani kentang yang tak pernah kutemui kala pagi karena ia sudah harus bergegas mengejar terbitnya matahari menuju lahan tempat harta kami tertanam. Sepintas, ayah masih sama seperti orang tua pada umumnya, yang rajin bekerja dengan berteman panas bersahabat keringat demi keluarganya. Namun, ada yang berbeda yakni ayah adalah sosok yang pendiam sehingga aku tak banyak berkomunikasi dengannya. Ia diam bukan karena enggan banyak bicara, tetapi karena ia seorang tunawicara. Ya, ayahku bisu sehingga itu pula yang menjadi sebab mengapa aku sering menyalahkannya tatkala diejek teman-temanku di sekolah dasar dulu. Dengan berlagak gaya seorang pantomin, ayah sering berusaha membujuk dan menghiburku ketika merajuk ataupun ketika ia tahu aku sedang memiliki perasaan kurang bahagia kala itu. Meskipun aku paham dengan apa yang ia sampaikan, namun aku berpura-pura tak mengerti dan meninggalkannya dengan kesan tak peduli. Sebagai petani kentang, hasil panen ayah inilah yang menjadi harta hidup dan modal makanan kami. Kentang rebus maupun kentang goreng tak luput menjadi makanan pokok kami tatkala ibu tak mampu menyediakan nasi. “Si anak kentang” setidaknya itulah julukan orang-orang terhadapku dan awalnya aku sama sekali tak bangga sebelum  akhirnya aku terbiasa.
***
Pagi ini cukup panas, langitpun segera beralih ke biru muda. Aku keluar kamar berseragam pramuka dengan tas yang menggantung nyaman dipunggungku. Aku melangkah menuju ruang tengah dimana tampak ibu sedang menyibukkan diri memanjakan mesin jahit yang ketika itu sedang bermasalah. Ibu melirik kearahku dan memandang dengan senyum tatkala aku menuju kearahnya.
“Sudah mau berangkat? Hati-hati ya dijalan, jangan lupa berdoa dan sholawat seperti biasa” sapanya. Tangan keriput berbalut debu itu tengah berhenti sejenak mengelus-elus mesin kesayangannya dan sontak dengan semangat menyodorkan salam.
Aku hanya sekilas memandang tangan kanan berdebu itu dan memalingkan mataku kearah jendela yang bergerak pelan mengikuti irama tiupan angin disekitarnya. “Gak ada uang jajan seperti biasanya?” jawabku seiring mataku mengarah ke pandangan ibu.
“Sepertinya hari ini ayahmu akan mendapatkan uang, kamu boleh memintanya sepulang sekolah nanti. Oh iya sebentar...” ucapan ibu sejenak terpotong dan mengisyaratkan untukku menunggu sejenak. “Ini, untuk bekal kamu supaya nanti siang kamu tidak mengantuk ketika belajar karena perutmu sudah terisi” ibu memberikan sebungkus plastik bening berisikan dua potong kentang rebus sesaat setelah ia muncul dari balik ruang maka
“Bu, aku butuh uang jajan. Bukan kentang !! sampai kapan bu, aku harus terus-terusan berdiam diri dalam kelas dengan kentang rebus yang sudah tidak berasa lagi dimulutku? Aku juga butuh jalan bersama teman-teman. Sampai kapan aku harus jadi anak rumahan sedangkan aku tidak menganggap aku tinggal di rumah ?” kataku dengan nada cukup tinggi sehingga tanpa sadar akar rambutku mulai berembun dan perlahan keringat mengalir menyapa dahiku. Tanpa salam aku langsung beranjak mempercepat langkah dan memutar sepeda yang sedang parkir santai disamping rumah hingga menimbulkan suara cukup nyaring. Kakiku dengan kokoh mengayunkan besi beroda itu meninggalkan ibu yang masih terdiam memandang dua buah kentang rebus yang ada digenggamannya. Tak lama ternyata diriku sudah lenyap dari rumah.
Seperti biasa, jalanan pagi memang tak kunjung sepi dari lalu-lalang roda dan kaki. Angin yang semilir membawa koloid debu bersama daun kering yang ikut menari terbawa semesta. Tak hanya aku yang terburu-buru melawan waktu, besi-besi roda raksasapun tetap berputar saling berkejaran beradu kecepatan mesin kala itu. Tak lama kaki-kaki beralasakan sepatu hitam satu demi satu berbelok masuk kearah gerbang kecil berwarna biru muda dengan berbagai retakan sebagai seninya. Tak sedikit diantara mereka yang saling berganti langkah berebut melewati gerbang bertuliskan ‘SMA 1 Kota Terpadu’ yang sebenarnya tak begitu terlihat ketika memandangnya dengan jarak lebih dari 500 meter.
Sebelum aku menghayutkan diri dibalik tembok masuk itu, tanpa sengaja pandanganku terarahkan pada sekerumunan tukang angkot dan beberapa penjual kaki lima yang sibuk menawar sebuah barang. Karena merasa penasaran, aku mendirikan sepedaku di sisi kiri gerbang sekolah dan dengan wajah bingung aku menghampiri gerombolan manusia tersebut. Butuh sedikit usaha tatkala aku harus menyelinap pada barisan yang cukup rapat itu. Namun, rasa penasaranku seketika berubah menjadi rasa jengkel ketika diriku tahu mereka sedang merebutkan beberapa butir kentang segar. Beberapa ikat kentang yang masih sedikit berbalut tanah itu dengan semangat mereka tawar dari seorang petani bisu. Ya, aku mengenal sosok berwajah keriput dengan tahi lalat besar diatas mata itu sedang memainkan gerakannya pada para pembeli. Aku mundur dari gerombolan pengheboh itu dan terdiam memandang aktivitas mereka. Tak kusangka, ternyata sedikit hasil panen ayah yang baru saja ia angkat dari lahan itu ia bawa di lingkungan sekolah. Aku tak ingin banyak berkicau dan dengan sabar menunggu satu persatu dari mereka meninggalkan petani tua itu.
“Kenapa harus berjualan disini? Apa tidak ada tempat lain?” kataku sambil mendekat menuju kearah ayah yang tengah duduk meluruskan kaki yang masih tampak berlumpur itu.
“Haa?” gumam ayah sambil tersenyum memainkan gerakan pantomimnya. Tadi pagi sepulang ayah dari lahan, tak sengaja ketika ia lewat depan sekolah dan mendengar beberapa orang yang berkoar memanggilnya untuk menawar kentang yang tengah dipikulnya itu. Ayah tampak senang melihatku berangkat sekolah pagi ini karena memang sangat jarang kami bertemu dan menyapa ketika pagi hari. Kembali ia berpantomim dan mengajakku berkomunikasi. Ia bersyukur pagi ini mendapatkan rejeki yang menurutnya lumayan  dan karena sudah berjanji pada ibu untuk memberiku uang jajan, maka sontak ia menyerahkan beberapa lembar uang lima ribuan kepadaku. Aku terdiam dan berniat menolak karena aku sudah terlalu malu melihat beberapa orang memandangku bersama ayah. Ia menarik tanganku dan memberiku semangat dengan menyisipkan lembaran uang tersebut disela genggamanku. Kukerutkan dahiku yang kembali berkeringat karena kondisi yang mulai panas dan aku berbalik meninggalkan ayah tanpa meninggalkan salam maupun ucapan pamit. Kugerakkan kembali sepeda yang berdiam didekat gerbang sekolah dan tanpa aba-aba betisku mengayun dengan pasti. Setelah roda sepeda berotasi beberapa detik, aku menoleh kebelakang dan tak lagi tampak laki-laki tua yang baru saja kutemui karena aku sudah terlalu jauh melewati gerbang. Ku bariskan sepeda tua itu dengan rapi bersama dengan kawan-kawannya. Aku berhenti sejenak sambil tanganku meraih kantong celana cokelat yang berisi lembaran uang sebelum akhirnya aku bergegas masuk kedalam kelas.
***
Malam ini aku tidak pergi dan duduk terdiam pada kursi kayu diteras rumah. Ku pandangi langit yang tampak ramah menyambut suasana malam. Sayup-sayup lagu yang dimainkan oleh serangga malam sungguh menambah kesunyian. “...Sholatullah salamullah ‘alaa thohaa rasulillah, sholatullah salamullah ‘alaa yaasin habibillah. Tawassalna bibismillah wabil hadii rasulillah, wakulli mujaahidillillaah bi ahlil badri yaa Allah..” Seperti biasa, pendengaranku sangat peka ketika terdengar suara lantunan sholawat yang sudah sering berbisik kearah telinga dan bahkan sudah menginap didalamnya. Hafal sudah diriku dengan kebiasaan ibu yang sering menyanyikan syair tersebut untuk ayah ketika tampak lelah. Tangan-tangan keriput yang aku yakin sudah tak cukup kuat untuk memijat kaki-kaki tua yang mencapai tahap kelelahan itu, tetap berusaha melaksanakan tugasnya. Lantunan lagu sholawat badar favorit ibu itu tetap di ucapkannya dengan fasih seiring dengan kepalanya yang sesekali tak sengaja kutemui tengah menunduk melawan ngantuk.
Sholawat badar memang menjadi sholawat kesukaan ibu disamping sholawat lainnya. Itulah mengapa ibu memberiku nama Badar dengan harapan aku akan selalu terlindung dari bahaya dan senantiasa mendapatkan rahmat dari Yang Kuasa. Tak jarang kumerasakan jengkel ketika ibu memaksaku menghafalkan sholawat tersebut dan berpesan untuk tidak melupakan doa dan sholawat disetiap perjalanan maupun segala aktifitasku. Namun, selama ini aku sering menolak ketika ibu memintaku untuk melantunkan sholawat badar untuk ibu dan berbagai alasan.
Aku masih termenung bersama semesta dan lamunanku pecah tatkala sebuah tangan mendarat tak cukup kuat dipundakku. Terlihat sosok ibu tengah berdiri sedikit bungkuk di sampingku. Aku menurunkan tangan penuh tulang itu dari pundakku dan bergegas masuk menembus pintu. Beberapa meter ku melangkah meninggalkan pintu, ibu memanggilku, “Badar, tak ada salahnya kamu duduk didamping ayahmu yang sedang lelah itu. Apa kamu tak ingin bergurau dengan ayahmu? Bukankah kalian jarang punya waktu bersama” pinta ibu yang dengan nada cukup halus dan aku hanya memandang pantulan cahaya lampu yang terbias dalam matanya. Aku memandang sesaat kearah ayah yang duduk berselonjor memandang kedua kaki yang terlihat sedikit ‘bengkok’ dan kembali kupalingkan wajahku kearah ibu.
“Untuk apa? Aku tak bangga punya ayah seperti dia, dia bukan ayah yang baik. Seharusnya dia bisa memberikan apa yang aku mau, tapi apa? Sekedar uang jajan saja tak pasti” ucapku membantah sambil kembali menatap sosok tua yang juga sedang menatapku layu.
“Badar ! kamu...” sahut ibu yang mendekat dengan kerutan dahi yang lebih dalam dari biasanya dannmulai bernada cukup keras. Namun belum sempat ia meneruskan pembicaraan, aku kembali membantahnya.
“Kenapa bu? Aku bingung dengan keadaanku didunia ini. Aku tumbuh diantara orang tua yang tak bisa kuandalkan, aku hidup bersama orang tua yang tak bisa memberikan segala yang aku inginkan. Apa ibu pikir, aku masih betah dengan sepeda tua itu? Apa yang aku dapat, kentang rebus setiap pagi? Sholawat setiap pergi? Apa julukan Si Anak Kentang itu membanggakan? Untuk apa? Aku cuma punya ibu tua yang tak bisa apa-apa dan ayah bisu yang tak punya apa apa. Apa yang bisa aku banggakan? Aku...” sebelum ku selesaikan ucapanku, nafasku tiba-tiba terengah ketika kujumpai jari-jari tua mendarat sangat keras dipipiku. Tamparan sesaat yang memberikan rasa panas cukup lama itu membuat pandanganku sontak mengarah ke wajah wanita tua yang juga tampak mengatur nafas menahan marah. Terlihat ayah sudah berdiri disamping ibu dan berusaha menenangkannya dengan kode-kode gaya seperti biasa dan menahan ibu supaya tak lagi marah terhadapku.
Ibu terdiam dan terlihat memandang tangan kanan yang memiliki jejak tamparan dipipiku yang mulai memerah. Biasanya hanya terlihat embun didahinya, sekarang mata pun cukup deras mengalirkan air mata yang mungkin juga sering terbuang sia-sia. Suasanapun semakin sunyi dan suara orkes serangga malam terdengar semakin ramai. Aku terbelalak menahan bekas yang aku rasakan masih memerah dan berbalik dengan cepat meninggalkan tempat kejadian tersebut. Dengan tanpa arahan, kakiku tergoda untuk menendang meja tua yang tak jauh dari kakiku berdiri sehingga berubah posisi cukup jauh dan menjatuhkan pot gerabah diatasnya. Semua mata sibuk mengamati gerabah yang koyak dengan jelas dan tanpa enggan akupun dengan cepat menuju kamar.

Selanjutnya Cerita 2

0 komentar:

Posting Komentar