Rabu, 14 Oktober 2015

(Tentang) " MAKNA..."




“...Banyak cara untuk berbagi namun tak banyak orang mampu melakukannya dengan ikhlas. Berbagi memang bukan hal yang mudah apalagi ketika kita juga merasakan kesusahan. Makna memberi dan berbagi kadang bisa dikatakan sama, namun untuk beberapa orang mereka membedakan kedua kata tersebut. Dan dalam suatu perjalanan istimewa, aku menyadari makna memberi dan berbagi yang sebenarnya...”
***
(pekik)...
“Ayo dong, buruan jalan. Sudah sore niihhh !” teriak penumpang bis dari arah kursi paling belakang. “Iya keburu magrib, ntar ujung-ujungnya buka di jalan !” sahut ibu-ibu muda dari arah kursi kanan yang juga terlihat sedikit kesal. Tak mau sampai kalah, satu demi satu penumpang lain ikut berkoar dan membuat suasana dalam bis semakin tak karuan.
Ya. Saat ini kami tengah berada dalam bis umum arah Semarang – Kudus dan seluruh penumpang tentunya mempunyai tujuan yang sama sepertiku yakni ingin cepat-cepat sampai ke rumah sebelum waktu berbuka tiba. Namun karena jumlah penumpang yang bisa dikatakan belum memenuhi 1/2 N+1 dari kuota kursi yang ada, sang sopir masih dengan santainya memarkirkan bis di pojok kiri terminal Demak ketika sampai disana. Awalnya mungkin seisi bis masih dapat dikontrol namun setelah kurang lebih 45 menit lamanya kami menunggu hampa, alhasil satu demi satu penumpang bis mulai mengeluarkan orasinya. Tak bisa dipungkiri, akupun merasakan hal yang sama. Menunggu sepi didalam bis rasanya bukan sesuatu yang menyenangkan. Terbesit dalam benakku untuk turun dan melanjutkan perjalanan sendiri, namun itu hal yang mustahil mengingat jarak Demak – Kudus yang masih terbilang jauh.

Panggil saja aku Imran, salah satu mahasiswa Universitas Diponegoro yang juga sebagai pendatang di Semarang. Sudah dua bulan lamanya aku tak pulang ke rumah dan rasa ingin kembali bertemu keluarga sudah pasti ada. Meskipun lokasi antara Kudus dan Semarang tak sejauh teman-temanku di luar Jawa, namun karena berbagai kesibukan kuliah dan organisasi membuatku harus lebih berlama-lama berada di kampus. Saat ini sudah 7 hari Ramadhan berjalan dan kebetulan jadwal akademik tengah berada pada minggu tenang menjelang UAS sehingga memberikanku kesempatan beberapa hari untuk bisa menginjakkan kaki di kampung halaman.
Sebenarnya lokasi antara Kudus dan Semarang dapat ditempuh kurang lebih selama 3 jam perjalanan bis, namun entahlah sepertinya sore ini bisa dibilang waktu tempuh perjalanan paling lama yang pernah aku rasakan. Sialnya, aku pamit dari kontrakan sudah terlalu sore sehingga diperkirakan aku akan menjumpai magrib ditengah perjalanan. Kondisi puasa menjadikan suasana sekitar semakin kurang mendukung, apalagi ditambah sopir bis yang dari 45 menit yang lalu tak kunjung memutar gas mesinnya sehingga membuat kami para penumpang semakin kesal. Padahal kalau boleh jujur, selama berhenti di terminal ini kami hanya mendapati dua penumpang baru dan itu belum membuat sang sopir puas.
Jam sudah menunjukkan pukul 16.48 dan waktu tempuh dari terminal Demak ke Kudus kurang lebih 1 jam sehingga bisa dipastikan kami mendapati magrib di jalan. Aku melirik dari balik kaca bis dan tampak sopir bersama keneknya dengan semangat sepertinya tengah asik membicarakan sesuatu yang menyenangkan, terbukti dari wajah mereka yang terlihat bergembira. Namun kegembiraan itu tak kami dapatkan. Yang ada, aku harus mendengarkan ocehan-ocehan dari ibu-ibu dari arah kursi belakang. Paduan suara dari dalam bis terdengar begitu nyaring sampai-sampai memaksaku untuk membuka tas dan mengambil headset kecilku untuk dipasang sebagai penutup telinga. Sedikit menyebalkan memang namun paling tidak bisa memberikanku sedikit kenyamanan. Perlahan aku merasa semakin nyaman dan semua tampak semakin hening.
Entah sudah berapa lama aku hilang kesadaran, ternyata kudapati bis tengah berjalan. Oh, ternyata tadi aku tertidur dan tak menyadari bahwa kami sudah hampir sampai. Aku menoleh kearah kanan dan tampak seorang bapak-bapak berusia sekitar 40 tahunan berjaket hitam sedang duduk di sampingku. Ia tampak terdiam tenang sehingga akupun tak banyak berbicara.
***
Benar dugaanku. Pukul 17.40 kami sampai di terminal Kudus dan roda bis yang kami tumpangi memperlambat putarannya. Pintu bis terbuka dan gerombolan kaki manusia mulai berebut keluar tanpa aba-aba. Di tempat ini, manusia semakin banyak saja dan aku melangkahkan kaki menuju dekat lampu merah dengan niat ingin kembali melanjutkan perjalanan menggunakan taksi. Aku mengubah posisi tas punggungku untuk aku pakai di depan. Tangan kananku membuka resleting bagian depan tas dan berencana mengambil dompetku. Ternyata tak kutemukan keberadaannya. Awalnya aku biasa saja dan kembali mencarinya di bagian tas yang lain. Semua bagian tas sudah aku telusuri dan tampaknya memang dompet itu tidak ada. Aku mulai resah dan menurunkan tas itu kemudian mencoba untuk mencarinya dengan perlahan.
“Astagfirullah... dompetku hilang” bisikku dalam hati sambil mataku melirik kearah sekitar. Seingatku setelah tadi bayar ongkos tumpangan bis aku menaruh kembali dibagian tas paling depan dan saat ini sudah tidak ada. Meskipun isinya hanya KTP dan selembar uang seratus ribu dan beberapa lembar lima ribuan, namun itu satu-satunya modal untukku naik transportasi ke rumah. Sempat terbesit dalam pikiranku bahwa laki-laki di sampingku ketika di dalam bis tadi adalah pelakunya, namun aku hilangkan pikiran itu untuk tidak seudzon kepada orang.
“Allahu Akbar.. Allahu Akbar...”
“Allahu Akbar.. Allahu Akbar...”
Adzan magrib sudah berkumandang dan aku menjadi semakin bingung. Dalam kondisi seperti ini akupun tak punya bekal untuk berbuka sehingga aku hanya diam memandang lalu-lalang orang sekitar. Aku hanya berdiri ditepi jalan tak jauh dari lampu merah dan tak tahu ingin berbuat apa. Tiba-tiba seorang anak laki-laki berusia sekitar 10 tahun memegang tangan kananku sehingga mambuatku kaget.
“Kak, kakak ngapain disini ? kakak belum buka puasa ya? Ayo kak ikut Adam, kita buka puasa sama-sama” sapa bocah polos tengah memandangku mengajakku untuk berbuka bersamanya. Kondisi fisiknya begitu memprihatinkan dengan kaos lusuh yang aku yakin awalnya berwarna putih. Pikirku, apakah anak ini yakin hendak mengajakku berbuka bersama.
“Ha? Aku gak punya uang dek, nanti saja kakak berbuka di rumah” jawabku menolak karena mau bagaimana karena memang aku saat ini tak punya apa-apa”
“Ikut Adam dulu, ayo !” anak itu tetap mengajakku bersamanya. Ternyata tak jauh dari tempat itu, ia mengajakku parkir di sebuah teras toko elektronik yang tengah tutup beralaskan kardus bekas. Terlihat seorang wanita yang juga tampak duduk disana. Sempat kaget dengan kondisi wanita tersebut dimana secara fisik ia tidak memiliki kedua tangan dan hanya menatap kedatangan kami kearahnya.
“Kamu sepertinya tampak bingung ketika kami amati dari sini, rumahmu dimana?” sapa wanita itu dengan senyum ramah.
“rumah saya di gang sari deket pasar bu” jawabku sedikit canggung.
“Oh, lumayan jauh ya. Yasudah mari berbuka dulu bersama kami. Dari adzan tadi kamu terlihat belum membatalkan puasamu” kembali ia menawarkan dengan senyum. Bocah tadi tampak dengan semangat mengambil air dalam botol kemasan milikknya dan berkomat kamit baca doa sontak ia segera menuangkan dalam mulutnya. Setelah itu, disusul oleh wanita itu yang aku yakini adalah ibunya juga segera membatalkan puasanya. Aku terdiam dan tak tahu harus berbuat apa. Terlihat mereka hanya memiliki dua kemasan botol, satu bungkus nasi dan dua buah kerupuk dalam plastik.
“Mari minum, kamu ambi air di botol yang satunya” perlahan si anak mengambilkan botol kemasan yang dari awal belum mereka buka kemudian memaksaku untuk tidak menolak. Dengan bismillah aku meminum air itu dan lega sudah tenggorokanku yang sudah kering seharian tadi. Aku masih belum yakin bagaimana aku tega ikut berbuka puasa bersama mereka yang terlihat hanya mempunyai minim makanan berbuka.
Aku memang lebih banyak diam dan mengamati aktivitas mereka. Sempat wanita itu menawarkanku untuk ikut makan bersama dalam satu bungkus nasi berisikan satu buah telur didalamnya namun aku menolak dan mempersilahkan mereka untuk makan berdua. Aku kembali diam mengamati perilaku mereka. Apalagi yang paling membuatku terharu adalah perilaku anak itu yang ketika makan rela menyuapkan segenggam nasi untuk ibunya. Aku sempat merunduk mendongak ke atas menahan air mataku terjatuh karena benar-benar tak mampu menahan rasa haru dan sedih. Dalam kondisi mereka yang tengah dalam kesulitan ekonomi, bahkan makanan berbukapun mereka gunakan berdua namun masih sempat ada niat untuk berbagi dengan orang lain sepertiku. Disela makan, mereka masih sempat bercanda mengenai suatu hal dan sesekali membuatku ikut tertawa dan kadang kembali meneteskan air mata. Subhanallah baru kali ini aku jumpai suasana seperti ini.
Setelah semakin akrab, aku mencoba berbincang-bincang dengan mereka mengenai kehidupan mereka dan aktivitas sehari-hari mereka. Begitupun mereka bertanya demikian kepadaku.
“Kami ini bukan pengemis. Ibu mencari rizki dengan berjualan koran disekitar lampu merah disini. Meskipun tanpa lengan, ibu masih bisa kok. Para pembeli koran juga belum pernah ada yang berbuat jahat ataupun yang lainnya. Kalau ini anak ibu, namanya Adam. Sebenarnya ibu tak ingin melibatkan dia dijalan, namun dia sendiri yang memaksa untuk ikut kesini dan menjadi tukang semir sepatu. Suami ibu sudah meninggal ketika Adam berusia 6 tahun sehingga memaksa kami untuk berjuang mencari nafkah sendiri” wanita itu mulai menceritakan kehidupannya tanpa ada rasa sungkan ataupun malu terhadapku. Anak itu dipanggil Adam, sama seperti ketika ia menyebutkan namanya saat pertama menyapaku kala tadi. Aku menatap Adam tengah terdiam sambil menunduk dan mengorek-orek tanah dibawahnya dengan potongan ranting yang ada.
“Kami memang orang miskin, tapi kami tak mau orang lain kasihan kepada kami sehingga kami diberikan uang sebagai pengemis. Kami menolak untuk itu dengan alasan kami ingin mencari uang dengan bekerja semampunya, meskipun hanya sebagai penjual koran dan tukang semir sepatu. Meskipun hasilnya tidak seberapa tapi kami senang menjalani hidup ini karena kami yakin Allah masih ada bersama hamba-hambaNya yang mau berusaha.” Lanjutnya. Aku ikut menunduk dan membandingkan dengan kehidupanku yang sekarang dimana bisa dibilang aku jarang bersyukur atas apa yang aku punya.
“Lalu, mengapa tadi ibu masih nekad berbagi makanan denganku? Padahal untuk kalianpun makanan itu masih kurang.” Tanyaku dengan berani. Aku memandang wajah wanita itu dan dengan sabar menunggu jawabannya.
“Kami juga ingin berbagi rejeki. Meskipun banyak orang-orang yang lebih punya, namun kami tak tega jika melihat orang lain juga susah. Tadi ibu melihat sepertinya kamu belum punya makanan untuk berbuka. Meskipun seadanya namun paling tidak kami bisa ikut berbagi. Kami tahu bagaimana rasanya ketika kita tidak punya dan tak ada orang lain yang peduli. Tidak apa-apa nak kami senang bisa berbagi.” Jawabnya dengan serius dan sempat membuatku kembali mendongak menahan tumpahan air mata yang dari tadi memaksa untuk keluar.
Dia menanyakan kondisiku tadi ketika aku hanya berdiri dipinggir jalan tatkala keluar dari bis dan mendapati dompet milikku telah dicopet. Meskipun sempat menawarkanku beberapa lembar uang lima ribuan dan seribuan yang sepertinya dari hasil menjual koran dan semir sepatu untuk aku gunakan naik transportasi menuju rumah, aku otomatis menolak. Mana mungkin dengan tega aku mengambil rejeki orang yang jelas-jelas bukan didapat dari cara yang mudah. Setelah cukup lama berbincang dan puas bertanya tentang kehidupan masing-masing, aku berencana untuk pamit pulang meskipun aku masih belum tahu dengan cara apa.
Jam menunjukkan pukul 18.25 dan aku segera pamit meninggalkan mereka tanpa lupa mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya, lalu aku berjalan kembali menuju pinggir jalan. Aku kembali menoleh kearah mereka dan ternyata mereka masih mengamatiku dengan senyum. Aku kembali diam karena bingung mau berbuat apa. Mustahil rasanya aku pulang dari terminal dengan jalan kaki. Hahaha mungkin bakal berjam-jam baru sampai rumah, belum lagi pasti lelahnya minta ampun. Tak lama, seorang bapak-bapak memakai topi merah dan berjaket hitam tengah mengendarai sepeda motor menuju kearahku.
“Ojek mas?” sapanya yang ternyata adalah tukang jasa ojek.
“Duh pak, saya gak ada uang. Dompet saya kena copet pas di bis tadi” jawabku dengan santai dan menceritakan apa yang saya alami.
“Rumahmu dimana?” tanyanya kembali
“Gang sari pak, deket pasar Kliwon” jawabku singkat.
“yasudah, mari ikut. Gapapa gak usah bayar. Kebetulan ini rumah saya lewat pasar dan ini saya juga sudah mau pulang. Sudah mau isya’ juga kan, nanti keburu telat tarawih. Mari mas !” ajak bapak itu untuk menawarkanku ikut menumpang bersamanya sampai gang rumahku.
“Tapi pak, kan bapak tukang ojek. Masa gratisan? Tanyaku kembali
“Haha gak papa lah mas, sekali kali amal. Itung-itung berbagi” jawabnya jelas.
Lagi-lagi alasan ingin berbagi ia ungkapkan. Sedih rasanya hari ini sudah ada tiga orang yang kasihan denganku. Konyol memang. Aku sebenarnya bukan dari keluarga susah, tapi dalam kondisi ini aku memang perlu dikasihani. Karena sudah tidak tahu apa yang akan aku lakukan, aku tak mampu menolak bapak ini untuk ikut pulang sampai gang rumah. Tak lupa aku kembali melirik kearah Adam dan ibunya kemudian melambaikan tangan kepada mereka. Dan tak lama kami pun bergegas meninggalkan lokasi terminal.
Dalam perjalanan pulang aku terus memikirkan Adam dan ibunya. Terbesit harapan bahwa suatu saat aku ingin kembali bertemu dengan mereka dan ingin kembali berbagi kisah inspiratif dengannya. Ramadhan kali ini ternyata memberikanku sesuatu yang berbeda dan aku bersyukur Allah mempertemukanku dengan orang bijak seperti mereka. Bismillah, aku akan menjadi lebih baik kedepannya. Amiin.
***


“...Sadarlah akan apa yang ada disekelilingmu. Kadang apa yang kau pikirkan tentang mereka, ternyata berbeda dengan apa yang mereka pikirkan tentang kita. Dan disitulah kamu belajar arti makna yang sebenarnya...” – Imran.

*** 
“Barangsiapa meringankan kesusahan seorang mukmin di dunia, Allah akan meringankan kesusahannya pada hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan seseorang yang dalam keadaan sulit, Allah akan memberinya kemudahan di dunia dan akhirat. Barangsiapa menutup ‘aib seseorang, Allah pun akan menutupi ‘aibnya di dunia dan akhirat.Allah akan senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim)

1 komentar:

bisot mengatakan...

Nice storu :) trims sudah berbagi

Posting Komentar